Andika, anak buah Bahrun Naim, divonis 5 tahun penjara

JAKARTA, Indonesia — Seorang remaja asal Solo, Jawa Tengah, dihukum penjara lima tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pada Senin, 1 Februari 2016, karena terbukti terlibat dalam perencanaan serangan teroris di Jakarta pada Desember 2015 lalu.

Dalam membacakan amar putusan, majelis hakim mengatakan bahwa Andika (17 tahun) terlibat dalam perencanaan serangan teroris dengan sasaran tempat-tempat singgah warga asing dan kawasan elit di Jakarta.

Andika adalah satu dari 9 tersangka teroris yang ditangkap polisi sebelum Natal pada Desember 2015 setelah menerima informasi dari Polisi Federal Australia (AFP) dan Biro Investigasi Amerika Serikat (FBI). 

Bahrun dan perintah serangan Natal 

Nama Bahrun disebut-sebut dalam penangkapan empat orang simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, pada pertengahan Agustus 2015.

Keempat simpatisan ISIS yang ditangkap pada Agustus lalu adalah Ibad, yang diduga menerima dana dari Bahrun di Suriah; YK, yang disebut spesialis perakit bom; G yang disebut sebagai orang yang menyiapkan bahan peledak; dan Andika. 

Penangkapan dilakukan terkait dengan dugaan rencana peledakan kantor polisi dan bom di gereja. 

Dalam perkembangannya, Andika dilepaskan polisi dengan dalih salah tangkap. 

Namun pada Desember 2015, anggota Densus 88 kembali menangkap dua orang simpatisan ISIS di Bekasi, salah satunya adalah Andika. Ia ditangkap bersama rekannya, Nur Hamzah. Keduanya diduga mempunyai hubungan dekat dengan Bahrun. 

Andika terima ratusan juta rupiah dari Bahrun 

Bukti keterkaitan lainnya dari keterlibatan Andika dalam jaringan Bahrun Naim diungkap sumber Rappler di Solo, yakni Sekretaris Jenderal The Islamic Studi and Action Center Hendro Sudarsono yang juga bagian humas Laskar umat islam Surakarta, yang juga staf pengajar Pondok Al Mukmin Ngruki.

Hendro mengatakan Bahrun Naim memiliki hubungan yang cukup dekat dengan orang-orang yang ia kenal. Salah satu dari mereka adalah Ibad dan Andika.

Menurut Hendro, jaringan Bahrun Naim di Indonesia terdeteksi melalui aliran duit.

“Seperti dalam kasus Andika, menurut keluarga ada transferan ratusan juta rupiah dari Bahrun Naim,” kata Hendro. —Rappler.com. 

BACA JUGA: