Pelaku tidak dikenal berupaya bakar gereja di Purworejo dan Bantul

JAKARTA, Indonesia (UPDATE ke-2) — Pelaku tidak dikenal berupaya membakar dua gereja: Gereja Baptis Indonesia di Bantul dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Purworejo, Senin, 20 Juli 2015.  

“Sekitar pukul 05.30 WIB, sepulang dari berolahraga pagi, kami mencium bau bensin dan melihat kondisi pintu depan gereja sudah terbakar,” kata Pendeta GKJ Ibnu Prabowo, seperti dikutip Antara

Pintu depan gereja dan pintu sebelah barat gereja terbakar. Di lokasi kejadian, polisi menemukan sebuah pesan di secarik kertas bertuliskan “Pesan Mujahid Atas Tragedi Papua, Bakar Gereja se Jawa”.

Kapolres Purworejo, AKBP Theresi Arsida Septian mengatakan kasus tersebut masih dalam penyelidikan. 

Sementara itu, Gereja Baptis Indonesia di Saman, Bantul, dibakar oleh orang tak dikenal, di hari yang sama. 

“Dinding bagian depan gereja hangus,” kata Aiptu Kamal, bagian Pelayanan Polres Bantul, pada Rappler, Selasa, 21 Juli. 

Menurut Polres Bantul, saksi berinisial Yh melihat 4 orang mencurigakan mengendarai dua motor lalu-lalang di depan gereja sekitar pukul 02.15 WIB. Setengah jam kemudian, saksi melihat bangunan terbakar.

Yh minta tolong warga sekitar untuk memadamkan api sehingga tidak meluas. Pukul 03.00 api berhasil dipadamkan. Dari ban yang hangus terbakar di depan gereja, tercium bau bensin. 

"Masih diselidiki pelakunya. Yang jelas, kami tingkatkan pengamanan. Patroli ditingkatkan 24 jam di seluruh Yogyakarta," kata Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti, Selasa, 21 Juli.  

Peristiwa ini terjadi 6 hari setelah Front Jihad Islam (FJI) menggeruduk gereja dan meminta gereja tersebut ditutup karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Gereja ini sedang dalam proses mengurus IMB. 

"Rumah tinggal tidak boleh jadi tempat ibadah, itu imbauan Polri," kata Komandan Laskar FJI Abdurahman

Polisi berusaha menenangkan massa dari Front Jihad Islam (FJI) agar tidak menyerang Gereja Baptis Indonesia di Saman, 14 Juli 2015. Foto dari  http://humaspolresbantul.blogspot.com

Polisi berusaha menenangkan massa dari Front Jihad Islam (FJI) agar tidak menyerang Gereja Baptis Indonesia di Saman, 14 Juli 2015. Foto dari http://humaspolresbantul.blogspot.

com

Pada Sabtu, 18 Juli, ratusan massa Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) juga meminta penutupan rumah ibadah miliki Gereja Injil di Indonesia (GIDI) di Kelurahan Joyotakan, Solo. Alasannya sama, gereja yang sudah digunakan selama 15 tahun tersebut diduga tidak memiliki izin.  

“Sebenarnya kami sudah tahu lama gereja itu tidak berizin. Tapi karena momennya kemarin di Papua ada pembakaran masjid, kami langsung ingat,” kata perwakilan LUIS, Joko Sutarto, seperti dikutip media.  

"Yang kami tahu, izinnya hanya rumah pribadi bukan rumah ibadah. Makanya kami minta segera ditutup."

Rumah tersebut dimiliki oleh seorang warga Papua bernama Gren Kirenius. Dia tidak berada di rumah saat kejadian. 

Meski penolakan terhadap kedua gereja tersebut bukan hal baru, insiden pembakaran dan permintaan penutupan tersebut terjadi setelah insiden pembakaran musala di Tolikara, Papua.

Hal ini bukannya belum diantisipasi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua telah menyerukan umat Islam agar tidak menjadikan peristiwa Tolikara sebagai alasan untuk melahirkan kekerasan baru atas nama jihad. — Rappler.com