Anies dan Sandi tanggapi bullying di media sosial

JAKARTA, Indonesia – “Saat masa kampanye serangan bullying di media sosial terasa bagaikan peluru. Saat ini seperti ditusuk pakai tusuk gigi. Tidak sesakit dulu. Karena fokus kami, saya dan Bang Sandi, fokus mengerjakan hal-hal yang penting dan mendesak,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, Senin, 13 November 2017.

Hampir satu bulan memimpin ibukota setelah pelantikan pada 16 Oktober 2017, Anies dan Wakil Gubernur Sandiaga Salahuddin Uno mengundang sejumlah  pemimpin redaksi media massa untuk melaporkan apa yang sudah dikerjakan, dan apa rencana solusi sejumlah masalah yang ada di Jakarta. 

Dia bercanda soal tubuhnya yang nampak lebih ramping. “Karena harus pakai seragam yang bagian atasnya dimasukkan, ya perut harus lebih kempes,” ujarnya.

Pada bagian rencana dan solusi, Anies dan Sandi meminta keterangannya untuk disimpan dulu sebagai bahan pengetahuan oleh media massa. “Posisi kami saat ini sebagai eksekutor program. Jadi seharusnya memang melaporkan hasil eksekusi.  Bukan rencana lagi,” ujar Anies.

Karena fokus kepada masalah mendesak, Anies mengaku jarang memantau kehebohan yang terjadi di linimasa media sosial.

“Kami tuh seringkali malah telat denger, seperti tadi pagi, ramai katanya yang Ananda Sukarlan semalam walk-out saat saya pidato di acara Kanisius.  Tiap pagi saya masuk kantor ya langsung ramai dengan urusan pekerjaan, jadi tidak memperhatikan timeline, meskipun update-update ada,” ujar dia.

Anies menganggap sikap Ananda Sukarlan meninggalkan ruangan saat dia pidato sebagai hal yang wajar.

Menurut mantan menteri pendidikan dan kebudayaan era Presiden Joko “Jokowi” Widodo ini, banyak hal yang dikerjakan pemerintah provinsi yang dia pimpin bisa menimbulkan pro-kontra.  Kebijakan apapun selalu menimbulkan pro dan kontra. 

“Kalau dulu kuping kita hanya dua, mata hanya dua, sekarang mata kita jumlahnya ribuan. Iya kan, begitu kita ada ribuan followers, artinya ribuan mata yang kita lihat, pandangan kita yang dulunya terbatas sekarang jadi lebih luas,” ujar Anies.

Fokus 3 pekan pertama

Selama tiga pekan pertama Anies fokus kepada urusan teknokratis terutama APBD. Dia mengaku lega karena sebagian dari program yang direncanakan sudah masuk dalam perencanaan  anggaran 2018.

“Fokus kita, kami berdua datang dengan mandate. Birokrasi yang ada di sini datang dengan pengalaman dan pengetahuan. Kita akan sama sama bekerja di tempat ini untuk menunaikan semua yang sudah menjadi janji. Dan itu perlu waktu,” ujar Anies.

Anies dan Sandi berterima kasih atas perhatian luar biasa dari peliputan media massa. “Bapak-Ibu mengutus banyak sekali jurnalis untuk meliput kami, dan ini memberikan kesempatan kepada kami menyampaikan informasi sekaligus meluruskan disinformasi,” ungkap Anies.

Sebagai kepala daerah Anies mencoba memahami kadang-kadang ada masalah antara aspek kecepatan dan akurasi dalam peliputan media.

Karena itu, Anies dan Sandi ingin membatasi menyampaikan hal-hal yang masih menjadi opsi-opsi, masih dibicarakan, agar tidak perlu menimbulkan percakapan yang tidak produktif di publik.  “Kami berupaya kian transparan seraya menerapkan good governance,” ujar Anies.

Sandi yang diminta menyampaikan sambutan sebelum Anies mengatakan, “Don’t worry about bullying, karena buat saya setiap input itu positif. Masukan apapun, dalam opini saya semuanya mulai dari niat yang baik. Misalnya kontroversi soal penggunaan trotoar,” kata Sandiaga Uno, yang mengatakan bahwa, “setiap bullying itu semoga mengurangi dosa kita.”

Sandi kemudian pamit untuk melakukan rapat terkait dengan masalah kemacetan di sekitar Pusat Grosir Tanah Abang. Sandi sempat menyampaikan beberapa opsi yang bisa dilakukan, tapi meminta hal ini untuk tidak diterbitkan ke publik.

Beragam pertanyaan dilontarkan oleh pemimpin media yang hadir, mulai dari soal reklamasi, soal trotoar, pengelolaan jalan protokol, parkir mobil dan motor, keterbukaan terhadap peliputan media massa sampai soal pentingnya membangun kohesi sosial pasca Pilkada 2014.

Anies mengatakan setiap pagi harus mengecek 40-an surat termasuk aturan yang harus ditandatangani. “Semuanya harus dibaca dengan teliti,” ujarnya  – Rappler.com