Menjadi gay di ibukota

Ketika Dimas mengatakan “Aku mencintaimu” kepada Reuben yang dibalas dengan ungkapan yang sama romantisnya dalam film Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh garapan sutradara Rizal Mantovani, hampir semua penonton di dalam bioskop tertawa riuh. Di sela tawa yang cukup panjang, sesekali terdengar desah jijik dan geli dari beberapa kursi tak jauh dari tempat saya duduk diam: menghayati salah satu momen yang paling berharga yang bisa terjadi dalam hidup manusia.

Jatuh cinta sepenuh hati dan membuatnya tersuarakan.

Suara tawa itu terdengar di beberapa adegan yang menampilkan Dimas dan Reuben. Meskipun cukup terganggu, saya bertahan karena tidak rela menyia-nyiakan tiket film yang telah saya beli.

Yang membuat gusar bukanlah kenyataan bahwa film adaptasi novel karangan Dewi “Dee” Lestari itu ternyata jauh dibawah ekspektasi saya (harus saya tekankan disini, mungkin buku itu seharusnya tak pernah difilmkan) namun lebih pada reaksi publik dalam ruangan remang-remang itu terhadap sepasang kekasih gay yang terang-terangan menunjukkan kemesraan mereka lewat cara-cara manusiawi (dan saintifik).

Reaksi tersebut dapat berarti banyak. Namun hal utama yang saya tangkap adalah sebuah ketidakterimaan manusia modern (bahkan) Jakarta untuk terbuka dalam menyikapi pasangan sesama jenis. Dapat juga berarti ketidakbiasaan. Bahwa reaksi demikian adalah produk dari budaya umum di Indonesia yang sepertinya mengharuskan manusianya untuk bereaksi demikian, sebab jangan lupa, agama-agama agung di luar sana menajiskan hubungan sesama jenis.

Apapun artinya, untuk saya malam itu, telah terjadi sebuah pelanggaran hak asasi manusia (bukan karena semata-mata saya menyukai buku Dee, walaupun saya harus mengulang lagi bahwa bukunya sebaiknya tak difilmkan). Tawa itu terdengar seperti suatu cemooh, seperti ketika seseorang mengatakan sesuatu yang konyol atau tidak senonoh. Padahal, menurut saya, salah satu hak dasar manusia adalah bahwa ia mendapat kepastian untuk mencintai dan dicintai, dan mengekspresikan cinta, terlepas dari jenis kelamin dan atau orientasi seksual yang ia miliki.

Namun sepertinya masyarakat Indonesia (pada umumnya) belum sampai pada pemahaman ini.

Seringkali kaum gay dimarjinalkan dalam lingkup sosial kita. Meski beberapa komunitas telah menganggap biasa hal tersebut dan beberapa orang yang saya kenal telah mendeklarasikan dirinya sebagai gay namun kaum ini tidak seluruhnya mendapat tempat di negara kita, Indonesia, yang terkenal dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Bahkan, sebuah qanun (peraturan daerah) di Aceh mengatur hukum cambuk bagi pasangan homoseksual jika ketahuan oleh polisi syariah. Hal ini tidak adil, setidakadil pasal yang mengatur pemerkosaan dalam qanun tersebut yang merugikan perempuan.

Dan terkadang bukan hanya pandangan sebelah mata, bahkan paranoia pun turut melengkapi pelabelan kaum gay ini.

Seorang teman pernah berkata bahwa ia tidak menyukai kaum gay karena menurut dia kaum tersebut “dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya”. Pernyataan teman saya bernada menuduh bahwa seolah-olah kaum gay meminta untuk dilahirkan sebagai gay ketika dalam rahim ibunya, untuk menghasut pria di seluruh dunia untuk menjadi homoseksual.

Budaya Indonesia (yang katanya budaya Timur) mungkin sulit untuk menerima hal-hal kompleks semacam ini karena berpotensi bertubrukan dengan nilai-nilai moral, kultural, dan relijius yang telah dianut selama ratusan tahun. Namun, menurut saya, ketika kita hendak berbicara mengenai privasi, rasanya tidak senonoh untuk semerta-merta menyatakan perang dan menjadikan mereka sampah publik hanya karena pilihan hidup.

Kaum gay adalah sama halnya dengan laki-laki dan perempuan. Mereka adalah spesies manusia yang sama dengan manusia lainnya di dunia. Mereka adalah makhluk Tuhan yang juga berhak untuk mencintai dan dicintai.

Mereka, sama seperti manusia lainnya, berhak untuk bilang: “Aku mencintaimu”. —Rappler.com

Karolyn Sohaga adalah seorang aktivis sosial yang memiliki minat pada sastra, isu perempuan, dan hak asasi manusia.