Festival Hari Buku Anak: Mendekatkan buku pada anak dengan cara menyenangkan

Salah satu kegiatan yang digelar di Festival Hari Buku Anak di Kota Bandung, Minggu (23/4). Foto oleh Yuli Saputra

Salah satu kegiatan yang digelar di Festival Hari Buku Anak di Kota Bandung, Minggu (23/4).

Foto oleh Yuli Saputra

BANDUNG, Indonesia. Memperingati Hari Buku Internasional, Pustakalana menggelar Festival Hari Buku Anak (FHBA) di Taman Cinta Institut Teknologi Bandung (ITB) Jalan Ganeca Kota Bandung, Minggu 23 April 2017.

Ini akan menjadi festival buku ramah anak dan keluarga pertama di Kota Bandung. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap visi Kota Bandung sebagai World Book Capital 2017. 

Namun di atas semua itu, FHBA sebetulnya digelar dengan latar belakang keprihatinan atas rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan studi "World's Most Literate Nations" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca.

Padahal, Indonesia memiliki peringkat di atas negara-negara Eropa dalam segi penilaian infrastuktur yang mendukung kegiatan membaca. Data ini membuktikan inisiatif dari berbagai pihak, termasuk perpustakaan, sangat diperlukan untuk dapat membangkitkan minat baca masyarakat. Pustakalana mencoba untuk berkontribusi dengan menggelar kegiatan yang difokuskan kepada buku anak.

“Kenapa kami memfokuskan pada buku anak, karena kami ingin mengenalkan buku ke anak, mendekatkan buku ke anak, karena membaca buku itu membuka dunia. Dan kenapa targetnya anak-anak? Karena merekalah generasi penerus di masa yang akan datang,” ujar Koordinator Acara Utama, Yasmin Kartikasari.

Tidak hanya memamerkan aneka buku anak, di kegiatan ini juga diselenggarakan berbagai permainan yang berdasarkan pada buku (book based activities) yang menarik minat anak. Antara lain, bercerita dan membuat kerajinan tangan berdasarkan cerita “Hello Ladybird, Don’t be Lazy,” Yoga for Kids dan mewarnai boneka kayu berdasarkan cerita “The very Hungry Caterpillar”, serta Read a Loud buku-buku berbahasa asing.

“Jadi anak-anak bisa mengenal buku lebih jauh lagi, tidak sekadar buku untuk dibaca saja, tapi juga buku bisa dijadikan alat untuk berinteraksi antara anak dan orang tua dengan berbagai kegiatan yang merangsang imajinasi dan kreativitas anak.  Anak juga bisa mengenal buku dari berbagai bahasa,” kata Yasmin.

Suasana Festival Hari Buku Anak yang digelar komunitas Pustakalana di Taman Cinta ITB Jalan Ganeca Kota Bandung, Minggu (23/4). Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Suasana Festival Hari Buku Anak yang digelar komunitas Pustakalana di Taman Cinta ITB Jalan Ganeca Kota Bandung, Minggu (23/4).

Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Aneka kegiatan itu diikuti dengan antusias oleh Kilau Kinar Hudha. Gadis cilik berusia 7 tahun itu mewarnai boneka kayu berdasarkan cerita “The very Hungry Caterpillar”.  

“Seru banget acaranya. Aku tadi mewarnai boneka kayu,” kata Kilau yang juga  melukis wajahnya dengan gambar Kupu-kupu. Face painting merupakan satu dari beberapa kegiatan yang ada di area FHBA.

Salah seorang pengunjung, Olva Patriani mengungkapkan, berbagai kegiatan yang diselenggarakan sesuai dengan tema yang diusung panitia. “Acaranya bagus. Anak jadi punya deskripsi lain tentang buku.  Sayangnya, cuaca sangat terik, jadi pengunjung kepanasan,” kata ibu dari dua orang putri itu.

Selain berbagai kegiatan yang dikemas untuk anak, digelar pula kegiatan untuk orang tua, seperti talkshow bertajuk “Peran Perpustakaan Dalam Meningkatkan Minat Baca”  dan diskusi publik “Melatih kecakapan Literasi Visual Pada Anak Melalui Buku Bacaan.”

Yang menarik, acara ini memiliki konsep #Goodfestival, yaitu sebuah festival yang ramah anak, juga ramah lingkungan. “Ramah anak dimana akan ada banyak aktivitas untuk anak dan bebas rokok, serta ramah lingkungan dimana pengunjung dan pengisi acara diminta untuk membawa kantung belanja, botol minum dan makan sendiri,” kata Yasmin.

Panitia juga menyediakan air minum isi ulang yang tersedia gratis dan bank sampah untuk menyimpan dan menukar sisa kemasan.

Sementara bazzar di area festival diisi oleh tenant-tenant yang menjual produk makanan dan minuman sehat, seperti Puddingku Rempong dan Nuggetku Rempong yang berbahan alami serta sehat, Katering makanan organic,Fameal, dan Pasar Petani yang menjual sayuran organik.

Acara ini dimeriahkan oleh pertunjukan seni tari dan musik, juga melibatkan sejumlah komunitas yang aktif mengkampanyekan gerakan gemar membaca.

“Kami berharap melalui Festival ini, buku dapat menjadi bagian dari kehidupan anak. Kami yakin setiap anak perlu untuk mengenal buku sejak dini. Yang perlu difasilitasi adalah cara mengenalkan buku tersebut pada anak dengan yang menyenangkan layaknya dunia anak-anak yang penuh warna,” ucap Yasmin. 

Buku adalah jendela dunia. Kalian bisa mendapatkan harga yang lebih murah kalau menggunakan kupon eksklusif dari Lazada di sini!

—Rappler.com