Kakak adik itu meninggal di kecelakaan Hercules yang berbeda

SLEMAN, Indonesia— 5 Oktober 1991, pesawat Hercules C-130 yang ditumpangi Sudiyono (22) dari Jakarta menuju Bandung jatuh. Saat itu juga Sudiyono, warga Kalongan, Maguwoharjo, Depok, Sleman meninggal dunia. Seluruh keluarganya berduka, termasuk adik bungsunya, Saryanto.

Saryanto begitu dekat dengan Sudiyono. Meski terpaut usia cukup jauh, ia selalu memimpikan bisa menjadi seperti kakaknya. Sejak melihat Sudiyono mengenakan seragam kebesaran taruna Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), Saryanto pun bertekad kelak jika dia dewasa akan menjadi taruna AURI.

Cita-cita itu pun tercapai. Setelah lulus SMP, dia diterima di STM Penerbangan Adi Sucipto. Lulus dari sana, dia mendaftar sebagai taruna Akademi Angkatan Udara. 

“Dia itu ingin masuk AU juga karena almarhum kakaknya. Dia ingin seperti kakaknya. Alhamdulillah sekarang sudah kesampaian,” kata Muryanto (48), kakak Saryanto saat ditemui di rumahnya, Rabu 1 Juli 2015.

Sayangnya, cita-cita Saryanto itu membawa nasib serupa dengan sang kakak, Sudiyono. Dua puluh empat tahun setelah kakaknya meninggal, Saryanto yang berpangkat Kopda ini tewas dalam kecelakaan serupa. Dia meninggal di usia 38 tahun. 

 Karangan bunga di depan rumah Saryanto. Foto oleh Mawa Kresna/Rappler

Pada Selasa, 30 Juni 2015, pesawat Hercules C-130 yang terbang dari Medan ke Tanjung Pinang jatuh setelah beberapa menit lepas landas. Saryanto salah satu prajurit yang ada di pesawat itu.

"Sayangnya, kok nasibnya sama dengan kakaknya, kami sekeluarga merasa betul-betul terpukul," ujar Muryanto.

Kejadian itu membuat keluarga besar Saryanto kembali merasakan duka yang mendalam. 

Firasat anak Kopda Saryanto

Jasmin Alia Afifah, putri pertama pasangan Saryanto dan Anna Werdiningsih (30) yang baru berusia 7 bulan, menangis tak henti-henti. Itu terjadi sehari sebelum ayahnya pergi dengan pesawat Hercules C-130 yang akhirnya kecelakaan di Medan.

Seolah mendapat firasat buruk, Jasmin terus menangis. Namun begitu sang ayah menggendongnya, Jasmin langsung diam dan tertidur. Anehnya, saat hendak diletakan di kasur atau digendong ibunya, Jasmin kembali menangis. Dia seolah tidak ingin lepas dari gendongan sang ayah.

Ketika sang ayah sedang mengemas pakaiannya, Jasmin merangkak mendekat dan mengacak-acak pakaian milik ayahnya yang sudah disusun rapi di atas tempat tidur.

“Jadi saat bapaknya sedang mengepak baju siap-siap mau berangkat, diabul-abul (diacak-acak) lagi. Terus seperti itu sambil nangis-nangis seperti dilarang untuk berangkat,” ujar Suroso (53) salah satu kakak Saryanto.

Namun tangis Jasmin tidak ditangkap oleh keluarga. Saryanto tetap berangkat.

Suroso pun masih tidak percaya jika dua adiknya, yaitu Sudiyono dan Saryanto harus bernasib sama. “Di keluarga hanya ada dua yang menjadi TNI AU, Saryanto dan kakaknya Sudiyono. Dua-duanya sudah meninggal, sama-sama karena kecelakaan Hercules,” ujarnya.

Saryanto sendiri merupakan anak bungsu bersaudara. Saat kecelakaan dia bertugas di Pekanbaru Riau. Dia meninggalkan seorang istri dan anak perempuan. Bulan Mei lalu Saryanto baru saja memboyong istri dan anaknya dari rumah mertuanya di Sambilegi, Maguwo, Sleman ke Riau. —Rappler.com