Anak perempuan yang diarak tanpa pakaian di Sragen meminta keadilan

Tanpa mengabaikan kasus pencurian yang dilakukan Rn, Sugiyarsi memandang pelaku tidak beradab. Mereka dilaporkan ke polisi dengan dugaan pelanggaran kekerasan terhadap anak, pencabulan, dan penyebaran konten pornografi lewat ponsel. 

“Saat dipindahkan ke rumah perlindung, Rn masih mengalami trauma psikis. Kami berikan terapi dulu, agar kondisinya kejiwaannya membaik,” kata Sugiarsi.

Di rumah perlindungan APPS, Rn menerima kunjungan saudara, tetangga, teman sekolah dan orang-orang yang bersimpati. Bantuan pakaian pun mengalir dari berbagai daerah. 

Beberapa orang mengajukan diri untuk menjadi orang tua angkat Rn, salah satunya sebuah yayasan sosial di Sukoharjo. Ada pula yang menawari biaya hidup dan sekolah sampai perguruan tinggi.

“Kami ingin Rn di shelter dulu setidaknya sampai kasus selesai. Kemarin kami sudah mendampinginya di BAP, dan akan kami kawal sampai di persidangan,” kata Sugiyarsi.

Meminta keadilan

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengunjungi Rn dan orang tuanya pada Minggu, 24 Januari. Kedatangan Kak Seto untuk memenuhi permintaan Rn yang sebelumnya ingin curhat kepadanya.

Namun, Rn tak kuasa bercerita saat bertemu Kak Seto. Ia hanya menyerahkan secarik kertas berisi tulisan tangannya kepada pencipta tokoh boneka Si Komo itu.

“Intinya anak itu meminta keadilan atas perlakuan (pengarakan). Ia juga mengkhawatirkan masa depan dan pendidikannya,” kata Kak Seto.

Secara pribadi, Kak Seto menawarkan bantuan biaya pendidikan Rn. Ia juga meminta penegak hukum menyelesaikan kasus ini sesuai UU Perlindungan Anak.

“Saya sanggup membiayai pendidikannya sampai lulus SMA. Kalau masih takut di sekolah formal, ya bisa pendidikan informal,” katanya.

Terpisah, feminis Jejer Wadon dan pemimpin redaksi Jurnal Perempuan Indonesia, Dewi Candraningrum, bereaksi terhadap kasus ini. Menurutnya, hukuman menelanjangi dan mengarak adalah bentuk pelanggaran hak anak, karena menyebabkan trauma dan merusak masa depan anak.

“Ini pelanggaran HAM berat. Polisi wajib menyelidiki dan menangkap para pelaku, karena mereka layak dihukum,” kata Dewi.

Empat tersangka

Saat ini Polres Sragen sedang memeriksa dua kasus sekaligus, pencurian dan pornografi-kekerasan terhadap anak. Sejumlah saksi sudah diperiksa, dan empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka – keluarga Sukamto yang mengarak Rn. Kecuali ibunya yang sudah tua, ketiga tersangka lainnya sudah ditahan polisi.

Pelaku merasa kesal dan naik pitam karena menurut pengakuannya telah kehilangan pakaian sebanyak enam kali. Sukamto menghukum Rn dengan mengaraknya telanjang untuk membuat jera.

Kapolres Sragen, AKBP Ari Wibowo, berjanji menangani kasus ini secara berimbang. Namun, karena kasus pencurian yang dilakukan Rn termasuk pidana ringan dan pelaku masih di bawah umur, kemungkinan akan dikenai diversi yaitu dikembalikan ke orang tua.

“Pelaku bisa dijerat dengan UU Pornografi dan UU Perlindungan Anak dengan ancaman 10 tahun penjara,” kata Ari.

Polisi juga menjaga rumah milik Sukamto dari amuk massa. Pekan lalu, ratusan orang dari Sragen mendatangi rumah itu untuk menyaksikan reka ulang kejadian. Namun, polisi membatalkannya karena khawatir massa tak terkendali melampiaskan kemarahannya. —Rappler.com

BACA JUGA: