Ramai-ramai larang Valentine di daerah

JAKARTA, Indonesia- Jika anda melihat iklan hotel di Jakarta hari ini, Jumat, 13 Februari 2015, maka bisa ditemukan berbagai paket penawaran spesial Valentine. Sebuah hotel di pusat Jakarta, misal menawarkan paket Valentine untuk pasangan dengan harga mulai Rp 1 juta hingga 8 juta. 

Sebaliknya satu jam perjalanan dari Jakarta, yakni di Depok dan Bekasi, pemerintah menghimbau agar tidak merayakan Valentine. Bahkan Dinas Pendidikan di Surabaya, Jawa Timur, dengan tegas melarang perayaan Valentine di sekolah. Ia menghimbau orang tua agar mengawasi anak-anak mereka. 

Tahukah Anda bahwa perayaan Hari Valentine tak hanya dilarang di Depok dan Bekasi, tapi juga di kota-kota lain? Berikut daftarnya: 

Aceh: Perayaan Valentine bertentangan dengan Syariat Islam 

Sebagai satu-satunya wilayah yang menerapkan Syariat Islam, tak mengherankan jika Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh melarang warganya merayakan Valentine, khususnya kalangan muda. 

Pemko menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Untuk mengantisipasi kemungkinan ada yang tetap merayakannya, Wilayatul Hisbah (WH) atau polisi syariah, akan meningkatkan patroli di tempat-tempat nongkrong remaja yang ada di ibukota provinsi Aceh.

“Jika ada yang kedapatan merayakannya, anggota WH akan memberikan pengertian kapada para remaja bahwa Valentine Day bukan budaya Islam,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Pemko Banda Aceh, Marwan, Jumat, 13 Februari 2015.

Sementara itu, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal sejak dua hari lalu telah mengeluarkan seruan kepada warganya untuk tidak merayakan Hari Valentine. Seruan itu juga telah dibagi-bagikan ke puluhan sekolah tingkat menengah pertama dan atas yang ada di ibukota Aceh.

Nurul, seorang siswa SMA di Banda Aceh, menyebutkan bahwa di sekolahnya seruan Walikota Banda Aceh itu ditempel di papan pengumuman sekolah.

“Saya dan kawan-kawan tidak akan merayakan Valentine Day karena tak sesuai dengan syariat Islam,“ ujarnya. 

Padang: Walikota sisir pernak-pernik Valentine 

Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, melarang perayaan Valentine karena bukan budaya orang timur.

Wali Kota Padang, Mahyeldi Asyarullah di Padang, Kamis, mengatakan perayaan yang dikenal sebagai Hari Kasih Sayang lebih bermuatan hal-hal negatif.

Dia menyebutkan pihaknya akan memusyawarahkan pelarangan perayaan itu bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dan Organisasi Masyarakat (Ormas) di daerah tersebut.

Dia menegaskan jika ada pedagang yang menjual pernak-pernik Valentine akan dirazia, apalagi disinyalir saat ini beredar hadiah alat kontrasepsi.

"Ini sudah tidak benar dan tidak sesuai etika dan norma orang timur," katanya.

Terkait pelarangan ini, Alfin, seorang warga mengatakan bahwa ini adalah hal yang mengerikan. Namun hal berbeda diungkapkan oleh warga lain, Nilam, "yang dilarang kan event-nya alias kegiatan-kegiatannya. Kalau kasih sayang maah bisa dibagi anytime, enggak perlu pake moment. Ini very good regulation,” ujar Nilam.

Makassar: Walikota himbau pengusaha tidak menjual cokelat dan kondom 

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto kembali mengimbau para pelaku usaha untuk tidak memanfaatkan Valentine atau Hari Kasih Sayang untuk merusak moral bangsa.

Hal ini diungkapkan Ramdhan berdasarkan aduan dari masyarakat yang menyebutkan ada modus penjualan cokelat maupun permen disertai kondom gratis.

"Informasi yang saya terima, ada penjualan cokelat dengan embel-embel gratis kondom. Kalau sudah begitukan benar-benar merusak karakter kita sebagai masyarakat Timur. Jadi saya dengan jelas melarang perayaan Valentine," tegas Ramdhan Pomanto, Kamis, 12 Februari 2015.

Larangan perayaan Hari Valentine itu pun menuai tanggapan dari warga Makassar. Salah satunya ada dari Ardian Adhiwijaya. Menurut Ardian, “Pemerintah terlalu jauh mencampuri urusan warganya. Kalau alasannya karena seks bebas, melarang perayaan Valentine bukan langkah yang tepat. Mau Valentine dilarang atau tidak, tetap saja yang mau berbuat seks bebas tetap leluasa melakukannya,” katanya. 

Sementara itu, Chyko, menyatakan pelarangan perayaan Hari Valentine tidak tepat. “Pemerintah tidak harus melarang perayaan Hari Valentine, semua orang bebas mau rayakan atau tidak.  Lebih baik ada petugas yang mengawasi toko-toko atau penjual di malam Valentine untuk pencegahan penjualan cokelat berbalut kondom ini.”

Surabaya: Dinas minta orang tua awasi siswa agar tak rayakan Valentine 

Dinas Pendidikan Kota Surabaya secara tegas melarang perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day yang jatuh setiap 14 Februari. Larangan perayaan Valentine oleh seluruh siswa di Kota Surabaya tersebut disampaikan melalui surat edaran.

Surat edaran bernomor 421/1121/43664/2015 itu ditujukan kepada seluruh Kepala SMP, SMA, SMK, baik negeri maupun swasta di Surabaya.

Dalam sebuah poin disebut, orang tua harus ikut mengawasi para siswa agar tak merayakan Valentine. 

Dian, siswa SMAN 20 Surabaya menanggapi pelarangan perayaan Valentine sebagai hal yang positif. Menurutnya perayaan tersebut banyak ruginya.

“Udah rugi waktu, rugi uang juga. Belum lagi bisa aja kan ada hal yang tak terduga, kayak pesta miras, narkoba atau ujung-ujungnya seks bebas,” ujar Dian.

Pendapat berbeda dilontarkan Hanny siswa SMAN 17 Surabaya. Ia merasa janggal dengan edaran  yang dikeluarkan oleh Diknas. Hanny berujar harusnya Diknas Surabaya mengurusi hal yang lebih penting seperti ujian nasional, daripada sekedar mengurusi Valentine. Ia juga tidak peduli dengan larangan tersebut. “Aku tetap ngerayain Valentine, ngasih cokelat ke mama ke saudara juga. Itu sudah tradisi di keluargaku.”

Apa kata ketua MUI pusat tentang pelarangan Valentine?

Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan Shaberah memberikan komentar tentang perayaan Valentine. Tanggapannya kali ini lebih pada memberi nasihat pada kaum muda, tentang apa itu makna kasih sayang. 

“Kalau kasih sayang dalam arti muda-mudi itu, nanti bisa terjerumus kepada hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya. 

Menurut Amidhan, kasih sayang yang abadi adalah kasih sayang antara orang tua dan anak.

“Dan kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang sangat murni, tidak ada kontaminasi dengan loving, tidak ada hubungan dengan making love,” katanya. 

Amidhan juga menyebut, kasih sayang itu dari hati ke hati, tak perlu dimanifestasikan dalam bentuk benda, seperti cokelat. 

“Jadi saya menggarisbawahi, untuk apa dirayakan, apalagi di sekolah,” katanya. 

Amidhan juga menyebut bahwa, perayaan Valentine bukan budaya timur dan Islam.

“Sumbernya dari agama tertentu,” katanya.  

MUI pertimbangkan keluarkan fatwa haram Valentine

“Kalau mudharatnya lebih banyak, bisa difatwakan haram. Itu ada pertimbangan secara kompherensif,” katanya. Anda setuju? -dengan laporan dari Nurdin Hasan (Aceh), Mansyur Rahim (Makassar), Kartika Ikawati (Surabaya), Ibnu (Padang)/Rappler.com