Balada derita pendidikan anak pengungsi Syiah Sampang

SIDOARJO, Indonesia — Gemuruh riuh tawa riang anak-anak pengungsi syiah Sampang terdengar nyaring di Rusun Puspa Agro. Asalnya dari lantai 3. Di sana, puluhan anak tampak gembira, bersemangat mengikuti kelas pendidikan mitigasi bencana yang diberikan relawan dari Yogyakarta.  

Namanya juga anak-anak, ada yang asyik menyimak, ada juga yang abai. Dua relawan perempuan yang masih muda terlihat lelah menyuruh anak-anak ini untuk teratur dan duduk rapi. 

“Hey, ayo duduk-duduk ya,” kata seorang perempuan berjilbab putih secara berulang-ulang.

Usia mereka yang beragam, dari balita hingga umur belasan tahun, membuat anak-anak ini tak mudah diatur. Apalagi bagi mereka yang belum memasuki bangku sekolah. Mereka asyik dengan dunianya masing-masing, bermain-main, bercakap atau bersenda gurau.

Pada masa libur sekolah, mereka memang  tak ada kegiatan sama sekali. Di saat anak-anak sebayanya di tempat lain sibuk mengikuti sekolah agama untuk mengisi libur Ramadhan, anak-anak pengungsi Syiah tak bisa apa-apa. Gerak mereka masih dibatasi. Mereka hanya berharap pada kemurahan hati relawan untuk datang memberi kegiatan.

Sekolah yang tak dikelola serius

Foto oleh Ahmad Santosa/Rappler

Pemerintah setempat kurang begitu memperhatikan pendidikan anak-anak pengungsi ini. Janji Gubernur Jawa Timur, Soekarwo untuk membuat sekolah berstandar nasional di kompleks Rusun Puspa Agro masih isapan jempol belaka. Dinas Pendidikan Jawa Timur memang menyediakan sekolah di sana, tapi pengelolaanya masih main-main. 

Ada 4 ruangan di rusun seukuran 4x6 meter yang diubah menjadi seperti lazimnya ruangan kelas. Ada bangku, ada meja, ada papan tulis. Satu kelas untuk Pendidikan usia dini (PAUD), satu kelas untuk taman kanak-kanak, sisanya adalah sekolah dasar.

Mayoritas anak-anak pengungsi mengenyam pendidikan sekolah dasar. Ironinya, meskipun gratis, pembelajaran yang ada amatlah jauh berbeda dari kelas normal yang pernah mereka ikuti saat masih bersekolah di Sampang, Madura. 

Meski tetap mendapat ijazah dan rapor formal, serta memakai seragam putih merah saat masuk kelas, jam belajar yang didapat hanya 2,5 jam perharinya. “Masuk jam 8, pulang jam setengah sebelas,” ucap Iswatun, gadis kelas 4 SD. 

Tak adanya ruang kelas tambahan memaksa penggabungan kelas. 

“Untuk kelas satu, dua dan tiga digabung. Kelas 4, 5, 6 juga digabung. Satu hari diajar satu guru yang sama,” kata Iswatun. 

“Lebih enak sekolah di Sampang dulu, di sini tak enak. Belajarnya juga tak enak. Saya ingin pulang, kangen teman-teman,”  kata Subhan, teman sebaya Iswatun menimpali.

Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan selaku pihak yang berwenang, memberikan jawaban lain. 

“Kami tetap bertanggung jawab dengan melakukan pembimbingan sampai mereka ikut ujian nasional di kelas 6 nanti. Memang jam belajarnya tidak selama di sekolah formal, tapi Insya Allah memadai,” katanya singkat.

Kenapa anak-anak ini tak bersekolah di SD sekitar rusun? 

Gubernur Jatim Soekarwo berujar,  bila mereka bersekolah di sekolah umum dikhawatirkan malah akan memperkeruh suasana dengan masyarakat sekitar. 

Alasan berbeda diungkapkan Mustain. Menurut dia, pihaknya sudah memberikan restu, hanya saja orang tua dan anak-anak pengungsi bersikap ekslusif dan enggan keluar dari rusun.  

“Ya kalau mereka siap akan kami bantu, tapi selama ini kan mereka tidak mau. Jadi kami kirimkan guru untuk membimbing mereka di sana,” katanya. 

Diakui ada rasa traumatik yang diterima anak-anak pengungsi sampai sekarang. Rasa itu tak mudah dihilangkan. Imbasnya, anak-anak ini mudah merasa tidak nyaman bila berinteraksi atau berada di lingkungan yang asing. 

“Selain takut, ada juga faktor bahasa. Anak-anak ini belum terbiasa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Namun hal itu tak akan jadi soal jika dilakukan pendekatan secara bertahap,” ucap salah seorang pengungsi, Rohmah, 17 tahun. Rohmah biasa menemani para relawan sebagai penerjemah kepada anak-anak. 

Faktor lainnya adalah biaya pendidikan di luar yang cukup menguras kas. Tingkat pendidikan para orang tua jadi sebab mereka tak terlalu peduli dengan pengajaran yang didapat anak-anaknya. 

“Banyak orang tua beranggapan biaya di luar mahal. Lebih baik di sini saja gratis,” ucap Iklil Almelal, tokoh Syiah yang biasa jadi juru bicara pengungsi.

Di sisi lain, ada masalah pengurusan dokumen kepindahan sekolah yang dipersulit. Dalam beberapa kasus, masih banyak rapor anak pengungsi yang masih ditahan oleh sekolah asal. Rumitnya urusan itu membuat orang tua memilih menyekolahkan anak-anaknya dengan kondisi seadanya.

Namun, waktulah yang akan memaksa anak-anak ini untuk berani keluar dari rusun. Dalam soal ijazah formal, anak-anak ini akan tetap mendapatkan ijazah kelulusan seperti biasanya. 

Foto oleh Ahmad Santosa/Rappler

Sekedar lulus

Di masa-masa akhir bangku sekolah dasar, mereka akan dipaksa mengikuti kegiatan-kegiatan di SD terdekat, biasanya di SD Jemundosari 1.  Ujian nasional akan dilakukan di sana. Hasilnya? Anak-anak pengungsi ini mendapat nilai yang pas-pasan. Hanya bisa sekedar lulus.

Talisa baru saja lulus SD dan tahun ajaran musim depan dia akan menginjak bangku SMP. Tak adanya kelas SMP di rusun memaksa dia harus keluar. 

Tapi apa daya sampai sekarang dia masih kebingungan mau melanjutkan ke sekolah mana. Padahal mestinya dia sudah mulai mendaftar ke SMP karena ajaran baru akan dimulai bulan depan. Dia bingung, orang tuanya juga bingung. Belum ada perhatian dari Dinas Pendidikan akan nasibnya ini. 

“Saya gak tau mau sekolah di mana, bingung,” kata Talisa sambil geleng-geleng. 

Ada ketakutan yang dia ungkapkan saat hendak bersekolah di luar lingkungan rusun. Ada juga perasaan yang ingin dia bagi dengan orang-orang lain. Rasa yang sama dirasakan anak-anak pengungsi syiah Sampang lainnya.

Sebuah perasaan yang dalam, seperti yang tertulis dalam sebuah poster yang ditempel di depan pintu sebuah kelas. Isi poster itu berbunyi “Kami ingin belajar, kami ingin bersahabat.” — Rappler.com