Bincang Mantan: Jangan seenaknya pakai panggilan ‘cantik’ atau ‘ganteng’

JAKARTA, Indonesia — Kedua penulis kolom Bincang Mantan adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Adelia: Dipanggil ‘cantik’ tidak melulu menyenangkan

Saya senang sekali akhirnya mulai banyak yang mau membicarakan tentang sexual harassment atau pelecehan seksual sehari-hari, termasuk di jalan. Sayangnya, masih banyak yang tidak paham betapa tidak menyenangkannya pelecehan seksual ini dan malah menyalahkan ‘feminis-feminis galak’, ‘terlalu sensitif’, dan ‘sok jadi social justice warrior’. Banyak yang merasa pelecehan seksual hanya terbatas pada pemerkosaan, sehingga ‘colek-colek dikit sih ngga apa-apa’, apalagi kalau cuma di-suit-suitin di jalan. Urgh.

Beberapa waktu yang lalu media sosial ribut masalah panggilan ‘cantik’. Ada yang bilang kalau ini bisa jadi pelecehan seksual, ada yang yang bilang kalau ini berlebihan untuk diperdebatkan: “kayak negara enggak ada masalah yang lebih penting aja!”.

Don’t get me started on the comments. Netizen kita memang luar biasa.

“Ah yang marah mah karena dia jelek aja, jadi enggak pernah dipanggil cantik!”

“Masa pujian dibilang pelecehan! Galak amat, pasti perawan tua.”

Iya, kamu bisa tebak kalau yang ngomong itu adalah laki-laki yang ngga tahu risihnya digodain abang-abang pinggir jalan —  laki-laki yang kalau dipanggil ‘ganteng’ sama waria pinggir jalan juga akan lari terbirit-birit takut dicolek.

Belum lagi panggilan ‘cantik’ yang biasanya muncul dalam komentar sehari-hari, yang sepertinya memuji padahal mereduksi. 

Kalau kamu perempuan yang pernah kerja atau kuliah di bidang humas mungkin sering mendengar ‘kamu cantik sih, pantes jadi Humas!’ seakan-akan kamu di sana hanya sebagai penghias ruangan tanpa kemampuan berpikir. Saya pernah baca, katanya perempuan cantik maunya dipuji atas kepintarannya, sementara perempuan pintar maunya dipuji atas kecantikannya. Perempuan banyak mau ya?

Enggak kok. Saya — dan saya yakin perempuan lainnya — hanya tidak mau direduksi menjadi satu hal yang kalau ditelisik lebih jauh sebenarnya merendahkan karena adanya ketidakseimbangan relasi atau seksisme terselubung. Duh, bisa enggak selesai-selesai kalau ngomongin ini.

Ada selebtwit yang bilang kalau perempuan sih enggak masalah dipanggil cantik, termasuk di pinggir jalan, asal yang orang yang manggil itu ganteng. Duh, laki-laki kayak begini harus diapain ya? I hope you don’t procreate. Kasihan anakmu kalau harus dididik secara misoginis begini.

Begini, perempuan tidak bodoh dan tidak sehaus itu terhadap pujian. 

Semua tergantung konteks. Kami juga tahu mana yang tulus, mana yang menggoda sambil mengobjektifikasi.  Lihat lagi waktunya, kenal atau tidak, situasinya gimana. 

Ini bukan masalah ganteng atau enggak, bukan masalah panggilannnya apa. Mau dipanggil ‘Assalamu’alaikum ukhti’ sama segerombolan orang asing ganteng di pinggir jalan juga bikin bingung dan risih, kali.

Sebelum yang kalian yang laki-laki protes, iya, kaum perempuan juga suka kok mengategorikan seseorang ganteng atau tidak. Masih ingat kan sama paspampres ganteng di nikahan Kahiyang-Bobby? Ada selebtwit lain yang ngomel-ngomel kalau ternyata ‘feminis-feminis’ ini juga suka mengobjektifikasi laki-laki. Iya, iya. Pelecehan bukan ‘privilege’ perempuan kok, laki-laki juga bisa jadi korban. Tapi sekali lagi, historically and generally speaking, perempuan selalu ada di posisi yang lebih riskan terhadap pelecehan. Tapi, ya sudahlah, bisa-bisa saya butuh satu buku untuk menjelaskan masalah power and gender relation.

Intinya, jangan sama-sama bikin risih. Hormati sesama dan jangan sok asik sama orang yang kamu belum kenal, dan pikirkan dulu konteksnya sebelum kamu melontarkan sesuatu.

Dan seperti kata Ligwina Hananto, kecuali kamu Hedi Yunus, Carlo Saba atau Mario Ginandjar, jangan asal menyapa orang dengan ‘cantik’! 

Bisma : Tahu tempat, tahu waktu, dan…. tahu diri

Saya sangat percaya bahwa apapun yang dilakukan manusia bisa dianggap salah atau benar tergantung dari tempat dan waktunya, bahkan dalam asas hukum pidana ajaran Locus Delicti  (tempat terjadinya tindak pidana) dan Tempus Delicti (waktu terjadinya tindak pidana) sangat penting untuk diperhatikan lho.

Contoh ribetnya, soal aturan ganjil genap deh, di mana saya yang bawa mobil ganjil cuma akan kena tilang kalo lewatin daerah tertentu pada waktu tertentu kan? Selain dari itu aman aman aja.

Nah kalo contoh simpelnya sih soal pake baju renang. Kalo kamu pakenya di kolam renang atau di pantai kan tidak ada masalah tuh, coba di tempat lain? Siap-siap diliatin sekampung, kecuali kalo memang lagi ada perayaan pesta kostum semacam Halloween di tempat itu dan kamu memutuskan pake baju renang, itu tidak masalah.

Pada intinya hal yang salah jika dilakukan di waktu dan tempat yang benar, bisa jadi benar, vice versa. Begitu juga dengan soal memuji orang lain.

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk visual yang suka segala sesuatu yang Indah dan sebagai bentuk apresiasi, tidak ada salahnya kita memuji keindahan atau kecantikan seseorang. Tapi coba kembali lagi ke aturan awal. Tau waktu dan tau tempat.

Misalnya kamu memuji kecantikan seseorang di pinggir jalan, itu namanya catcall. Yang tidak familiar dengan catcall, itu tuh panggilan “neng neng”, “cantik liat sini dong”, atau “icikiwiiiir”. Bahkan katanya di Perancis pelaku catcall bisa disanksi denda di tempat lho karena sudah dianggap pelecehan seksual.

Lain halnya jika kita sedang di malam final suatu pageant, atau kita sedang di acara pernikahan teman dimana kita tau orang-orang pada dandan semaksimal mungkin untuk terlihat cantik, terus kita memuji seseorang, tentu akan sah-sah saja dan mungkin orang itu akan tersanjung. 

Saya pribadi beberapa kali mendapatkan pujian macam itu. Biasanya pujian datang dari teman-teman kalo saya dress up untuk acara formal. Dulu waktu bertugas di Abang-None pun pujian “kasep pisan” biasa terdengar dari orang sekitar. Mungkin yang cukup random waktu saya lagi jalan di Maluku dan di stop seorang ibu, hanya supaya dia bisa bilang “kamu mirip Sammy” entah maksudnya Sammy siapa, Samuel Rizal atau Sammy Simorangkir, tapi poinnya saya dibilang mirip artis dan itu pujian.

Apakah saya merasa “terserang” dengan pujian tersebut diatas? Engga kok. Malah saya senang.

Nah di lain cerita, saya pernah dipuji ganteng oleh cowok random di acara nikahan ketika saya dress up ke nikahan. Waktu bertugas jadi Abang pun demikian, pernah ada lelaki tinggi tegap memuji katanya kulit saya bagus. Di jalan Jakarta waktu lagi jalan, tau-tau ada panggilan “hai ganteng”, dan waktu nengok ada banci lagi ngamen. 

Bukannya saya homophobia, saya pun punya banyak teman yang mengaku demikian and its fine for me, tapi saya sangat tidak nyaman dengan pujian-pujian itu. Padahal kalo kita bandingkan waktu dan tempatnya, contoh pertama dan kedua mirip lho. Jadi ternyata ada lagi faktor yang perlu diperhatikan.

Faktor tersebut adalah, tahu diri!

Ternyata ini yang paling penting. Kalo kamu sudah cukup tua dan beristri, ya jangan lah puji anak umur 20 tahun cantik dengan randomnya. Kalo kamu pria, ya gak usah lah muji pria lain ganteng apapun waktu dan tempatnya.

Ketahuilah siapa diri kamu, dan sejauh mana kondisi kamu bisa memperbolehkan kamu untuk mengungkapkan kekagumanmu ke orang lain. Jangan sampai kamu memuji orang yang sebetulnya diluar “jangkauan” kondisi kamu, yang hasilnya kamu akan terlihat freak and creepy.

Bayangin om om, muji anak SD cantik. Apapun waktu dan tempatnya, serem kan?

Pujian adalah pujian, selama niatnya untuk mengapresiasi seseorang dan membuat orang lain itu senang, lakukanlah. 

Tapi ingat ada 3 faktor diatas yang perlu diperhatikan, jangan sampai niat kita mengapresiasi orang lain malah berbalik membuat orang itu tidak nyaman.

Jangan sampai di mulut ucapannya sekelas “you look gorgeous”, tapi yang ditangkep sama penerimanya malah selevel “neng neng icikiwiiiiir”. —Rappler.com