Jakarta tak siap banjir, Ahok minta maaf

 JAKARTA, Indonesia — Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akui bahwa Jakarta belum siap menghadapi banjir dan meminta maaf kepada warga Jakarta. 

"Jadi kita harus akui, pertama kita harus minta maaf kepada warga DKI, kami selama dua tahun ini baru bisa menyelesaikan aliran tengah," kata Basuki, yang dikenal juga sebagai Ahok.

Menurutnya pemerintah Jakarta sudah bekerja keras dalam upaya menanggulangi banjir, tapi ada beberapa masalah yang belum teratasi. 

“Makanya kami minta maaf, kami sudah kerja keras. Bukan mengatakan lebih baik, tapi banyak daerah banjir yang sekarang cuma sebentar sudah surut,” katanya. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menyebutkan ada 49 titik genangan di seluruh Jakarta. Beberapa pintu air sudah dinyatakan Siaga 1. 

Menanggapi banyaknya protes masyarakat soal banjir, Ahok mengatakan itu hal yang biasa.

“Kalau kamu memang lebih pintar, kamu calon gubernur 2017. Kalau saya nyalon lagi, nantan saya dengan program Anda. Kita lihat, masyarakat lebih percaya omongan bual besar Anda atau saya,” kata Ahok seperti dikutip media.

Menurut Ahok inilah tiga penyebab banjir masih terjadi di Jakarta:  

1. Masalah pompa air

Ahok mengatakan jumlah pompa yang terbatas, banyaknya pompa yang rusak dan pemutusan listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengakibatkan pompa tak berfungsi menjadi penyebab banjir tak kunjung surut. 

Khusus di masalah yang terakhir, Ahok hari ini menemui Presiden Joko Widodo agar dia meminta Presiden agar memerintahkan PLN untuk tidak memutuskan listrik di kawasan utara Jakarta karena lokasinya di bawah permukaan laut. 

“Saya minta presiden, tolong bantu segala cara kasih tahu PLN harus ada listrik-listrik untuk pompa-pompa di utara,” kata Ahok. “Presiden akan bilang PLN khusus pompa-pompa di utara, tidak ada toleransi dimatikan.”

Kawasan utara Jakarta mengalami banjir terparah dengan air merendam sampai 1,2 meter.

Sementara itu banyak pompa menurutnya jadi rusak karena dipaksa bekerja terus menerus. 

“Ibaratnya tuh pompanya ngambek dan macet. Kalau dipompa terus sampai malam terlalu panas, jadinya enggak kuat lagi,” kata Ahok seperti dikutip oleh media. “Pompanya jadi tidak cukup dan kapasitasnya jadi sedikit.”

Untuk kawasan Jakarta Barat yang juga banyak daerah terdampak, Ahok berencana untuk menempatkan satu pompa di samping Central Park. 

 

2. Pembebasan lahan untuk waduk dan sodetan yang terhambat 

Ahok mengatakan bahwa banyak upaya untuk pengendalian banjir di Jakarta terkendala dengan pembebasan lahan dan maraknya bangunan ilegal. 

“Waduk (Pluit) juga belum kami dalamin. Waduk itu harusnya bisa tampung 1,5 kubik air. Kita mau sedot, dalemin. Tapi kan kasihan rumah-rumah rubuh. Kita lagi siapkan rusun. Tapi bertahap kita bersihin kok,” kata Ahok di istana.

Menurutnya ada sekitar 5,000 rumah di sekitar Waduk Pluit.  

Selain itu, Ahok juga mengeluhkan kesulitannya membebaskan tanah. 

“Kadang masyarakat egois enggak mau ngasih sodetan di dataran tinggi. Saya mengerti ini terkait psikologis, dulu sebelum Waduk Pluit (dinormalisasi), kamu (warga Pluit) enggak rela, tempat yang lebih tinggi disodet, karena kamu yakin sodetan selesai airnya balik lagi ke tempat kamu. Sekarang kami berusaha meyakinkan mereka lagi.”

 

3. Faktor alam yang tak terhindarkan 

Ahok mengatakan bahwa penyebab lain dari banjir di Jakarta adalah faktor alam, yakni pasang surut air laut yang menyebabkan rob setinggi 2,1 meter dan hujan dengan intensitas tinggi. 

“Drainase kita baik, ini karena rob,” katanya kemarin seperti dikutip media. “Selama tanggul tidak ada, akan tetap sama.”

Tanggul penahan tersebut rencananya akan dibangun tahun ini. 

Ahok juga mengatakan bahwa intensitas hujan tinggi membuat banjir tak terhindarkan. 

“Kita tidak sangka, hujan begitu besar volumenya,” kata Ahok. — Rappler.com