Belajar menyebar perdamaian pasca peristiwa teror Bom Bali

DENPASAR, Indonesia - Tugu Peringatan Bom Bali atau juga disebut Monumen Ground Zero di Kuta, sore, Kamis, 12 Oktober dikunjungi para korban terorisme. Kemarin, merupakan 15 tahun peringatan Bom Bali.

Dalam peristiwa teror yang terjadi tahun 2002 lalu menewaskan 202 orang. Sebagian besar korban merupakan warga Indonesia. Namun, 88 orang lainnya merupakan turis Australia yang tengah berlibur di Pulau Dewata.

Gubernur Bali I Made Mangku Pastika dalam sambutannya menyampaikan peringatan Bom Bali bukan untuk menumbuhkan dendam. Meskipun bukan hal mudah untuk menghilangkan trauma dari peristiwa tersebut.

"Kita belajar dari sini, perdamaian bukan jatuh dari langit," kata Pastika kemarin.

Peringatan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk meluncurkan buku berjudul ‘Luka Bom Bali’. Buku tersebut menceritakan kisah para korban teror Bom Bali yang menjalani hidup dan upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan.

Pastika memahami peristiwa tersebut secara menyeluruh lantaran 15 tahun lalu ia menjadi Ketua Tim Investigasi Kasus Bom Bali. Pastika berharap usai 15 tahun berlalu, para korban bisa memaafkan peristiwa teror terbesar yang pernah terjadi di Indonesia itu.

"Para korban tidak mungkin melupakannya. Tapi, harus ada upaya untuk berdamai dalam diri sendiri," kata dia.

Salah satu korban teror Bom Bali I yang ikut dalam peringatan itu adalah Andrew Csabi. Akibat peristiwa bom yang meledak di Paddy's Pub dan Sari Club, Csabi harus kehilangan kaki kirinya.

"Saya bersyukur, saat ini masih hidup meski kehilangan bagian tubuh," tutur dia.

Ia mengaku setiap tahun rutin mengikuti peringatan peristiwa Bom Bali I kendati pernah menjadi korban. Namun, ia mengaku tidak ingin ikut larut dalam trauma mendalam.

“Kejadian (terorisme) bisa terjadi di mana saja,” kata dia.

Walaupun peristiwa teror terbesar pernah terjadi di Bali, bukan berarti kecintaannya terhadap pulau berjuluk 1.000 Pura itu luntur. Ia mengaku tetap mencintai Pulau Bali.

"Saya mencintai masyarakat Bali dan budayanya,” kata dia.

Belum dapat santunan

BUKU. Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat menunjukkan buku berjudul Luka Bom Bali. Foto oleh Bram Setiawan/Rappler

BUKU. Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat menunjukkan buku berjudul Luka Bom Bali.

Foto oleh Bram Setiawan/Rappler

Sementara, organisasi Intitute for Criminal Justice Reform (ICJR) mendesak agar pemerintah agar memberikan perhatian yang lebih memadai bagi korban peristiwa Bom Bali yang masih hidup. Mereka masih belum tersentuh layanan keadilan secara memadai.

Sebagai contoh, kata ICJR, data layanan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) 2017 menunjukkan masih sedikit jumlah korban Bom Bali yang mampu mengakses layanan bantuan medis, psikologis dan psikosial dari Negara. Sejak tahun 2016 dan 2017, jumlah korban yang memperoleh layanan bantuan medis, psikososial dan psikologis di LPSK hanya sebanyak 36 orang.

“Dari 36 orang yang masih aktif di tahun 2017 sebanyak 26 korban sedangkan 10 orang layanan telah ditutup,” ujar ICJR dalam keterangan tertulis yang diterima Rappler pada Kamis kemarin.

Sementara, terkait pemberian kompensasi, dalam catatan mereka, tidak ada satu pun korban yang menerima pemberian kompensasi dari negara jika berdasarkan putusan pengadilan sesuai mekanisme UU No 15 Tahun 2003.

“Pemberian kompensasi berdasarkan putusan pengadilan baru diberikan pada kasus Mariot dan kasus Samarinda 2017. Itu pun belum dieksekusi,” kata mereka.

ICJR mendorong secara aktif upaya kompensasi korban dalam Revisi UU Terorisme yang saat ini masih dibahas di DPR agar tidak melulu digantungkan kepada putusan pengadilan. - Rappler.com