Saya diejek dan dipukuli hanya karena menjadi gay

 

Sejak SMA saya sudah meng-identify sebagai seorang gay, tapi pengenalan saya tentang diskriminasi terhadap gay baru kejadian ketika saya kuliah di Malaysia — oleh kakak saya sendiri.

April 2007 adalah ketika saya pertama kali menginjakkan kaki ke Malaysia untuk melanjutkan sekolah mengambil jurusan internasional bisnis di salah satu universitas di Negeri Jiran. Sebagai anak baru, saya mencoba mencari teman, tapi saya tidak sepopuler dan semacho kakak saya yang lebih mudah bergaul. Ia pun langsung klik mendapatkan teman-teman dari klub sepak bolanya.

Di kampus saya ada sekelompok mahasiswa Indonesia, tapi saya tidak pernah berurusan dengan mereka, dan saya juga tidak mau mengenalnya, karena memang bukan “dunia” saya. Kaum lelaki menyebut mereka sebagai perempuan-perempuan paling cantik dan populer. Kakak saya, bersama teman-teman sepak bolanya, sering hangout bareng mereka.

Suatu hari ketika saya sedang berjalan dengan dua orang teman perempuan, saya menyapa kakak saya yang sedang berkumpul bersama teman-teman se-gang-nya itu. Di situlah mereka mulai mengeluarkan kata-kata kasar di depan publik. Mungkin kalau zaman SMA, perlakuan tersebut bisa dikenal dengan nama “digencet”. 

“Eh, adek lo banci banget sih. Enggak kayak lo,” kata salah seorang perempuan di perkumpulan itu kepada kakak saya. Yang lain ikut-ikutan memberi pandangan menghina dari atas sampai bawah. 

Kakak saya, entah karena peer pressure, ikut tertawa dan mengangguk-angguk. Itulah pengenalan saya pertama kali dengan diskriminasi. Yang lebih menyakitkan, itu dilakukan oleh kembaran saya sendiri. Ya, kakak saya hanya lahir beberapa menit lebih awal dari saya.

Ia memang sebelumnya secara diam-diam mengetahui kalau saya itu gay. Tapi saya enggak pernah kepikiran dia akan melakukan itu, mengejek saya di muka umum. Itu yang membuat saya ketika itu berpikir, “Kok lo gitu ya?”

Sedangkan teman-teman kakak saya itu adalah tipikal anak-anak kaya di SMA di Jakarta yang baru ke luar negeri dan menjadi paling populer di lingkungan baru. Dan mereka menjadi oppresive dan abusive. Setelah kejadian itu ketika berpapasan dengan saya, mereka akan mengetawai cara berjalan saya, mengejek-ejek, dan mengadu kepada kakak saya. 

Lalu kakak saya akan bilang apa yang ia dengar dari teman-temannya ke ibu saya. Di situlah, akhirnya saya dibentak-bentak oleh ibu di Jakarta melalui sambungan telepon.

Kembaran saya itu bisa dibilang anak kesayangan orangtua. Whatever bad things he does, itu semua pasti salah saya. Waktu dia ngeganja dan minum-minum bareng teman-temannya, itu semua saya yang menanggung akibatnya, padahal saya enggak minum alkohol, apalagi ngeganja.

Penganiayaan fisik pertama dan terakhir

Lulus dari Malaysia pada 2012, saya sempat bekerja di sana selama 2 tahun sebelum melanjutkan kuliah S2 jurusan manajemen di Shenzhen. Saya kembali ke Indonesia pada 2015 dan mendapat kerja sebagai public relations consultant di salah satu firma komunikasi internasional di Jakarta Selatan.

Itu adalah salah satu masa kelam dalam hidup saya.

Ketika itu saya merasa terasingkan secara emosional dari setiap anggota keluarga, karena saya tidak bisa menjadi diri sendiri. Saya baru pulang dari Cina di mana saya bebas menjadi diri saya sendiri sesuai kemauan. Tapi di rumah, saya harus kembali menutupi jati diri agar keluarga bahagia. Saya merasa terkungkung.

Di China, tipikal mahasiswa, saya sering ke luar malam pada akhir pekan. Kalau kamu tinggal di tempat saya tinggal di China, kamu juga pasti akan merasa bosan. Tempat tinggal dan kampus saya jauh dari pusat kota.

Tapi ayah saya menyebut saya sebagai anak liar. Padahal saya tidak minum, tidak mabuk-mabukan. Oke, saya berdansa di klub dan mungkin kelihatan botol-botol minuman di foto di media sosial, tapi saya tidak pernah menyentuhnya.

Ayah saya pernah bilang, dia mendingan membunuh saya pakai pisau daripada mengetahui kalah saya gay.

Orangtua saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika itu, karena saya di luar negeri, jauh dari jangkauan mereka. Tapi ketika saya kembali ke rumah, mereka mengadakan semacam intervention

Mereka bertanya, kenapa saya tidak mau berubah? Saya terdiam. Saya tetap diam. Ibu saya bertanya, “Kenapa kamu jadi gay?” Intinya, mereka menanyakan, kenapa saya menutup diri dari keluarga dan enggak mau ngobrol bareng mereka, dan kenapa saya jahat sama kakak dan orangtua sendiri.

Menurut mereka, kakak saya —kembaran saya— itu sayang sama saya tapi sayanya yang terlalu egois dan menang sendiri.

Padahal saya telah melakukan apa yang keluarga inginkan. Saya menuruti yang mereka maui, saya melewati masa-masa susah demi mereka. Ibu saya tipikal orangtua Asia yang sulit dimengerti. Kita sebagai anak harus menuruti kemauannya atau tidak sama sekali. Tapi saya enggak mau. Jadi saya menyalahkan mereka atas depresi yang saya alami, atas tertutupnya diri saya ini.

Akhirnya saya broke down

Kakak saya enggak terima perkataan itu. Ia pun langsung menonjok ke bagian atas mata kiri saya. Di sini dulu ada 20 jahitan. Hanya karena saya gay. Ibu saya mencakar dan menendang saya.

Ayah saya teriak, “Stop!” Nenek saya memegang tangan saya sembari menangis. Ibu saya bilang —dan saya masih ingat hingga sekarang, “Rasain. Biarin aja”.

Sedangkan kakak saya mengumpat, “Anj*ng!”

Saya menangis. Waktu itu saya berpikir, lebih baik mati saja.

Ayah dan kakak baru membawa saya ke rumah sakit sekitar sejam kemudian. Selama itu, darah dibiarkan mengalir dari atas mata kiri, membasahi wajah saya. Saya langsung dioperasi ketika tiba di rumah sakit.

Butuh 2-3 hari untuk kakak saya meminta maaf, yang menurut saya itu unacceptable

Saya kembali bekerja di kantor keesokan harinya. Semua orang menatap saya. Bahkan mantan atasan saya bertanya, “Siapa yang mukulin kamu? Apakah kamu perlu mengungsi untuk sementara waktu?”

Itu adalah penganiayaan fisik pertama dan terakhir yang bisa saya toleransi. 

‘Menjadi gay adalah pilihan, bukan penyakit’

Orangtua saya kemudian meminta —tepatnya, menyuruh— saya untuk bertemu seorang psikiatris.

Mereka cuma bilang, “Kami sudah buat janji dengan seorang psikiatris hari Jumat jam 3. Kamu harus datang”. Mau enggak mau saya datang, dengan kedua orangtua ikut menghadiri setiap sesi pertemuan.

Saya mengikuti janji pertemuan dengan psikiatris selama 3 jam setiap Jumat sepanjang 4 bulan. Basically my psychiatrist said, I’m not sick and he didn’t see the reason why I had to be there. Of course, my parents weren’t happy about it. 

Moral dari cerita saya adalah, seperti yang psikiater saya bilang, kita harus bisa menerima diri kita sendiri karena ini bukan penyakit. Menjadi gay adalah sebuah pilihan.

Justru, jika kita mencoba untuk menyangkalnya dan pada akhirnya malah menyakiti orang lain, maka kita itu sakit secara mental. 

Ada kalanya saya berpikir, mendingan mati aja. I’d rather not living than not being who I am. 

Sekarang hubungan saya dan orangtua beserta kakak saya baik-baik saya. I’ve learned the steps not to reveal myself too much, and I don’t flaunt it in front of their faces. —Rappler.com

Arthur Hambali (bukan nama sebenarnya) adalah seorang PR Consultant di sebuah firma komunikasi internasional di Jakarta Selatan.