Elemen horor dan komedi berpadu dalam ‘The Final Girls’

Film horor kocak The Final Girls (2015) kini sudah bisa disaksikan trailer-nya. Setelah diputar perdana di South by Southwest Film Festival pada Maret lalu, film ini sudah berkeliling ke berbagai festival lain seperti Stanley Film Festival, Los Angeles Film Festival, dan Toronto International Film Festival bulan depan. 

Film yang dibesut oleh Todd Strauss-Schulson berdasarkan naskah yang ditulis M.A. Fortin serta Joshua John Miller ini mendapat sambutan lumayan positif dalam pemutarannya. 

Mengikuti film-film horor meta yang cerdas seperti Scream (1996), Behind the Mask: The Rise of Leslie Vernon (2006), Tucker and Dale vs. Evil (2010), serta The Cabin in the Woods (2012) yang fenomenal, The Final Girls pun memasukkan berbagai konvensi film horor — terutama slasher—dan memutarbalikkannya sehingga menjadi sebuah tontonan yang unik. 

The Final Girls bercerita mengenai Max (Taissa Farmiga), seorang wanita muda yang sedang berduka atas kematian ibunya dan Amanda (Malin Akerman), seorang bintang film horor terkenal dari tahun 1980-an. 

Ketika teman-temannya mengajak Max untuk menghadiri pemutaran Camp Bloodbath, film cult horror yang dibintangi sang ibu, ia sebenarnya enggan. Tetapi, ia memutuskan untuk tetap datang.

Setelah terjadi sebuah insiden di dalam bioskop, Max dan teman-temannya terjebak dalam dunia di film Camp Bloodbath. Sadar bahwa ini berarti bahwa mereka semua berada dalam incaran sang pembunuh dalam film, Billy Murphy (Dan B. Norris), Max pun harus bekerja sama dengan semua tokoh yang ada dalam film itu—termasuk Amanda—demi menyelamatkan diri. 

Max yang sudah bertahun-tahun tidak melihat sang ibu kini tak hanya diberi kesempatan untuk melepas rindu dengannya, tapi juga menyelamatkannya, dan pulang ke dunia nyata sebelum Billy menghabisi mereka semua. 

Tidak seperti film horor pada umumnya yang ingin membuat penontonnya menjerit-jerit ngeri, Todd Strauss-Schulson justru ingin penontonnya menangis di akhir film The Final Girls. Kenapa?

“Saya mencoba untuk mengisahkan cerita tentang seorang ibu dan putrinya, sebuah cerita tentang duka dan merelakan kepergian,” kata Strauss-Schulson

“Ini adalah sesuatu yang personal bagi saya … saya pikir ini adalah ide cerdas untuk bercerita mengenai pentingnya kematian dan efeknya, dalam sebuah genre yang menganggap kematian sebagai sesuatu yang remeh, di mana makin banyak orang yang mati, filmnya jadi makin menyenangkan.” 

“Karena buat saya, penting untuk membuat orang-orang menangis di akhir film. Ini adalah bagian besar dari film ini. Saya hanya ingin memastikan bahwa semua kisah emosionalnya benar-benar berfungsi,” ujar Strauss-Shculson. 

“Saya merasa bahwa komedinya dan semua hal-hal pintar yang menyenangkan justru akan mendukung hal ini. Kalau saya bisa membuat Anda tertawa selama satu jam, Anda akan membuka hati cukup lebar untuk membuat saya dapat membuat Anda menangis pada akhirnya … semacam itulah rencananya.”

Tapi, meski ceritanya sedih, bukan berarti bahwa The Final Girls lupa untuk menyajikan tontonan yang seru. Film yang digambarkan seperti Friday the 13th (1980) digabung dengan Back to the Future (1985) dan sedikit Terms of Endearment (1983) ini banyak menuai komentar positif dari kritikus. 

Penonton pun punya pendapat serupa sehingga The Final Girls dianugerahi Audience Award for Feature Film dalam Stanley Film Festival, mengikuti jejak horror crowd-pleaser lain seperti What We Do in the Shadows (2014) dan Maniac (2012).

The Final Girls juga didukung oleh bintang-bintang lain seperti Nina Dobrev, Thomas Middleditch, Alia Shawkat, Adam DeVine, dan Alexander Ludwig.

— Rappler.com