Harimau Sumatera di Bengkulu hanya tersisa 17 ekor

Dua harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina dewasa berada di dalam kandang Kebun Binatang Taman Rimba, Jambi, Kamis (29/12). Foto oleh Wahdi Septiawan/ANTARA

Dua harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina dewasa berada di dalam kandang Kebun Binatang Taman Rimba, Jambi, Kamis (29/12).

Foto oleh Wahdi Septiawan/ANTARA

JAKARTA, Indonesia — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung menyebutkan jumlah populasi harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae) yang hidup di kawasan hutan wilayah Provinsi Bengkulu diperkirakan hanya tersisa 17 ekor.

"Hasil monitoring pada 2016 melalui spot gangguan atau konflik baik dari laporan masyarakat maupun hasil patroli petugas, diperkirakan populasi harimau di Bengkulu tinggal 17 ekor," kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Bengkulu-Lampung, Said Jauhari, di Bengkulu, Senin 23 Januari 2017.

Said mengatakan tergerusnya hutan oleh para perambah menjadi salah satu penyebab menyusutnya jumlah harimau Sumatera. "Untuk peningkatan populasi satwa terancam punah ini, kami memprioritaskan perlindungan kawasan hutan yang menjadi habitatnya," kata Said Jauhari.

Saat ini, salah satu kawasan yang dianggap menjadi rumah harimau Sumatera adalah Taman Buru Semidang Bukit Kabu di Kabupaten Seluma yang memiliki luas 9.000 hektare.  

Saat ini, Said Jauhari melanjutkan, pihaknya sedang mengusulkan agar status kawasan hutan tersebut ditingkatkan dari Taman Buru menjadi kawasan suaka margasatwa. "Karena selain harimau, di kawasan hutan itu juga terdapat jenis satwa liar dilindungi lainnya seperti siamang dan beruang madu," katanya.

Said menambahkan, bila habitat satwa langka itu dalam kondisi baik, maka secara alamiah populasinya juga akan bertambah. Karena itu penetapan status menjadi kawasan suaka margasatwa dinilai bisa membantu target pemerintah meningkatkan populasi harimau Sumatera dan gajah Sumatera sebesar 3 persen per tahun. —dengan laporan ANTARA/Rappler.com