Pencarian korban longsor Pangalengan terkendala cuaca

BANDUNG, Indonesia (UPDATED)—  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menemukan korban kelima longsor  di Kampung Cibitung RW 15 Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang terjadi pada Selasa, 4 Mei 2015. 

“Info dari Tim DIV di Puskesmas Pangalengan, korban bernama Nurul. Jenis kelaminnya perempuan, usianya sekitar delapan tahun,” kata Marlan, Kepala Pelaksanaan BPBD Kabupaten Bandung, Kamis siang, kepada Antaranews.com.

Empat korban lainnya masih dalam pencarian di tiga sektor. Mereka adalah Wiwi (50), Dede (45), Neng (11), Ayi (42), dan Asep Juju (55).

Pencarian sempat dihentikan pada Rabu, 5 Mei karena kendala cuaca.

“Saat ini pencarian break dulu karena kabut mulai turun. Jarak pandang hanya 1 kilometer dan kelembapan mencapai 90 persen,” kata Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Hendrawan saat dihubungi Rappler, Rabu. 

Hingga Rabu, kata Hendrawan, 4 korban tewas berhasil dievakuasi. 

Mereka merupakan warga Desa Margamukti yang ditemukan pada Selasa malam. Mereka adalah Iran (50), Oja (65), Pardi (70), dan Naila (1).

Sementara itu, Yayan menjelaskan ada sekitar 110 orang warga yang mengungsi di Balai Desa Margamukti.  Menurutnya, kondisi pengungsi dalam keadaan baik. 

“Pengungsi kondusif, semua fasilitas yang diharapkan pengungsi terpenuhi, walapun tidak maksimal, seperti makanan, selimut, dan bahan pakaian,” terang Yayan.

Sebelumnya, bencana longsor yang terjadi Selasa siang itu juga menghantam pipa panas bumi Star Energi Geothermal yang berada di atas Kampung Cibitung sehingga menimbulkan ledakan. Material longsor menimbun 7 rumah warga dan mengakibatkan 5 rumah rusak berat. Di Kampung Cibitung terdapat 37 rumah dengan jumlah penduduk 200 jiwa.  

Bencana tanah longsor ini juga mengakibatkan kerugian materiil pada perumahan penduduk, dan mengakibatkan sedikitnya 4 korban jiwa dan 9 orang luka-luka. Material longsor menimbun 7 rumah warga dan mengakibatkan 5 rumah rusak berat. Di Kampung Cibitung terdapat 37 rumah dengan jumlah penduduk 200 jiwa.

Geothermal sudah diperingatkan

Potensi longsor sebetulnya sudah terdeteksi pada Maret 2015. Kepala Badan Geologi Surono mengaku pihaknya menerima laporan dari BPBD bahwa Maret 2015 potensi pergeseran tanah sudah terjadi. 

Pada akhirnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah Badan Geologi mendapatkan instruksi untuk meneliti adanya pergerakan tanah tersebut. 

Lalu sebelum terjadi longsor pada Sabtu, 2 Mei, juga telah terjadi retakan tanah sepanjang 150 meter dan lebar 250 meter.  

Di hari itu juga, Badan Geologi merekomendasikan melalui PVMBG agar warga mengungsi ke tempat lebih aman. 

Badan Geologi juga merekomendasikan kepada Star Energy untuk memindahkan pipa penghasil gas energi itu ke tempat yang lebih aman. Sebab pergeseran tanah yang terjadi dikhawatirkan merusak pipa. Namun rekomendasi itu belum sempat dilaksanakan.

"Sedangkan jalur pipa panas bumi PT Star Energi yang terletak pada zona gerakan tanah direlokasi dengan menjauhi gerakan tanah. Tapi rekomendasi itu kan baru tanggal dua, itu tidak mungkin juga langsung memindahkan pipa dalam waktu hitungan hari,"  kata Mbah Rono, panggilan akrabnya. 

Surono menegaskan, pipa meledak lantaran reruntuhan material yang merusak pipa penghasil gas tersebut.

"Yang perlu diluruskan itu adalah ledakan pipa karena terkena longsor, bukan karena ledakan sehingga menimbulkan longsor," tandasnya.

Akibat ledakan itu, material longsoran menjadi lebih banyak lagi sehingga menimbun sejumlah rumah penduduk dan perkebunan. Saat longsor terjadi warga sedang beraktivitas. Padahal sudah diperingatkan untuk menjauhi lokasi longsor. —Rappler.com