Geng Motor Begal: Dari Depok hingga Makassar

Lika-liku begal motor

JAKARTA, Indonesia — Sepekan yang lalu, Selasa dini hari, 24 Februari, empat anggota begal motor melintasi Jalan Masjid Baiturrahim Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. 

Mereka menghadang Wahyu Hidayat dan Sri Triani dengan mengacungkan pedang samurai sambil meminta korban untuk berhenti. Salah seorang anggota begal bahkan membacok korbannya dengan samurai tersebut. 

Namun, aksi bengis pembegal itu tak mulus. Sri dan teman prianya melawan. Samurai yang diayunkan, ditangkap oleh Sri. Sepeda motor pelaku dan korban pun jatuh. Di saat itulah, Sri berteriak, dan warga pun berduyun-duyun menghampiri. 

Ditangkaplah pelaku begal tersebut. Ia dianiaya hingga dibakar. 

Begal motor yang makin merisaukan

Data Kepolisian Resor Kota Depok per November 2014 hingga Februari 2015, menyebutkan terdapat 15 laporan pencurian kendaraan bermotor, 8 di antaranya kasus perampasan motor di jalanan.

Pada bulan Januari 2015, terjadi beberapa kasus perampasan yang disertai penganiayaan hingga menyebabkan pengendara tewas. Antara lain: 

Aksi begal juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Selama bulan Januari hingga Februari 2015, tingkat kriminalitas di Makassar meningkat. Dari kasus jambret, perampokan minimarket hingga pembunuhan terjadi. 

Tercatat setidaknya paling sedikit 14 kasus. Korban-korban berjatuhan, mulai dari warga biasa hingga aparat kepolisian. 

Warga yang resah pun ramai-ramai menuangkan kegelisahan mereka melalui media sosial. Senin, 26 Februari, menjelang petang, tagar #MakassarTidakAman menjadi trending topic Indonesia di media sosial Twitter. 

Keresahan warga juga meluas di media sosial lain, seperti Facebook dan Path. Beragam screenshot mengenai kejadian-kejadian kejahatan yang terjadi di Makassar marak beredar. 

Sebuah video rekaman CCTV kejadian penikaman di depan sebuah minimarket juga beredar di YouTube dan jadi bahan perbincangan warga.

Kasus-kasus ini makin meresahkan mengingat usia pelaku kejahatan berkisar 15-21 tahun yang masih tergolong anak–anak dan remaja. Umumnya, para pelaku ini menggunakan kendaraan sepeda motor dalam melakukan aksinya sehingga media dan warga menyebutnya kejahatan ‘Geng Motor’. 

Pada 23 Februari lalu, aparat Polisi Sektor Kota Makassar terpaksa melakukan penembakan pada dua anggota geng motor yang diduga kerap melakukan perampokan. Penembakan itu dilakukan karena kedua tersangka berusaha melarikan diri. 

Penembakan terhadap tersangka pelaku kejahatan jalanan juga terjadi pada tanggal 25 Februari. Kedua tersangka penjambretan yang sebelumnya diamuk massa kemudian diamankan oleh aparat Polsekta Makassar. 

Saat akan melakukan pengembangan kasus, kedua tersangka melarikan diri. “Saat di jalanan, kedua pelaku berusaha kabur. Polisi pun terpaksa melumpuhkan kaki tersangka Usno sedangkan tersangka Aswar berhasil kabur,” tegas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Barat, Komisaris Besar Endi Sutendi.

Kriminolog: Begal tak akan bisa dilenyapkan

Alih-alih mengapresiasi langkah kepolisian, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan, begal motor tak mungkin dilenyapkan, hanya bisa dikurangi. 

“Kalau nol tidak mungkin, kota segede ini, ada indikasi turun, itu cukup,” kata Adrianus pada Rappler, Senin, 2 Maret 2015.

Salah satu alasannya karena begal motor adalah grup kriminal yang memiliki ikatan yang sangat kuat, karena rata-rata usia pembegal adalah remaja. 

Untuk mengurangi kejahatan begal motor pun, polisi perlu melakukan langkah-langkah strategis yang intensif. “Ya kalau mau jera, harus kompeherensif. Setelah diadakan penyelidikan, lakukan penelusuran yang lama, sanksi yang berat, juga keras, barulah kemudian ada efek jera,” katanya. 

Media sosial tak bakal banyak membantu

Adrianus juga menambahkan, bahwa media sosial tak bakal banyak membantu. Seperti gerakan #PulangKonvoi bersama. “Saya tidak terlalu percaya dengan kemanjurannya,” katanya. 

Karena fakta di lapangan sangat berbeda dengan apa yang digambarkan di sosial media. Justru, kata Adrianus,  media sosial hanya akan menambah rasa takut warga saja.  

Adrianus juga menyebut, intensitas begal yang makin menurun beberapa hari ini, bukan karena jasa media sosial. Tapi karena angka begal memang menurun sejak polisi memperketat pengamanan di lapangan. 

Polisi: Masyarakat harus mandiri hindari begal 

Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Ronny Sompie mengatakan, penanganan kasus begal motor sepenuhnya adalah wewenang kepolisian daerah, resor, hingga sektor. “Karena bukan kejahatan kerah putih, maka Polda hingga Polsek dianggap sanggup menangani kasus itu,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Polisi Resor Kota Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan, kejahatan jalanan seperti begal hanya bisa diredam melalui meningkatakan kewaspadaan para pemilik kendaraan. 

"Warga harus hati-hati (mengendarai motor) di jalan. Kalau bisa jangan di atas jam 12 malam, hindari tempat sepi, dan berhenti hanya di tempat terang dan ramai," katanya.

Kalau perlu konvoi bersama seperti gerakan yang digagas akun @pulangkonvoi. "Itu sangat membantu kepolisian," katanya. Ia berbeda pendapat dengan Adrianus. 

Selanjutnya, katanya, semua tergantung pada masyarakat. "Kami hanya preventif saja, semua dikembalikan pada masyarakat," katanya. —dengan laporan dari Mansyur Rahim (Makassar) dan Vento Saudale (Depok)/Rappler