Sandiaga Uno sempat tidak pede dicalonkan Prabowo jadi Wagub DKI

JAKARTA, Indonesia - Wakil Gubernur DKI terpilih, Sandiaga Uno mengaku sempat tidak percaya diri ketika dia dicalonkan oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk maju dalam Pilkada 2017. Pasalnya, dia tergolong anak baru jika dibandingkan nama besar lainnya yang sempat masuk dalam proses pencalonan. Salah satunya, adalah Aziz Syamsuddin yang merupakan teman dekat mantan Komandan Jenderal Kopasus tersebut.

Bahkan, ketika menghadap Prabowo, Sandi memilih untuk dihukum lari marathon atau push up ketimbang harus maju dalam Pilkada DKI.

“Saya dapat tugas dari Partai Gerindra untuk maju ke Pilkada DKI. Jadi, saya enggak pernah ingin maju di Pilkada DKI. Saya hanya menjalani saja,” ujar Sandi ketika berbicara di Rappler Talk pada Senin, 15 Mei.

Prabowo pun sebagai politisi senior justru tidak ragu mengajukan nama Sandi, pemain baru di dunia politik. Menurutnya Sandi memiliki potensi yang bagus.

“Intinya, saya diyakinkan oleh dia agar jangan mengatakan ‘tidak’ dulu, karena di dalam politik semuanya mungkin. Jadi, harus belajar dulu,” katanya.

Tentu untuk bisa maju dan bersinar dibandingkan 8 kandidat lain yang dipilih Partai Gerindra, ada hal yang harus dicapai Sandi yaitu elektabilitas yang baik minimal 20 persen dan indeks performa (KPI).

Sandi akhirnya menyalami tangan Prabowo dan berjanji akan mencapainya. Dari sana, kemudian muncul semangat kompetisi untuk melawan calon lainnya.

Untuk mencapai hal tersebut, mantan Ketua KADIN itu mencoba menerapkan pelajaran apa yang tertuang di dalam buku berjudul “Underdogs Misfits and The Art of Battling Giants” karangan Malcolm Gladwell dan David & Goliath. Dari buku itu, tertulis dia harus bisa menemukan sesuatu yang menjadi keunggulannya.

Keunggulan pertama yang dia sadari adalah kecil dan tahan banting.

“Ketika merintis bisnis dulu, saya sempat melakukan banyak trial dan error. Saya pernah bangkrut, namun bangkit kembali. Pernah juga terpuruk akibat krisis, tetapi bisa kembali pulih,” kata dia.

Keunggulan kedua, dalam berkampanye, Sandi mencoba untuk rasional. Dalam menyusun program-programnya, Sandi mengaku bertumpu pada “big data”. Dari sana diperoleh tiga isu terbesar yang dihadapi warga DKI yakni ingin memiliki pekerjaan yang baik, biaya hidup yang tinggi dan akses ke pendidikan.

“Isu agama, justru tidak muncul sama sekali. Isu tersebut muncul belakangan ini setelah kampanye dihijack,” tuturnya.

Sementara, keunggulan yang terakhir, dia tidak pernah putus untuk berdoa. Di sisi lain, Prabowo memilih sosok Anies yang justru melengkapi kekurangannya.

“Saya itu tidak pandai berbicara mengenai isu yang menyangkut kebangsaan. Kalau pun ada topik yang biasanya saya bawakan itu hanya mengenai bisnis dan kewirausahaan. Saya juga tidak pandai berdebat. Di sinilah sosok Anies yang keluar di bagian akhir,” katanya menjelaskan.

Dari pencapaian yang dia rasakan sendiri, Sandi memberikan nasihat kepada siapa pun bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengalahkan sesuatu yang besar. Kuncinya, terletak pada strategi dan eksekusi yang baik.

 

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akan dilantik pada Oktober mendatang sebagai Gubernur dan Wagub terpilih menggantikan Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Paslon nomor urut tiga itu berhasil mengalahkan Ahok-Djarot dengan raihan suara 57,96 persen atau  3.240.987 orang. - Rappler.com