Serunya ngabuburit naik Bandros di Bandung

Dari anak-anak hingga orang dewasa menikmati naik Bandros di Bandung. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Dari anak-anak hingga orang dewasa menikmati naik Bandros di Bandung.

Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

BANDUNG, Indonesia — Terdengar jeritan serentak saat kendaraan besar jenis bus itu melewati ranting-ranting pohon dan kabel yang melintang di atas jalan.

Para penumpang di lantai dua bus tingkat itu kompak merundukkan badannya agar terhindar sabetan ranting atau terjerat kabel listrik. Bukan salah pohon atau kabel, tapi memang bus yang disediakan Pemerintah Kota Bandung untuk melayani warga dan wisatawan keliling kota itu memiliki tinggi 3,15 meter. Terlebih lagi, lantai dua bus ini didesain tanpa atap.

Bus itu bernama Bandros, sebuah singkatan dari Bandung Tour on The BusBus Bandros dioperasikan untuk melayani wisatawan keliling Kota Bandung. Bandros juga dikenal sebagai nama makanan khas Parahyangan yang terbuat dari tepung beras dan kelapa.

“Asyiknya naik Bandros, selain bisa keliling Bandung, juga sekaligus menikmati wahana halang rintang,” seloroh pemandu wisata Rifki Rofiki melalui pengeras suara kepada penumpang Bandros, di suatu sore akhir pekan lalu.

“Seperti sudah saya sampaikan, banyak ranting pohon dan kabel, jadi harus selalu mendengarkan peringatan saya,” ujar pemuda 25 tahun itu yang mengaku sudah hapal titik mana saja yang akan dihambat oleh pohon dan kabel.

Perjalanan keliling Bandung dengan bus model double decker itu memang akan banyak menemui ranting dan dahan pohon yang menjulur ke badan jalan, juga kabel-kabel yang melintang tak beraturan. Tentu saja itu berbahaya bagi para penumpang. Ada sejumlah titik jalan dengan halang rintang seperti itu yang harus dilewati. Dan setiap kali melewatinya, suara jeritan penumpang pun terdengar lagi.

“Seru, waktu nunduk-nunduk menghindari pohon dan kabel. Lumayan, jadi lupa sama haus dan lapar,” celoteh Natasha Shayla, 11 tahun, saat ditanya pengalamannya naik Bandros Sabtu sore itu.

Natasha bersama 40 orang anggota keluarganya sengaja menyewa Bandros untuk ngabuburit, menghabiskan waktu hingga tiba waktu berbuka puasa nanti. 

“Kami sebetulnya domisili di Bandung. Tapi karena ini bulan puasa, kami cari cara asyik untuk ngabuburit," kata Rini Indraswari, 40, kerabat Natasha.

"Kami sengaja sewa Bandros untuk menghabiskan waktu dengan keliling Bandung hingga waktu buka puasa. Kebetulan setelah ini mau buka puasa bersama sekeluarga besar."

Selama bulan Ramadan, pengelola Bandros, Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung (BP2KB) Kota Bandung, memindahkan jam operasional Bandros dari pagi ke sore hari untuk melayani keinginan warga atau wisatawan yang ingin ngabuburit dengan Bandros.

Di bulan puasa ini, jam operasional yang biasanya dari pukul 08:00 hingga 13:00 menjadi pukul 14:00 hingga 16:00 wib.

“Dan hanya tiga rit, yaitu jam 2, 3, dan 4 sore,” kata seorang sopir Bandros, Dadang Sumardi.

Menurut pria 63 tahun itu, permintaan warga untuk naik Bandros di bulan puasa ini sangat tinggi. Bahkan, tiket sudah habis terpesan hingga 15 Juli 2015 yang menjadi batas akhir operasional Bandros di bulan puasa.

“Dari awal puasa sampai tanggal 15 Juli sudah habis dipesan. Padahal masih banyak orang yang ingin ngabuburit naik Bandros,” ungkap Dadang.

Sopir dan pemandu wisata Bandros berpose di depan bus. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Sopir dan pemandu wisata Bandros berpose di depan bus.

Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Sabtu sore itu, para penumpang berangkat dari pool Bandros di Taman Cibeunying menuju Jalan Diponegoro dan melintasi Gedung Sate, kantor gubernur Jawa Barat yang sangat bersejarah. Kemudian menuju Jalan Merdeka dimana berlokasi Balai Kota Bandung, kantornya walikota.

“Balai kota ini dulunya gudang kopi, yang kini menjadi kantornya Walikota Bandung Bapak Ridwan Kamil,” kata Rifki yang sudah setahun menjadi tour guide Bandros

Dari Jalan Merdeka, Bandros beranjak ke Jalan Lembong, Tamblong, dan Asia Afrika dimana para penumpang bisa melihat keindahan jalan tersebut yang sudah dilengkap dengan fasilitas taman, bangku antik, dan hiasan-hiasan bekas Peringatan Konferensi Asia Afrika ke 60, April lalu.

Dari Asia Afrika kemudian melintasi Jalan Braga, Naripan, Sunda, LLRE Martadinata, hingga kembali lagi ke Taman Cibeunying. Sepanjang perjalanan tour guide memberitahu penumpang tentang gedung-gedung bersejarah, tempat belanja, kuliner, dan hal-hal menarik lainnya terkait tempat yang dilewati.

Dan ngabuburit sore itu terasa lebih seru dan bermakna karena menambah wawasan tentang Kota Bandung.

Bandros juga untuk urai kemacetan

Bus Bandros diluncurkan oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil tepat pada pergantian tahun 2013 ke 2014 dengan tujuan melayani wisatawan mengunjungi tempat-tempat menarik di Bandung dengan rute melewati tempat-tempat bersejarah, kuliner, fesyen, bahkan tempat-tempat yang memiliki cerita urban legend, seperti SMA Negeri 3 di Jalan Belitung dan Rumah Kentang di Jalan Aceh.

Selain mengantar para wisatawan ke tempat-tempat wisata yang ada di Bandung, bus berpenampilan menarik ini juga diharapkan bisa mengurangi penggunaan mobil pribadi sehingga bisa mengurangi kemacetan yang terjadi di kota Bandung..Rencananya, bus ini akan disimpan di setiap hotel untuk membawa wisatawan ke tempat-tempat tujuan wisata yang ada di Bandung.

Saat ini, Pemerintah Kota Bandung baru memiliki 5 unit bus Bandros yang merupakan sumbangan dari pihak swasta melalui program corporate social responsibility (CSR). Bus yang tersedia dengan tiga warna menarik merah, biru, dan kuning ini dilengkapi dengan fasilitas GPS dan Internet. Ridwan Kamil menargetkan ada 30 unit Bandros yang akan dioperasikan.

Nantinya akan dioperasikan 30 unit bus wisata sejenis yang bisa meningkatkan daya tarik wisata Kota Bandung," kata Ridwan saat perluncuran bus Bandros di awal tahun 2014 lalu.

Tampilan dalam dan luarnya pun menarik. Bus ini didesain dengan gaya Art Deco. Dengan postur yang besar, Bandros memiliki panjang 7,47 meter, tinggi 3,15 meter serta lebar 2,1 meter. Bus tingkat ini bisa mengangkut sekitar 40 orang penumpang. 

Di tingkat bawah, penampilan bus layaknya sebuah bar yang dilengkapi dengan sejumlah kursi bulat dan kursi panjang dengan kapasitas sekitar 12 orang penumpang. Sedangkan di tingkat atas, tersedia 24 kursi penumpang. Di sini, penumpang bisa leluasa melihat pemandangan dari atas bus, karena tingkat dua didesain tanpa atap dan hanya dibatasi pagar layaknya balkon.

Bila ingin naik Bandros, tiket hanya bisa dibeli secara online dan dipesan melalui nomor 087736081998 untuk pemesanan grup (25-40 orang) dan perorangan (>25 orang) melalui WhatsApp di nomor 085793559911.

Informasi bisa didapatkan di Twitter @busBandros, Instagram @busBandros, dan Facebook BusBandros.—Rappler.com