Ingin rebut hati warga DKI, Anies-Sandi kenalkan logo baru "salam bersama"

JAKARTA, Indonesia - Pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno terus mengatur strategi agar bisa merebut hati warga DKI jelang Pilkada pada Februari 2017. Salah satunya dengan mengenalkan logo dan ciri khas baru dari salam winner menjadi salam bersama.

Menurut Anies logo “salam bersama” terinspirasi dari maklumat yang dikeluarkan oleh Bung Karno pada tanggal 31 Agustus 1945. Ketika itu, pendiri Bangsa Indonesia memekikan semangat perjuangan dan kata “merdeka” dengan tangan terbuka.

“Tangannya tidak tertutup rapat, tapi agak terbuka yang menunjukkan jumlah sila dalam Pancasila. Bahkan, dalam beberapa dokumentasi, salam semacam itu dilakukan hampir semua pemimpin di negara ini mulai dari Bung Hatta, Pak Habibie, Gus Dur, SBY hingga Pak Jokowi,” ujar Anies ketika memberikan keterangan pers di posko pemenangannya di daerah Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis, 20 Oktober.

Dia menjelaskan, jika hampir semua pemimpin mempraktikan, artinya salam tersebut bersifat universal. Selain itu, ketika mempraktikan salam tersebut, secara otomatis kepala akan turun.

“Ini bermakna menghormati yang diberi salam,” katanya lagi.

Dia mengatakan salam bersama lebih baik dibandingkan ketika mengepalkan tangan yang dianggap sebagai simbol pemberontakan atau perlawanan.

“Mari kita mempraktikan salam ini untuk menunjukkan bahwa kita bisa membangun sesuatu dan tidak hanya melawan,” tutur dia.

Lalu, mengapa dulu menggunakan salam winner? Sandiaga Uno menjelaskan salam tersebut dikenalkan secara spontan tanpa berkonsultasi lebih dulu ke Anies.

SALAM WINNER. Pasangan bakal calon Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menunjukan salam winner ke media sebelum melakukan tes narkoba di kantor BNN pada Minggi, 25 September. Foto oleh Puspa Perwitasari/ANTARA

SALAM WINNER. Pasangan bakal calon Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menunjukan salam winner ke media sebelum melakukan tes narkoba di kantor BNN pada Minggi, 25 September.

Foto oleh Puspa Perwitasari/ANTARA

“Malam ketika pendaftaran ke kantor KPU DKI, ide itu muncul secara alami. Akhirnya, salam itu menjadi viral,” kata Sandi.

Setelah berdiskusi dengan Anies, Sandi merasa alasan yang diungkapkan penggagas Yayasan Indonesia Mengajar itu tepat.

“Ini bukan untuk memenangkan Anies-Sandi, karena kita tidak pernah membicarakan Anies-Sandi. Tetapi, kami membicarakan masa depan Jakarta,” katanya.

Ke depan, bahan desainnya akan dibagikan, sehingga warga DKI bisa menggunakan logo tersebut di media apa pun, salah satunya di baju. Dia pun tidak mempermasalahkan jika kemudian baju dengan logo Anies-Sandi itu dijual. Mampu kah Anies-Sandi meraih lebih banyak simpati warga DKI dengan logo yang baru? Tulis pendapatmu di kolom komentar.- Rappler.com