Debat Pilgub DKI: Saling serang di debat terakhir

 Tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mengikuti debat ketiga Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (10/2). Foto oleh Akbar Nugroho Gumay/ANTARA

JAKARTA, Indonesia — Debat ketiga Pilgub DKI Jakarta telah berakhir. Seperti diduga, debat terakhir yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, ini berlangsung lebih panas dari dua debat sebelumnya.

Bahkan Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono langsung menyerang calon petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Pernama pada kesempatan pertama. Agus, antara lain, membeberkan rapor buruk pemerintah provinsi Jakarta.

Saat ini, Agus mencontohkan, tingkat gizi buruk anak di Jakarta menempati peringkat kelima terburuk di Indonesia. Angka ini bahkan menempatkan Jakarta di bawah Papua Barat. Agus juga menyebut tingkat kekerasan terhadap perempuan di Jakarta masih sangat tinggi. “Setiap 2,5 jam ada 1 perempuan yang alami kekerasan,” kata Agus 

Selain itu Agus juga menyebutkan minimnya sarana dan fasilitas untuk para penyandang disabilitas dan tingginya angka pengguna narkoba. “Per hari ini ada 500 ribu penyalahgunaan narkoba, tertinggi di Indonesia,” kata Agus.

Kandidat lainnya, kata Anies Baswedan, menyatakan hal serupa. Menurutnya Jakarta saat ini bukanlah kota yang ramah terhadap anak dan perempuan. Pada saat yang sama pengguna narkoba sangat tinggi. 

“Angka kenaikan narkoba 35 persen setahun,” kata Anies. Meski begitu Anies tak menyalahkan Ahok. “Ini bukan salah Pak Gubernur. Ini fakta yang sudah lama di tempat ini,” katanya.

Wakil Agus Harimurti, Sylviana Murni, juga mempertanyakan kepedulian Ahok terhadap warga difabel dan penyandang disabilitas. “Kita bicara disabilitas, ada enggak sih di kantor Balai Kota yang disabilitas bekerja? Yang konkret-kongret saja,” kata Sylvi 

Tudingan Sylviana ini langsung dijawab Ahok. Menurut Ahok, Sylviana berbicara tanpa data. Ia mengatakan saat ini 1 persen pegawai negeri negeri di Jakarta adalah penyandang disabilitas. “Kami akan tingkatkan menjadi 2 persen,” kata Ahok.

Ahok bahkan mengatakan jika ada penyandang disabilitas yang duduk di dewan transportasi. “Bu Sylvi mengatakan tidak ada PNS disabilitas yang kerja, Bu Sylvi ini kemana aja,” kata Ahok. 

Serangan kepada Ahok juga terjadi saat debat memasuki isu perempuan. Sylvi menuding Ahok telah melakukan kekerasan secara verbal terhadap perempuan. Kekerasan tersebut beredar viral di media sosial. “Masyarakat menyaksikan, karena ini jadi video viral,” kata Sylvi 

Tudingan Sylviana ini dikuatkan oleh calon gubernur Anies Baswedan. Anies mengatakan video Ahok memaki-maki perempuan itu sudah viral. “Bagaimana mengatakan dia akan melindungi perempuan, sulit mempercayai,” kata Anies.

Ahok mengatakan tudingan dirinya telah melakukan kekerasan kepada perempuan adalah fitnah. Buktinya, kata Ahok, ibu-ibu masih mengajaknya berfoto bersama. “Kalau saya keras kepada perempuan, istri saya sudah kabur duluan,” kata Ahok.

Ia mengatakan pasangan calon nomor satu tidak memiliki program yang jelas sehingga mereka menebar fitnah. “Ini terus memfitnah, kalau enggak ada program yang baik, ya lebih elegan sedikit,” kata Ahok

Selain masalah warga disabilitas dan perempuan, masalah pembangunan warga di bantaran sungai juga menjadi perdebatan panas saat Djarot menyinggung kembali rumah apung yang akan dibangun pasangan Agus-Sylvi. “Mau normalisasi di sungai dengan cara bikin rumah apung. Bagaimana caranya?” kata Djarot.

Agus mengatakan dirinya dan Sylviana tidak memiliki program membangun rumah apung. Pertanyaan ini, kata Agus, selalu diulang-ulang. Bahkan Agus menuding program rumah apung itu hoax. “Kami tidak pernah mengatakan rumah apung itu program utama kami,” kata Ahok.

Agus juga menyayangkan pasangan Ahok-Djarot yang selalu mempertanyakan program bantuan untuk warga sebesar Rp 1 miliar per RT/RW. Menurut Agus, Ahok-Djarot terlalu curiga pada rakyat. 

“Orang bijak mengatakan, memang kalau sudah karakter susah untuk diubah. Kalau karakternya sudah mencurigai rakyatnya, akan selalu begitu sampai kapanpun. Jangan terlalu curiga dengan rakyatnya sendiri,” kata Agus.

Masalah pendidikan juga menjadi salah satu tema debat yang panas. Anies Baswedan menyoroti kebijakan pemerintah Provinsi DKI yang mengeluarkan murid dari sekolah jika melakukan kekerasan atau bullying. “Tidak bisa, mereka harus lebih banyak dididik,” kata Anies.

Djarot menjawab saat ini sudah ada aturan di setiap sekolah yang melarang siswa melakukan kekerasan. Aturan ini telah diteken oleh siswa dan orang tua siswa. “Ketika (kekerasan) terjadi, tentu saja dipanggil dan diberi pemahaman. Sehingga kepada yang bersangkutan disarankan pindah sekolah,” kata Djarot.

Pada kesempatan lain, Djarot balik menyerang program kepemilikan rumah di Jakarta tanpa uang muka yang dicanangkan pasangan Anies-Sandi. “Janganlah kita obral janji-janji di awang-awang yang tidak bisa dilaksanakan. Ada program Rumah Untuk Rakyat, memiliki rumah tanpa uang muka selama 30 tahun. Di mana rumahnya, berapa ukurannya, siapa yang mendapatkannya, apakah itu sesuai peraturan Kemenpera?” kata Djarot.

Anies mengatakan program yang akan digulirkan bukanlah pengadaan rumah, melainkan menciptakan kerjasama dengan perbankan. Saat ini, kata Anies, kebanyakan warga kesulitan mendapatkan rumah karena pembayaran uang muka yang sangat tinggi. "Kita memiliki skema pendanaan lewat perbankan," kata Anies.

Sandiaga Uno mengatakan program kepemilikan rumah tanpa uang muka bukanlah mimpi. Dirinya bersama Anies, kata Sandiaga, ingin mewujudkan warga Jakarta yang ingin memiliki rumah tanpa uang muka yang tinggi. “Tugas pemimpin itu adalah mencari solusi,” kata Sandiaga.

Memasuki menit-menit terakhir, debat semakin panas saat masing-masing pasangan diminta untuk menyebutkan kelebihan dan sifat baik masing-masing calon. Dalam sesi ini Djarot menyoroti program-program duet Agus-Sylvi yang dianggapnya terlalu mengawang-awang.

“Mereka berani menyampaikan sesuatu meskipun secara aksi di lapangan sulit dilaksanakan,” kata Djarot. Ia juga menyindir pasangan Anies-Sandi yang menurutnya pandai membangun opini namun sulit dibuktikan. “Pak Anies pernah menjadi menteri tapi diberhentikan karena tidak bisa menjalankan program,” kata Djarot.

Menjawab sindiran Djarot, Agus dalam closing statementnya memuji Ahok yang menurutnya sangat lugas dan tegas. Namun, kata Agus, “Harus bisa dibedakan antara tegas dengan kasar. Tegas tidak harus kasar,” kata Agus. 

Agus juga menyindir Anies Baswedan yang menurutnya pandai merangkai kata dan berteori. “Tapi saya hari ini masih mempertanyakan integritas dan konsistensi beliau dalam memimpin,” kata Agus. —Rappler.com