Mengolah sudut pandang dan berbicara sastra Indonesia bersama Intan Paramaditha

Sejak satu dekade terakhir, Intan mengaku tertarik pada isu kebangsaan dan kosmopolitanisme, rumah dan perjalanan, hingga ikatan dan ketercerabutan. Baginya, hal ini terinspirasi dari dirinya sendiri yang tak pernah benar-benar pulang ke Indonesia.

“Saya terus berpindah kota dan negara selama 12 tahun terakhir, dan karenanya pertanyaan tentang hubungan antara globalisasi dan batas negara, juga yang lokal dan global, selalu menggelitik saya,” ujarnya.

Tak hanya itu, karyanya juga membicarakan mengenai isu gender dan seksualitas, budaya, serta politik. Juga terinspirasi dari fiksi, horor, mitos, dan dongeng.

Mengajak pembaca ‘bergentayangan’

Kondisi Intan yang tertarik akan rumah, perjalanan, dan ketercerabutan itulah yang akhirnya melahirkan karya terbarunya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu. Novel fiksi terbarunya ini berformat ‘pilih sendiri petualanganmu’ dan mengajak pembacaranya untuk menemukan cerita para pengelana, turis, dan migran tentang pelarian, penyeberangan, pencarian atas rumah, rute, dan pintu darurat yang ada. Semua tergantung pembaca memilih jalan yang mana.

Gentayangan akan membawa pembacanya ke New York, perbatasan Tijuana, gereja di Haarlem, bahkan hingga masjid di Jakarta.

Novel ini terinspirasi dari derasnya arus pergerakan manusia melintasi batas-batas negara. Intan melihat banyaknya orang yang melakukan perjalanan dan perpindahan yang intens, mulai dari para turis, migran, sampai pengungsi. Selain itu, Gentayangan juga mempertanyakan arti ‘rumah’ dan ‘pulang.’ 

Gentayangan berkisah tentang hasrat menyeberang yang hadir bersama-sama sekaligus bersitegang dengan batasan dan tembok,” ucap wanita berusia 37 tahun ini.

Selain Gentayangan, Intan memiliki beberapa karya yang telah terbit seperti Sihir Perempuan, Kumpulan Budak Setan, dan naskah Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses. 

Kumpulan Budak Setan yang ia tulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad merupakan persembahan untuk Abdullah Harahap, penulis horor yang terkenal di era 1970 dan 1980-an. Novelis ini pernah mendapatkan penghargaan cerpenis terbaik Kompas pada 2013 lewat cerpen Klub Solidartias Suami Hilang. 

Mempertanyakan semuanya

Intan ingin menjadi penulis yang tidak pernah merasa aman dengan perspektif, pendekatan, dan wawasan yang ia miliki. Ia tak ingin berhenti belajar dan berhenti mempertanyakan.

Karena pertanyaan, baginya, adalah hal yang mendorongnya untuk terus menghasilkan karya. Dengan mempertanyakan banyak hal dari beragam tataran seperti keluarga, negara, hingga dunia, Intan mendapatkan kegelisahan dengan apa yang berlangsung di sekitarnya.

“Tulisan saya sering kali melontarkan wacana tertentu, akan sangat menyenangkan bila pembaca mau masuk ke dalam wacana itu dan bersentuhan dengan pertanyaan-pertanyaan di dalamnya,” kata Intan.

Menganggap dirinya sebagai seorang feminis, Intan mengidolakan Mary Shelley dan Margaret Atwood yang mengolah kisah-kisah lama dan menyodorkan interpretasi baru dengan perspektif feminis. Secara umum, ia menyukai tulisan yang menyeramkan, aneh, dan eksentrik seperti karya-karya Edgar Allan Poe dan Roald Dahl.

Untuk terus mengasah wawasan dan memperbaharui cara pandangnya, Intan gemar membaca buku-buku non-fiksi terkait dengan isu yang tengah ia tulis. Ia kerap membaca novel atau cerita pendek yang mengusung tema dan gaya yang berbeda dari tulisannya.

“Saya belajar dari mana saja, termasuk buku-buku yang tidak saya sukai. Setelah itu saya akan kembali pada tulisan dengan cara pandang baru,” ungkapnya.

Memperkenalkan sastra Indonesia

Menjadi salah satu pembicara di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, Intan akan berdiskusi di Main Program: Half a Century of ASEAN pada 28 Oktober mendatang. Ia dan beberapa pembicara lainnya akan berbagi pandangan tentang kehidupan sastra di Asia Tenggara.

Baginya, dunia sastra Indonesia sendiri memiliki berbagai macam permasalahan mulai dari pengarsipan, telaah kritis, diseminasi pengetahuan, hingga penerjemahan.

“Banyak karya bagus yang saat ini tidak dikenali anak-anak muda karena tidak beredar di toko buku maupun diajarkan di sekolah,” kata Intan.

Atas dasar itu, Intan berusaha mempelajari dan mendorong orang untuk membaca karya-karya lama yang menurutnya patut menjadi bagian dari kurikulum sekolah seperti karya Budi Darma atau Toeti Heraty. 

Tak hanya sastra lama, sastra kontemporer juga perlu dirawat dan diperkenalkan kepada banyak pembaca. Intan merasa terinpirasi oleh penulis-penulis satu generasi dengannya, seperti mereka yang mulai menulis di awal tahun 2000-an seperti Eka Kurniawan, Ugoran Prasad, Nukila Amal, dan Gunawan Maryanto. 

Ia juga mendorong suara-suara dari penulis muda yang menawarkan perspektif segar untuk terus bermunculan dan berharap dapat didengar masyarakat luas. —Rappler.com

Pembaca Rappler dapat menghemat hingga 20% untuk tiket 4-Hari dan 1-Hari dengan memasukkan kode MPRP17 saat melakukan checkout di situs www.ubudwritersfestival.com