Sarjana jangan malu turun ke sawah jadi petani

JAKARTA, Indonesia — Ketergantungan masyarakat Indonesia akan nasi di membuat pemerintah harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan ketergantungan pada impor ini dapat mengancam ketahanan pangan dalam negeri.

Menurut pendiri bank petani Masril Koto, salah satu jurus untuk mengurangi ketergantungan akan nasi dan beras serta untuk diversifikasi pangan adalah dengan memperbanyak konsumsi pisang. 

“Makanlah pisang sebelum nasi, karena selain sehat juga bisa mengurangi konsumsi beras,” ujar Masril dalam sesi ekonomi di Festival Indonesian Youth Conference (IYC) 2014, Sabtu (8/11) pekan lalu.

Selain Masril, sesi yang dimoderatori oleh Maulana Muhammad dan membahas tentang ketahanan pangan dan energi ini juga menghadirkan pembicara Ari Perdana, ekonom dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), sebuah badan pemerintah yang berada di bawah kantor Wakil Presiden.

Masril adalah seorang petani yang berasal dari Baso, sebuah kecamatan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan merupakan pendiri lebih dari 900 lembaga keuangan mikro-agribisnis yang tersebar di seluruh Indonesia.

Masril yang hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas 4 sekolah dasar mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, teori-teori pembangunan pertanian yang dihasilkan akademisi kurang dirasakan eksekusinya di lapangan.

Ari, yang merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, mengakui hal yang sama.

"Problem yang dialami petani kadang disebabkan oleh solusi yang didapat tidak bersumber dari masalahnya, seperti pupuk bentuk tablet," kata Ari.

Pupuk bentuk tablet itu ternyata kurang cocok untuk diaplikasikan oleh petani di Indonesia karena petani harus membungkuk setiap harus menanamkan pupuk tablet dan ini mengakibatkan laju kerja petani melambat. 

Untuk menyiasati berbagai masalah yang dihadapi oleh petani, Masril mendirikan bank petani dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal, seperti gotong royong dan kolektif. 

Menurutnya, dua karakteristik ini sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Selain itu, keduanya juga mencerminkan sifat berjamaah sesuai Islam.

Melalui bank petani tersebut, Masril menggagas berbagai jenis tabungan yang tidak melulu berhubungan langsung dengan pertanian. Namun dia juga menggagas tabungan lain yang berkaitan dengan kehidupan para petani, seperti tabungan ibu hamil. 

Tabungan itu dibentuknya berdasarkan tingginya tingkat kematian ibu hamil di kampungnya. Selain itu, Masril juga menggagas tabungan haji untuk para petani kurang mampu yang bercita-cita naik haji ke Mekkah.

Untuk anak-anak petani, Masril juga membentuk “tabungan iPad” bagi anak sekolah.  Terlepas dari namanya, Masril mengatakan bahwa tabungan itu bukan semata untuk membeli iPad yang diproduksi oleh Apple, namun untuk membeli komputer tablet pada umumnya yang dapat menggantikan buku sehingga anak-anak sekolah tidak membawa beban buku yang berat dalam tasnya. 

Ari juga menyarankan agar anak muda melakukan banyak perjalanan untuk bertemu petani-petani seperti Masril dan melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka. Apalagi, harga tiket pesawat sekarang sudah jauh lebih terjangkau dibanding saat dia baru lulus kuliah di tahun 1998. 

"Dengan travel, anak muda dapat pengamatan yang nyata akan masalah petani di lapangan, bisa identifikasi masalah sebenarnya," ujar Ari.

"Petani perlu bank yang tidak hanya pinjamkan uang, tapi yang bisa berdayakan petani, misalnya melalui pengelolaan keuangan,” tambahnya.

Ari juga mengatakan ada pemahaman bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal pemenuhan pangan tapi juga produksi pangan sendiri. Ari menambahkan bahwa untuk bisa produksi sendiri ada konsekuensinya yaitu konversi balik lahan yang sudah digunakan sebagai bangunan menjadi lahan pertanian, namun untuk ini diperlukan kemauan politik. 

Masril menyayangkan persepsi umum masyarakat bahwa anak muda yang sudah meraih gelar sarjana tidak perlu turun ke sawah dan kalau hanya untuk jadi petani buat apa sekolah tinggi. 

Ini didasarkan pada kenyataan banyak anak muda di kampungnya dengan gelar sarjana yang tidak turun ke sawah dan yang bertani hanya bapaknya. 

“Padahal untuk menjadi petani yang baik juga perlu pendidikan tinggi seperti sarjana,” ujar Masril. —Rappler.com