BRG sosialisasikan teknologi LIDAR untuk pemetaan gambut

JAMBI, Indonesia – Para pemilik konsesi lahan gambut dinilai kurang serius dalam menjaga kondisi lahannya. Ini bisa dilihat dari degradasi lahan gambut yang terjadi di Provinsi Jambi, yang menjadi salah satu daerah dengan lahan gambut terluas di Indonesia. Fakta ini disampaikan oleh Sony Pratomo, Kepala Sub Dinas Tata-ruang Lingkungan Hidup di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jambi.

Sony yang juga sekretaris Tim Restorasi Gambut Daerah menyampaikan hal ini saat membuka pertemuan para pemangku kepentingan (stake-holders) berkaitan dengan sosialisasi Pemetaan LIDAR di Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) Sungai Batanghari – Sungai Mendahara, di Jambi, 23 November 2017.

Dalam pertemuan yang diadakan Badan Restorasi Gambut (BRG) itu dipaparkan program pemetaan 210 ribu hektar lahan gambut di Jambi. Provinsi ini memiliki 700 ribu hektar lahan gambut. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut, BRG ditargetkan merestorasi 2 juta hektar lahan gambut di Indonesia.

Kegiatan pemetaan dilakukan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi dan Kota Jambi.  Dari hasil pemetaan, BRG dan Pemerintah Provinsi Jambi menargetkan pemulihan 151.662 hektar lahan gambut.

Pemetaan dilakukan dengan teknologi LIDAR, teknologi pemetaan dengan penggunakan pesawat yang diterbangkan setinggi 800 meter, dan dapat menghasilkan peta dengan tingkat detil yang tinggi, skala 1 : 2.500.

Dalam pemetaan LIDAR ini, ASI Pudjiastuti Geosurvey ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan tersebut.

Kegiatan didukung secara pembiayaan oleh Millenium Challenge Account Indonesia. Di Indonesia, MCA bertujukan mendukung pengurangan kemiskinan dengan pertumbuhan hijau.

” Khususnya di Jambi, biaya kegiatan ini termasuk yang terbesar dibandingkan dengan di provinsi lainnya. Pada KHG pertama ini, kita akan mulai melakukan pemetaan restorasi gambut dalam waktu dekat ini,” ujar Sigit Widodo, Associate director Participatory Land Use Planning MCA, yang juga menjadi pembicara dalam sosialisasi pemetaan dengan LIDAR ini. 

Menurut Sigit, kegiatan ini akan dikerjakan dalam waktu dekat dan target pelaksanaannya selama lima bulan. 

Dalam kegiatan sosialisasi yang dihadiri puluhan hadirin baik dari instansi pemerintah daerah terkait, perusahaan maupun penggiat sipil itu, Soni Pratomo menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk memetakan kawasan hutan gambut secara rinci, termasuk topografi, tutupan lahan, kondisi hidrologi dan estimasi kandungan karbon vegetasinya.

Thomas Rinuwat, manajer pengelolaan data spasial, Deputi Bidang Perencanaan dan kerjasama BRG mengatakan manfaat dari kegiatan ini tidak hanya bagi BRG tetapi bagi instansi lainnya baik di pusat, provinsi, maupun daerah. “Khususnya terkait dengan pemetaan tutupan lahan, perencanaan restorasi lahan gambut yang rusak, perhitungan cadangan karbon, atau perencanaan kegiatan revitalisasi kawasan gambut yang rusak,” ujar Thomas.

Solichin Manuri yang ditunjuk APG pemimpin pelaksanaan proyek pemetaan lahan gambut dengan LIDAR di Jambi mengatakan bahwa program ini antara lain akan menghasilkan pemetaan lahan hutan gambut secara rinci, digital elevation model, digital surface model, hidrotopografi dan tutupan lahan.

“Kami juga akan melakukan estimasi karbon vegetasi serta identifikasi data sebaran lahannya,” ujar Solichin, doktor lulusan Australia National University yang mendalami remote sensing model penghitungan karbon hutan.

Data pemetaan akan bermanfaat termasuk ketika memutuskan membuat sekat kanal yang fungsinya agar lahan gambut tetap basah, sehingga tidak mudah terbakar.  Di masa sebelum berdirinya BRG, masyarakat dan perusahaan membangun sekat kanal untuk mengeringkan lahan gambut  untuk ditanami. 

Jika musim kemarau dan terjadi El Nino, rawan terjadi kebakaran lahan gambut, dan sulit untuk dipadamkan.

Dari 151.662 hektare lahan gambut yang bakal direstorasi itu terdiri dari kawasan hutan lindung seluas 25.880 hektare. Kemudian lahan gambut pada kawasan budi daya berizin seluas 99.774 hektare, serta lahan gambut pada kawasan budi daya tidak berizin yang mencapai 26.008 hektare.

Kebakaran lahan menyebabkan polusi udara yang sangat buruk bagi kehidupan manusia, khususnya anak-anak atau balita. Kondisi tersebut pernah terjadi kurun waktu 2015 dan 2016. Ketika itu, 90 warga Jambi terpapar asap akibat kebakaran lahan dan hutan, khususnya di lahan gambut.

Peserta mengharapkan data hasil pemetaan bisa diakses lembaga terkait untuk beragam kepentingan termasuk data vegetasi dan potensi tanaman yang bisa dikembangkan di kawasan gambut. – Rappler.com