Umat Islam di Malang salat Ied di halaman gereja

 

MALANG, Indonesia — Bukan nyanyian jemaat mengkidungkan Madah Bakti atau Puji Syukur yang meramaikan Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus di Jumat pagi, 17 Juli. Lautan manusia mayoritas berbaju putih membanjiri halaman gereja dan tanpa ragu menggelar tikar, sajadah dan koran di sana. 

Di halaman gereja tua bergaya gothic itu, jemaah mendengarkan dengan khusyuk khotbah dari khatib yang berada di Masjid Agung Jami. Mereka tidak tertampung di masjid berkapasitas 5.000 orang yang berlokasi sekitar 100 meter dari gereja. 

“Gerbang kami buka sejak pukul 05:00. Setiap tahun umumnya jamaah masjid selalu meluber ketika salat Ied,” kata Yohanes Kristiwan, pegawai gereja, pada Rappler.  

Tak hanya itu, usai salat selesai, Yohanes dan tiga rekannya dari gereja rela membersihkan sampah koran bekas yang ditinggalkan jemaah. 

Gereja dan masjid ini memang memiliki hubungan yang panjang. Keduanya adalah bangunan tua. Gereja yang dikenal dengan nama Gereja Kayu Tangan ini dibangun pada 1897, sementara masjid sudah berdiri sejak 1865. 

Ketua Takmir Masjid Agung Jami Zainudin Abdul Muchid mengatakan salat Idulfitri di halaman gereja sudah berlangsung lama sebagai perwujudan toleransi antar iman. Menurutnya, sikap saling menghormati antarumat terjalin secara alamiah bak tetangga dekat. 

Resepnya memiliki hubungan harmonis dengan gereja adalah komunikasi yang intensif dengan pengurus gereja. 

“Jika pimpinan harmonis, umat di bawah juga mengikuti," kata Zainudin.

Tak hanya dengan Gereja Kayu Tangan, Masjid Jami Agung juga menjalin kerja sama dengan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) jemaat Immanuel. Pada 2014, jemaah menunaikan salat Iduladha di jalan depan halaman Gereja Immanuel yang terletak hanya 10 meter di sebelah kanan masjid. Gereja Immanuel menggeser jadwal misa mereka di Minggu pagi itu. 

“Saya juga berterima kasih dan saya meminta maaf kepada GPIB Immanuel,” kata Zainuddin.

Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

— Rappler.com