Aktivis Adlun Fiqri ditetapkan jadi tersangka

JAKARTA, Indonesia — Aktivis literasi Adlun Fiqri ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menyebarkan ajaran Marxisme, Leninisme, dan komunisme melalui media sosial, pada Jumat, 13 Mei.

Sebelumnya, Adlun diciduk petugas Markas Kodim 150 di kantor Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Maluku Utara, pada Selasa malam, 10 Mei.

"Dia kena pembaruan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana buku 2 Bab 1 pasal 107 huruf a. Jadi mereka secara terang-terangan, di depan umum, menyebarkan pamflet dan kaus menjurus pada paham Marxisme, komunisme, dan Leninisme," kata juru bicara Kepolisian Daerah Maluku Utara, Hendri Badar, kepada media, Jumat, 13 Mei.

Pada perubahan Undang-undang No. 27 tahun 1999 tentang Perubahan KUHP pasal 107 huruf a disebut pelaku kejahatan yang mengancam negara bisa dihukum maksimal 12 tahun penjara.

Selain Adlun, rekannya yang bernama Supriyadi Sawai juga ditangkap untuk kasus yang sama.

Mengenai hal ini, pendamping Adlun dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ternate, Yahya Mahmud, mengaku belum mendapat kabar resmi. Ia sedang mempelajari keterangan polisi. 

Sedangkan, Ketua AMAN Abdon Nababan mengatakan pihaknya sedang membahas langkah untuk merespons penetapan tersangka Adlun.

"AMAN sedang membahas kemungkinan untuk mengajukan keberatan lewat praperadilan atas penangkapan, penahanan, penyitaan, penggeledahan, penetapan tersangka Adlun," katanya. 

Buku Adlun disita

Bersama Adlun, polisi juga menyita sejumlah buku dan kaus milik aktivis berusia 20 tahun ini. Barang-barang tersebut dianggap mengandung paham komunisme. 

Beberapa buku dan kaos yang disita dari kamar Adlun yakni:

Bebaskan Adlun

Setelah penetapan tersangka, dukungan mengalir untuk Adlun. Aliansi aktivis literasi meminta pemerintah untuk membebaskan Adlun.  

“Kami berharap Adlun dibebaskan dari segala tuduhan, karena menurut saya pribadi, pasalnya mengada-ngada,” kata anggota Dewan Kesenian Jakarta Komite Sastra Yusi Avianto Pareamon saat memberikan keterangan pers, Jumat, 13 Mei. —Rappler.com