Akhirnya, gajah Sumatera 'Yani' meninggal

BANDUNG, Indonesia – Setelah diberitakan secara luas oleh media, gajah Sumatera bernama Yani akhirnya mendapat pengobatan dari tim dokter Taman Safari dan RS Hewan Cikole Lembang Rabu sore. Namun usaha tim dokter tidak berhasil menyelamatkan gajah berumur 34 tahun itu.

"Ya (mati), tadi pukul 18.36 wib," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Sylvana Ratina saat dikonfirmasi Rappler pada Rabu malam, 11 Mei.

Menurut Sylvana, kondisi Yani saat ditangani dokter memang sudah sangat lemah. Tim dokter juga sempat membalikkan tubuh gajah betina itu untuk mengobati luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Sylvana menilai ada unsur kelalaian pihak pengelola Kebon Binatang Bandung dalam kematian Yani. 

"Yang lebih menyedihkan bagi kami, karena dari awal tidak dilaporkan ke BBKSDA," kata Sylvana.

Pihaknya, kata Sylvana, sempat melakukan bimbingan teknis dua bulan lalu. Saat itu, kondisi satwa di kebon binatang yang berlokasi di Jalan Taman Sari, Kota Bandung itu masih baik.

"Tetapi memang mereka tidak mempunyai dokter hewan.  Kami minta mereka segera memiliki dokter hewan, ternyata sampai saat ini masih belum ada," kata Sylvana.

Humas Kebon Binatang Bandung Sudaryo mengatakan dokter hewan kebun binatang tersebut mengundurkan diri tahun lalu dan manajemen belum berhasil mendapatkan dokter hewan yang dibutuhkan.

"Kita sangat sulit sampai hari ini.  Bukan tidak berusaha cari dokter sebab tidak hanya sekedar dokter hewan semata. Ini satwa liar,  ada (dokter hewan) khusus.  Silakan tanya ke Perhimpunan Dokter Hewan se-Indonesia bahwa tidak gampang mencari dokter spesialis," kata Sudaryo pada Rabu siang.

Dia juga mengatakan pihaknya berkonsultasi dengan dokter hewan panggilan dan ahli pawang dari Lampung mengenai kondisi Yani.  Upaya pengobatan seperti pemberian infus, vaksin, dan vitamin juga telah diberikan terhadap gajah tersebut  

"Seperti dikasih infus, kita sudah habis 6 kali yah kurang lebih.  Kemudian pemberian vaksin, vitamin, dan sebagainya. Tapi kan kita masih mencari penyakitnya bahwa yah yang namanya sakit kan, yah kami juga prihatin," kata Sudaryo.

Pemberitaan mengenai kondisi Yani mendorong Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk datang ke kebun binatang yang telah berdiri sejak 1930 itu.

Ia mengaku telah menawarkan bantuan agar pengelolaan Kebon Binatang Bandung lebih profesional. Namun, Ridwan sendiri kesulitan untuk membantu karena kebon binatang tersebut milik perseorangan yang menyewa lahan Pemkot Bandung.

"Sekarang saya sebagai wali kota memperbaiki banyak taman, ruang-ruang terbuka, sebenarnya kalau ada celah hukumnya, saya bisa perbaiki kebon binatang ini juga. Tapi karena ini disewa secara pribadi, ya saya kembalikan lagi kepada penyewanya yaitu Yayasan Kebon Binatang Bandung," kata Ridwan.

Kendala dana sempat mengemuka menjadi penyebab Kebon Binatang Bandung dikelola secara tidak profesional. Mengenai hal itu, Ridwan mengatakan, sebaiknya pihak kebon binatang membuka diri untuk dukungan dan bantuan dari pihak lain.

"Kalau memang tidak ada kesanggupan dari sisi anggaran, ya membuka diri aja terhadap bantuan ataupun dukungan investasi dari luar. Kan yang ingin kita hadirkan adalah sebuah tempat yang baik tidak hanya buat pengunjung tapi juga buat binatangnya," ujarnya.

Kondisi yang dialami Yani seperti menjadi bukti buruknya pengelolaan Kebon Binatang Bandung. Sudah sejak lama warga mengeluhkan kondisi hewan dan kandang yang tidak terawat di samping sarana dan prasarana yang minim.

Belakangan, muncul petisi "Save Bandung Zoo" di laman www.change.org. Petisi itu meminta agar pengelola memperbaiki kondisi Kebon Binatang Bandung agar lebih layak.

"Intinya masukan-masukan dari warga, baik dalam bentuk tertulis dan dalam bentuk petisi, saya kira harus diperhatikan dengan serius oleh pengelola kebon binatang," himbau Ridwan

Untuk mengetahui penyebab kematian Yani, tim dokter yang beranggotakan dokter hewan dari Taman Safari, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung, dan RS Hewan Cikole akan melakukan autopsi, Kamis pagi 12 Mei 2016. – Rappler.com