Kisah pilu pengungsi Rohingya Myanmar di Makassar

Namanya Kabir Ahmad. Lelaki kelahiran Myanmar,1 Januari 1971, ini terpisah dari keluarganya akibat konflik etnik Rohingya. Menurut penuturan Kabir, etnik Rohingya tak bisa berkembang di Myanmar karena pertikaian agama.

Di negara asalnya, Kabir bekerja sebagai petani dan juga memelihara ikan dalam kolam. Kini ia mengungsi di Makassar, Sulawesi Selatan, sejak meninggalkan tanah kelahirannya 25 tahun silam.

Sekitar pertengahan tahun 2012 lalu, meletus serangkaian konflik antara umat Buddha dan Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar. Hingga kini, sudah ribuan warga Rohingya tewas dalam perseteruan berdarah itu.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, etnis Rohingya adalah kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia saat ini. Pemerintah Myanmar pun tak secara resmi mengakui keberadaan Rohingya, sehingga mereka tak mendapatkan perlakuan yang layak dan sama sesama etnis resmi Myanmar lainnya.

Namun mata Kabir memandang ke depan. Ia menghempaskan masa lalu kelamnya di belakang. Kepada saya ia bercerita tentang kejadian tak mengenakkan yang menimpa dirinya dan keluarganya.

Suatu hari, seorang tentara datang untuk membeli ikan pada Kabir. Kedatangan tentara ini untuk sudah yang ketiga kalinya. Pada kunjungan pertama dan kedua, sang tentara masih membayar saat mengambil ikan. 

Namun pada kunjungan ketiga, si tentara ingin mengambil paksa tanpa membayar ikan milik Kabir. Kabir melawan. “Saya pukul kepala dan wajahnya,” tuturnya pada saya sambil menunjuk ubun–ubunnya sendiri. Sejak saat itu, Kabir membawa istri dan 3 anaknya kabur dari desanya.  

Tercatat sudah berapa negara yang menjadi tempat pelarian Kabir. Ia pernah menetap di Bangladesh selama 5 tahun, sebelum beranjak ke India setahun, dan Thailand 2 tahun.

Ia melanjutkan pengungsiannya ke Malaysia selama 15 tahun, sebelum menetap di Indonesia 2 tahun 9 bulan.

Kabir Ahmad (kanan) bersama rekannya Salim Muhammad Ibrahim, pengungsi dari Sudan, di dalam kamar wisma pengungsian di Makassar. Foto oleh Mansyur Rahim/Rappler

Kabir Ahmad (kanan) bersama rekannya Salim Muhammad Ibrahim, pengungsi dari Sudan, di dalam kamar wisma pengungsian di Makassar.

Foto oleh Mansyur Rahim/Rappler

Kabir sudah singgah di beberapa kota di Indonesia seperti Sukabumi, Bandar Lampung, Pekanbaru, Medan, Tanjung Pinang, dan, akhirnya, Makassar. 

Di kota–kota selain Makassar, ia mengaku menjalani hari–harinya dalam penjara. “Nanti di Makassar saya bebas seperti ini,” ucapnya.

Bebas yang dimaksud oleh Kabir adalah tinggal dalam sebuah wisma dan bisa beraktivitas. Selama 8 bulan di Makassar, Kabir tinggal di sebuah wisma di bilangan Kumala Makassar. Wisma ini disediakan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pengungsi ini juga membantu para pengungsi dengan uang bulanan sebesar Rp 1.250.000 per bulan.

Uang ini, oleh Kabir, dikumpulkan untuk ia kirimkan ke keluarganya yang ia tinggalkan di wilayah Messop, daerah pedalaman yang dekat dengan perbatasan Thailand. Untuk biaya makan, ia bekerja serabutan membantu tetangga sekitar wisma mengerjakan apa saja.

“Saya bisa perbaiki pintu, lemari, jadi kuli bangunan, sampai masak” ujarnya.

Hal ini diamini oleh Hatib, tetangga Kabir di Makassar. “Pak Kabir ini serba bisa, ia bisa memperbaiki apa saja. Ia juga cepat akrab dengan warga sekitar sini. Ia tak malu menawarkan diri jika melihat ada tetangga yang sedang memperbaiki atau membangun sesuatu” ungkap Hatib.

Saat saya berkunjung ke wisma yang ia tempati, Kabir sedang memasak kari ikan. “Di Myanmar namanya Shaloon,” katanya sambil menambahkan air ke dalam panci. 

Ikan yang ia masak hari itu ia beli di pasar tradisional tak jauh dari wisma. Begitu pula dengan kebutuhan sehari–harinya seperti beras dan pakaian, ia beli dengan menggunakan uang hasil bekerja serabutan itu. 

“Uang dari PBB itu haram, saya tidak mau memasukkannya ke dalam perut,” tutur lelaki yang pernah bekerja di salah satu bengkel. Saat itu pemilik bengkel tidak tahu status Kabir sebagai pengungsi sehingga mau mempekerjakannya. 

“Saat tahu kalau saya pengungsi, dia memecat saya. Mungkin ia tidak mau bermasalah dengan pemerintah,” kata Kabir, yang juga pernah bekerja sebagai koki di sebuah restoran di Malaysia ini.

Nasib yang membuatnya berpindah–pindah tempat ini menjadikannya menguasai hampir semua bahasa lokal daerah yang pernah ia tempati sebagai pengungsian. Selain bahasa Indonesia, ia mengaku bisa berbahasa Bangladesh, India, Thailand, dan Malaysia. “Tidak susah mempelajari bahasa Indonesia karena hampir sama dengan Malaysia,” ujarnya.

Mata Kabir menerawang saat saya menanyakan kemungkinan ia kembali ke Myanmar. “Tidak mungkin, mereka orang Buddha akan membunuh saya. Sudah 3 juta warga Muslim Rohingya yang mereka bunuh. Mereka tidak mau melihat kaum Muslim berkembang,” tuturnya. 

Terpisah jauh dari keluarga setelah sekian lama membuatnya memendam kerinduan. Untuk saat ini, yang ia inginkan adalah berkumpul kembali dengan keluarganya. 

Kabir berharap, kalau bisa, keluarganya bisa ke Makassar karena tak mungkin ia kembali ke Myanmar. 

Ia juga punya satu keinginan lain. “Seandainya bisa, saya ingin membuka rumah makan,” ungkapnya sambil tertawa saat kami menyelesaikan makan siang dengan menu kari ikan dan nasi yang baru saja ia masak. —Rappler.com

Mansyur Rahim adalah seorang penulis dan blogger di Makassar. Follow Twitter-nya di @lelakibugis