Pertamina akan kuasai 70% kepemilikan Blok Mahakam

JAKARTA, Indonesia — Setelah menanti hampir 6 tahun, Pertamina akhirnya mendapatkan kepastian akan memiliki mayoritas saham Blok Mahakam, salah satu ladang gas terbesar di Indonesia. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengumumkan pada Jumat, 19 Juni, bahwa Pertamina mendapatkan 70% saham dari Blok Mahakam mulai 2018. Dari 70% tersebut, Pertamina diwajibkan memberikan saham maksimal 10% kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Kalimantan Timur. 

Sisa sahamnya, 30%, akan dibagikan antara dua operator yang mengelola Blok Mahakam saat ini Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation. Total dan Inpex sudah mengelola Blok Mahakam sejak 1967. Kontrak mereka berakhir pada 2017. Mereka telah mengajukan perpanjangan, namun Pertamina, sejak 2009 telah mengajukan proposal untuk mengambil alih Blok Mahakam.  

"Alasan di balik komposisi pembagian kepemilikan ini adalah kami ingin Pertamina berperan sebagai operator yang menguasai mayoritas kepemilikan. Kami juga ingin memberikan apresiasi terhadap operator saat ini yang telah menanamkan investasinya," kata Sudirman. 

Peraturan Menteri ESDM Nomor 15/2015 mengatur setiap wilayah kontrak yang habis secara otomatis dimiliki 100% oleh Pertamina. Pertamina kemudian dapat melakukan share down kepada pihak lain.  

Pada November 2014, Pertamina menegaskan niatnya untuk mengambil alih Blok Mahakam 100% pasca kontrak berakhir 2017. Namun belakangan, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan share down pada Total dan Inpex diperlukan untuk menjaga jumlah produksi Blok Mahakam. 

"Kami membutuhkan peran dari pemilik blok sebelumnya untuk mendudukan gambaran yang jelas. Hal ini agar semua pihak win-win solution," kata Dwi seperti dikutip Gatra.com.

Pertamina: Transisi segera dimulai

Merespon pengumuman pemerintah, Pertamina mengatakan akan segera mempersiapkan transisi yang ditargetkan selesai sebelum 2017, saat kontrak bagi hasil dengan Total dan Inpex berakhir.

Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, Pertamina akan melakukan persiapan untuk memastikan pengalihan kepemilikan mayoritas Blok Mahakam kepada Pertamina berjalan mulus pada awal 2018. Persiapan ini termasuk sistem pengadaan barang dan jasa penunjang operasi, pergantian sistem teknologi informasi, keuangan, novasi kontrak, dan alih kelola SDM.  

”Kepentingan utama Pertamina saat ini adalah untuk memastikan transisi berjalan dengan baik sehingga produksi Blok Mahakam dapat dijaga pada level optimal pada saat perpindahan operatorship nantinya," kata Wianda.

Mengapa Pertamina ingin mengambil alih Blok Mahakam?

Mengambil alih Blok Mahakam memang telah relatif lama menjadi keinginan Pertamina. Menurut Wianda, ada dua alasannya. 

Yang pertama, Pertamina ingin meningkatkan peran sebagai national oil company(NOC) dalam pengelolaan sumber daya minyak dan gas di tanah air. Menurut Wianda, baru 26% dari keseluruhan kapasitas produksi minyak dan gas di tanah air yang dikelola Pertamina. 

Persentase ini memang relatif rendah bila dibandingkan dengan rata-rata global. Merujuk pada studi bank dunia berjudul National Oil Companies and Value Creation yang terbit 4 tahun lalu, 75% produksi minyak dan gas dunia berasal dari NOC. Sedangkan 90% cadangannya juga dikuasai oleh NOC.

Yang kedua, Wianda mengatakan pertamina bisa meningkatkan kapasitas produksi Blok Mahakam. 

“Telah terdapat banyak bukti bahwa blok yang dialihkelolakan dari operator ke Pertamina justru meningkat jumlah produksinya. Contohnya di Blok West Madura Offshore (WMO) dan Blok Offshore Northwest Java (ONWJ),” kata Wianda. — Rappler.com dengan laporan dari AFP