Kata pria vs kata perempuan: THR yang hanya mampir sebentar

Kolom ini membahas berbagai macam isu yang berkembang di masyarakat Jakarta dan Indonesia — baik yang serius dan yang nyeleneh — dari dua sudut pandang yang berbeda. Adelia, seorang wartawan, melihat dari sisi perempuan, sementara Tasa, seorang praktisi komunikasi, mencoba membahasnya dari sudut pandang pria. Topik pekan ini adalah mengelola THR.

--------

Percaya atau tidak, kita bisa mempelajari perbedaan nyata antara laki-laki dan perempuan melalui bagaimana mereka menggunakan dan menghabiskan tunjangan hari raya (THR).

Perempuan selalu menuduh bahwa uang tidak pernah aman apabila berada di tangan pria. Tapi tentu itu salah besar. 

Salah satu mitos yang mereka punya adalah percaya kalau pria selalu menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal tidak penting, seperti nongkrong berjam-jam dengan teman, beli mainan mulai dari PlayStation 4 hingga perangkat elektronik, atau mempercantik penampilan mobil dan motor.

Perempuan tidak sadar kalau mereka sama buruknya dengan tuduhan yang mereka berikan kepada kami para pria, bahkan mungkin bisa lebih parah.

Kita semua tahu kalau belanja, atau shopping, adalah agama kedua bagi para perempuan masa kini, terutama perempuan ibukota yang hobi utamanya adalah mengunjungi pusat perbelanjaan dan pusat kecantikan. Bahkan perempuan bangga dengan itu. Mereka selalu berkoar-koar betapa shopping menjernihkan pikiran mereka dari stres dan kepenatan.

Psikologi sudah membuktikan. Scientifically proven! Evolusi ratusan ribu tahun telah menghasilkan pria dengan pemikiran yang lebih logis sementara perempuan jauh lebih emosional. Maka muncullah terminologi Mars dan Venus.

Ketika uang THR masuk ke rekening, pria akan langsung berpikir bagaimana uang ini bisa dibelanjakan untuk kebutuhan Lebaran, membahagiakan pacar atau istri, serta yang tidak kalah penting membayar cicilan kartu kredit yang tampaknya tidak pernah kunjung usai.

Ditakdirkan sebagai pemimpin, pria pada umumnya selalu menempatkan kepentingan bersama dan orang lain di atas segalanya. Kita tahu tanpa pengorbanan tersebut nasib dunia akan terancam.

Perempuan di sisi lain hanya mementingkan egonya ketika berhubungan dengan uang. Buat yang sudah bersuami, perempuan punya satu slogan pamungkas, yang menyebutkan kalau mereka boleh menikmati seratus persen uang yang mereka hasilkan sementara suami harus membagi penghasilannya. Itu jelas menunjukkan kalau mereka egois.  

THR buat perempuan berarti berbelanja tas-tas bermerek, kosmetik mahal, atau baju-baju dari luar negeri. Perempuan tidak mau tahu berapa tagihan kartu kredit atau apakah masih ada pengeluaran lain yang lebih penting. Buat mereka itu semua tugas pria.

Apakah pria bisa komplain soal ini? Sayangnya tidak bisa. 

Seperti yang sudah pria pahami betul, perempuan sangat ulung untuk urusan berdebat. Ketika terpojok, ia akan mengeluarkan jurus jitu, yaitu dengan menampakkan wajah memelas dan manja, yang membuat hati kita langsung luluh dalam sepersekian detik.

Sambil memeluk belahan hati kita, sang perempuan tercinta, tatapan kosong lurus ke depan TV, kita hanya bisa bergumam di dalam hati: “Sialan, THR cuma lewat!” 

Tasa Nugraza Barley adalah seorang konsultan komunikasi di Jakarta. Ia suka membaca buku dan berpetualang, dan dapat disapa di @BarleyBanget.

Bergembiralah, kawan-kawan pekerja. THR akan datang sebentar lagi. Kamu pasti sudah menghitung hari menuju hari kedatangannya, bukan? 

Saya belum menikah, jadi saya tidak tahu apakah klaim kalau perempuan hobi menghabiskan THR laki-laki itu benar. Tapi, saya setuju kalau shopping adalah agama kedua bagi perempuan. Kalau laki-laki punya futsal, Game of Thrones, dan PlayStation 4, kenapa perempuan tidak boleh punya kecintaan pada sepatu dan tas?

Buat saya, THR itu harus diperlakukan sebagai mana seharusnya — sebuah hadiah. Tapi, sekali lagi, saya belum menikah. 

Orang tua saya selalu menggunakan THR sebagai bagian dari perencanaan keuangan mereka, entah untuk membayar uang semesteran kuliah atau memperbaiki rumah. Kalau saya? Saya baru dua kali dapat THR dan mereka hanya sekelebat melintas di ATM saya. Entah ke mana perginya.

Tapi toh, THR kan hadiah dan cuma datang sekali. Kenapa harus terlalu diambil serius? Anggap saja ini sebagai sebuah kado setahun sekali bagi kita yang semakin jarang dapat kado ulang tahun.

Apa salahnya sekali-kali memanjakan diri setelah perjuangan bekerja selama setahun? Kan kita tidak hidup untuk membayar tagihan dan mencicil rumah masa depan. 

Lagipula, ada dua hal yang pria-pria tak akan pernah mengerti: Bahwa belanja bisa memulihkan mood buruk, dan investasi dalam bentuk tas dan sepatu itu benar adanya.

Tapi, kalaupun teori Tasa di atas benar, ya apa boleh buat. Saya, dan perempuan lainnya, hanya bisa menikmati.

Selamat menghitung hari, kawan!

Adelia Putri, 24 tahun, adalah multimedia reporter Rappler Indonesia. Follow Twitter-nya di @AdeliaPutri