Jejak karier Setya Novanto: Dari jual beras, dealer mobil hingga kursi Ketua DPR

JAKARTA, Indonesia - Nama Setya Novanto kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Ia jadi sorotan karena berhasil mengalahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di sidang praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Jumat pekan lalu.

Hakim tunggal Cepi Iskandar menyatakan status tersangka yang disematkan KPK tidak sah. Sementara, semua penyelidikan terhadap Ketua Umum Partai Golkar itu terkait pengadaan proyek KTP Elektronik diminta untuk dihentikan.

Sosok Setya begitu kuat karena namanya bukan kali ini saja terkait kasus hukum. Namun, ujungnya lagi-lagi lolos. Ia bahkan sempat dijuluki “Man of Untouchable” karena seolah kebal dari hukum.

Namun, bagaimana sosok Setya sebelum menjadi pejabat publik seperti saat ini dan seperti apa rekam jejaknya? Berikut penelusuran Rappler:

a. Terlahir dari keluarga tidak mampu

Setya lahir di Bandung pada 12 November 1954. Kendati saat ini menjadi orang terpandang, namun masa kecil Setya dilalui dengan keterbatasan ekonomi.

Ia harus kerap berpindah tempat tinggal pasca perceraian kedua orang tuanya. Setya sempat menempuh pendidikan di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Bandung. Lalu, putra dari pasangan Sewondo Mangunratsongko dan Julia Maria Sulastri tersebut menempuh pendidikan SMP Negeri 73 Tebet pada tahun 1967 lalu dilanjutkan ke SMA Negeri 9 pada tahun 1970.

Lulus SMA, Setya kemudian berangkat ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandala. Sadar bukan berasal dari keluarga berada, Setya kemudian bekerja secara serabutan di sela-sela waktu kuliah.

Ragam pekerjaan pernah ia jalani, mulai dari bisnis jual beras hingga menjadi dealer mobil. Semua itu, ia jalani agar mendapat biaya kuliah.

Pintu mulai terbuka ketika ia bekerja sebagai penjual mobil. Di usia 22 tahun, Setya sudah ditunjuk sebagai Kepala Penjualan Mobil untuk wilayah Indonesia Bagian Timur.

Setya juga sempat menjajal kepiawaian di dunia modelling. Bahkan, ia terpilih menjadi “Pria Tampan Surabaya” pada tahun 1975 ketika masih berusia 20 tahun.

b. Koneksi Hayono Isman

Usai menamatkan kuliah, Setya lalu bekerja di PT Aninda Cipta Perdana yang merupakan penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Surabaya dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ternyata, PT Aninda Cipta Perdana dimiliki oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di era Kabinet Soeharto, Hayono Isman yang tidak lain merupakan teman sekelas Setya saat masih menuntut ilmu di SMA Negeri 9 Jakarta.

Di sini lah awal mula terbangun relasi antara Setya dan NTT. Sebab, selanjutnya, Setya maju sebagai caleg dari daerah pemilihan NTT.

Ia kemudian mendaftarkan kuliah di Universitas Trisakti Jakarta untuk menempuh pendidikan akuntansi. Sayangnya, biaya pendaftaran masuk menghabiskan seluruh modal yang ia peroleh waktu menjadi dealer mobil.

Akhirnya, Setya berkuliah sambil bekerja di perusahaan pupuk. Ia pun tinggal di rumah Hayono di Menteng. Bahkan, Setya juga sempat menjadi sopir pribadi Hayono.

Hal itu, ia utarakan ketika menjadi pembicara kunci di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumatera Barat.

“Lihatlah saya. Saya dari sopir, pembantu, lalu bisa menjadi Ketua DPR,” ujar Setya di STIE Sumatera Barat pada 25 Maret lalu.

c. Lalui dua pernikahan

Istri yang kini dinikahi Setya yakni Deisti Astriani Tagor merupkan istri keduanya. Sebelumnya, Setya sempat menikah dengan putri Brigadir Jenderal Sudharsono, mantan Wakapolda Jabar, Luciana Lily Herliyanti.

Dengan menikahi Luciana, Setya kemudian dipercaya mengelola pompa bensin milik mertuanya di Cikokol, Tangerang. Pom bensin itu pun sukses ia kelola. Namun, rupanya, itu belum cukup. Setya juga merambah ke bidang lainnya yakni peternakan, kontraktor, jual-beli bahan baku kertas, tekstil, hotel hingga lapangan golf.

Kini, perusahaannya tersebar di Jakarta, Kupang dan Batam. Sayang, kesuksesannya di dunia bisnis, tidak seiring dengan kehidupan pernikahannya. Setya bercerai dan menikah lagi dengan Deisti.

Dari pernikahan kedua, Setya juga dikaruniai dua anak yakni Giovanno Farrel Novanto dan Gavriel Putranto.

d. Terjun di dunia politik

Usai menjadi pengusaha sukses, rupanya Setya juga tergoda untuk terjun di dunia politik. Ia mengawali langkahnya dengan membuat sebuah buku bersama rekan-rekannya berjudul “Manajemen Soeharto”. Sayang, buku itu dibredel pasca kerusuhan Mei 1997.

Ia kemudian maju menjadi calon anggota DPR dari daerah pemilihan NTT II dan terpilih. Kali pertama, Setya duduk di kursi parlemen pada periode 1999-2004. Itu semua berkat pekerjaan sebelumnya di perusahaan milik Hayono. Sebab, perusahaan pupuk itu membuka koneksi ke NTT dan membuatnya dipercayai 85.188 warga.

Kemenangannya di NTT rupanya membuka koneksi baru bagi Setya. Kemudian, Ia bertemu dengan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Burhan Djabir Magenda, yang pada waktu itu ikut Pilkada dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat.

"Saya kira sahabat ya kita dulu di DPR waktu tahun 2000. Beliau dari dapil NTT, saya dari dapil NTB" ujar Burhan ketika ditemui di RS Premier Jatinegara usai menjenguk Novanto pada Senin kemarin.

Berkat kepiawaiannya di politik, Setya duduk sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar selama enam kali berturut-turut tanpa putus. Ia kemudian terpilih sebagai Ketua DPR ketika ikut dalam proses pencalonannya.

Partai Golkar ketika itu masuk ke dalam sistem paket bersama Koalisi Merah Putih. Ia kemudian resmi terpilih sebagai Ketua DPR pada 2 Oktober 2014.

Baru setahun menjadi Ketua DPR, Setya terpaksa mundur karena dianggap telah melanggar kode etik dengan mencatut nama Presiden Joko “Jokowi” Widodo untuk mendapatkan saham di PT Freeport. Posisi Setya kemudian digantikan oleh Ade Komaruddin.

Gagal jadi Ketua DPR, Setya rupanya malah mulus terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar pada bulan Mei 2016. Bahkan, di bawah kepemimpinan Setya, Partai Golkar secara resmi menyatakan merapat ke kubu pemerintahan Jokowi.

Namun, ajaibnya Setya bisa kembali meraih kursi Ketua DPR yang sempat ia tinggalkan. Partai Golkar sepakat mencopot Ade Komaruddin dan menggantinya dengan Setya karena tuduhan permufakatan jahat yang melilit Setya melalui kasus PT Freeport tidak terbukti.

Mengapa? Karena dalam proses peninjauan kembali di Mahkamah Konstitusi (MK) penyadapan tanpa melalui izin pengadilan disebut tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti. Maka, Partai Golkar secara aklamasi kembali memilih Setya sebagai Ketua DPR dan ia resmi dilantik pada 30 November 2016.

Maka, tak heran jika Setya dikatakan sakti. Sebab, baru kali pertama terjadi Ketua DPR yang sudah lengser, kemudian bisa naik kembali. - Rappler.com