Gitaris Black Sabbath surati Jokowi hentikan hukuman mati

JAKARTA, Indonesia — Gitaris dan penulis lagu band rock legendaris Black Sabbath, Tony Iommi, menulis surat kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo terkait eksekusi mati terpidana kasus narkoba.

Iommi, yang mengaku pernah menjadi saksi langsung kebrutalan narkoba dalam hidupnya, meminta Jokowi memaafkan pemimpin sindikat narkoba asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Ia tahu betul bagaimana efek narkoba terhadap orang sekitar dan keluarga pengguna. Maka dari itu, ia memberanikan diri menulis surat kepada Jokowi.

“Sistem pemasyarakatan Indonesia telah berhasil dalam mengubah Andrew dan Myuran. Saya memohon kepada Anda, sebagai seorang pemaaf, untuk mencatat perubahan mereka,” tulis Iommi dalam suratnya.

Menurut media di Australia, surat tersebut telah diterjemahkan dan diantar secara langsung oleh perwakilan pemerintah Australia ke tangan Jokowi, Rabu, 4 Maret 2015.

Namun demi alasan pencegahan korupsi, bass tersebut harus dilelang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam masa kampanye pemilu tahun lalu, Jokowi mendapatkan dukungan dari musisi internasional seperti rocker kawakan Sting dan musisi yang peduli isu hak asasi manusia Jason Mraz.

Saat Jokowi dinobatkan sebagai Presiden RI ketujuh, ucapan selamat mengalir dari pentolan band metal asal Amerika Serikat, Lamb of God.

Bahkan berita kemenangan Jokowi pun diliput oleh situs Metal Hammer. Judul beritanya: Anak metal memenangkan pemilu presiden Indonesia.

Jokowi memainkan bass yang diberikan oleh bassist band Metallica. Foto oleh AFP

Jokowi memainkan bass yang diberikan oleh bassist band Metallica.

Foto oleh AFP

Kini, setelah menjabat, para musisi ini juga berharap Jokowi menunjukkan belas kasihan kepada terpidana mati.

“Mereka adalah orang-orang yang telah direformasi yang membuat perbedaan positif bagi kehidupan sesama tahanan. Bahwa mereka telah berubah begitu banyak adalah suatu nilai lebih yang nyata untuk pemerintah Indonesia,” kata Iommi dalam suratnya.

“Untuk alasan ini, saya meminta Anda untuk menghentikan eksekusi mati Andrew dan Myuran,” tutupnya.

Iommi pun berharap Jokowi menurunkan vonis Chan dan Sukumaran untuk penjara seumur hidup. 

Napalm Death, Temper Trap minta Jokowi hentikan hukuman mati.

Ramai-ramai surati Jokowi 

Surat Tony Iommi bukan yang pertama diterima Jokowi. Dougy Mandagi, vokalis band asal Australia, Temper Trap, turut menyuakan hal yang sama melalui akun Facebook. 

"Menjadi warga Australia dengan latar belakang Indonesia, saya benar-benar malu dengan kegigihan Presiden Indonesia terhadap hukuman mati dengan tujuan memenangkan popularitas," tulis Dougy yang berdarah Indonesia.

"Tolong Tuan Presiden, kami memohon kepada Anda. Sekalinya ini dilakukan, tidak akan bisa kembali. Jangan biarkan ini menjadi warisan Anda," sambungnya.

Bulan Januari lalu, vokalis band Napalm Death, Mark “Barney” Greenway, juga pernah mengirimkan suratsenada kepada Jokowi.

"Sebagai penggemar band Napalm Death, seharusnya Anda menghargai lirik kami dan tantangan ideologi dari mata rantai kekerasan di dunia yang tidak terputus ini, baik yang dilakukan oleh negara atau individu. Jika hal itu tidak berubah, saya percaya kita tidak akan maju sebagai manusia," tulis Greenway dalam suratnya.

Jokowi pernah berulang kali difoto mengenakan kaos Napalm Death di situs-situs berita dan musik metal.

Selain musisi-musisi kenamaan luar negeri, Jokowi juga dipetisikan untuk segera menghentikan hukuman mati oleh sejumlah organisasi kemanusiaan di dunia. Petisinya bisa dibaca di sini.

Tercatat ada 43 negara pada 3 Maret yang menandatangani surat terbuka kepada Presiden Jokowi. Mereka meminta pemerintahan Jokowi untuk tunduk pada Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN HRC) yang menyetop segala bentuk hukuman mati. —Rappler.com