Kisah 14 mahasiswa Indonesia yang tersesat di Gunung Alpen

JAKARTA, Indonesia — 14 mahasiswa Indonesia tersesat saat sedang mendaki Gunung Alpen, Jerman, pada 24 Mei 2015 lalu. Beruntung, pihak kepolisian setempat berhasil menyelamatkan mereka.

Operasi penyelamatan dilakukan dengan helikopter di ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut. Saat diselamatkan, para mahasiswa yang sedang menghabiskan waktu libur musim panas mereka ini berada di Lembah Watzmannkar, bagian Pegunungan Aplpen di dekat perbatasan Jerman dan Austria.

Veronica Primastuti, salah satu dari 14 mahasiswa tersebut, mengisahkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rappler, 27 Mei, melalui sambungan telepon.

15:00 waktu setempat: Rombongan memulai proses pendakian setelah makan siang terlebih dahulu. Mereka berjalan hingga sampai di sebuah jalan setapak sempit dengan tingkat kemiringan yang relatif tinggi. Jalan tersebut juga penuh dengan salju dan batu.

Setelah melalui jalan tersebutlah, rombongan menyadari bahwa mereka telah menempuh jalan yang salah dan keluar dari jalur pendakian yang seharusnya.

17:00: Sejumlah anggota rombongan melihat peta digital di ponsel pintar mereka masing-masing. Dari hasil pengecekan peta, mereka menyimpulkan bahwa saat itu rombongan berada di sebelah timur wilayah Hütte yang menjadi tujuan mereka.

Rombongan kemudian berjalan ke arah barat, berharap mereka akan kembali ke jalur menuju Hütte.

20:00: Belum ada tanda-tanda bahwa Hütte sudah dekat. Sementara itu hari menjelang gelap dan angin yang berhubung semakin kencang.

20:26: Menyadari bahwa keselamatan mereka terancam, rombongan akhirnya memutuskan untuk menelepon tim penyelamat. Melalui sambungan telepon, tim penyelamat meminta mereka untuk menunggu selama 30 menit.

20:56: Sebuah helikopter terlihat berada di atas lokasi rombongan. Veronica dan rekan-rekannya berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian helikopter tersebut. Sayang, helikopter terus melaju.

Veronica kemudian kembali menelepon tim penyelamat. Sang penerima telepon lalu menanyakan apakah ada anggota rombongan yang ponselnya terhubung dengan jaringan Internet. Pasalnya, tim penyelamat berencana mengirim pesan singkat berisi sebuah tautan yang akan menunjukkan lokasi mereka.

Skenario ini berhasil, lokasi Veronica dan ke-13 rekannya berhasil diketahui. Merekapun terselamatkan. Veronica mengaku tidak lagi mengingat waktu pasti sampainya tim penyelamat. Yang jelas, beberapa jam telah berlalu sejak sambungan telepon kedua.

Persiapan kurang matang?

Membaca berita tentang kejadian ini di media, terdapat anggapan bahwa rombongan Veronica ini melakukan pendakian tanpa persiapan yang matang. Salah satu indikasinya, mereka tidak membawa peralatan daki yang memadai.

Meskipun mengakui bahwa ia dan teman-temannya bukanlah pendaki berpengalaman, Veronica menegaskan bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dalam mempersiapkan pendakian ini.

“Kami pakai jaket yang pas, Wanderschuhe (sepatu gunung), dan tas yang baik. Kami juga sudah memilah barang bawaan agar tas kami tidak menjadi terlalu berat,” kata Veronica. —Rappler.com