'JogjaROCKarta' #1: Dream Theater sukses bawa penggemar kembali ke era 90an

YOGYAKARTA, Indonesia – Festival musik JogjaROCKarta di Stadion Kridosono, Yogyakarta, pada hari pertama, 29 September berlangsung meriah. Tidak hanya menyaksikan Dream Theater sebagai suguhan utama konser, para penggemar musik cadas sudah memadati venue sejak sore hari untuk menyaksikan band-band pengiring.

Mereka sudah antre sejak pukul 14.00 di depan gerbang, namun pintu masuk baru dibuka sekitar pukul 15.30. Semakin malam, stadion semakin sesak. 

Tak hanya kemeriahan di panggung, kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengenakan kaos Dream Theater juga menarik perhatian masa yang ingin swa foto.

Lima band pengiring secara bergiliran memanaskan suasana Yogyakarta yang sempat diguyur hujan. Ghoss menjadi band pengantar di sore hari, dilanjutkan oleh Kelompok Penerbang Roket dengan lagu dari album Teriakan Bocah (2015), seperti Target Operasi, Di Mana Mereka, Beringin Tua, Tanda Tanya, Anjing Jalanan, dan Mati Muda.

Band beraliran death metal asal Kota Gudeg Death Vomit menyapa penyuka headbang dengan enam lagu cadas andalannya, termasuk Decadence of Life, Evil Rise, dan Emerged Rage.

Panggung samping menjadi riuh setelah jeda maghrib, karena giliran band rock 1990-an Power Metal menghentak panggung dengan aksi energik Arul Efansyah dan kawan-kawan menyuguhkan lagu-lagu bernuansa speed metal, seperti Angkara, Penguasa, Timur Tragedi, dan Satu Jiwa. Band asal Surabaya ini masih punya penggemar militan, yang datang dari Kalimatan dan Sumatera.

Legenda rock Indonesia God Bless semakin menyempurnakan sajian ‘appetizer’ JogjaROCKarta #1 dengan membuat semua penonton bernyanyi Huma di Atas Bukit, Cermin, Bus Kota, Kehidupan, Semut Hitam, Musisi, dan tak ketinggalan dua lagu balad abadi mereka Syair Kehidupan dan Panggung Sandiwara. 

Aksi panggung para opa ini masih sangat atraktif menyuguhkan 12 lagu, tak berubah seperti dua dekade lalu saat ia tampil di Kridosono. Meski sudah berumur, Ahmad Albar, Ian Antono, dan Donny Fatah tetap garang di atas panggung.

Dream Theater naik panggung utama tepat pukul 21.00. James LaBrie dan kawan-kawan membuka konser dengan Dark Eternal Night dari album Systemic Chaos (2007), The Bigger Picture dari self-titled album Dream Theater (2013) dan dua lagu dari album terbarunya The Astonishing (2016) yakni The Gift of Music dan Our New World.

Koleksi dari album Falling into Infinity (1997) Hell’s Kitchen juga memanaskan panggung disusul As I am dari album Dream Theater yang paling berat dan ‘gelap’ Train of Thought (2003) dan Breaking All Illusions yang sangat progresif dari A Dramatic Turn of Events (2011).

Sesuai judul tur Images, Words & Beyond, Dream Theater mengembalikan memori penonton ke awal 1990-an ketika album monumental Images and Words (1992) menyita perhatian pecinta metal progresif. Lima sekawan itu membawakan semua lagu dalam album keduanya itu secara apik. Kualitas live-nya persis seperti mendengarkan rekaman studio dalam kaset pita yang diputar bolak-balik dari side A ke side B –dulu album ini dijual di Indonesia masih dalam bentuk kaset.

Secara berurutan, band asal Boston, Amerika Serikat, itu memainkan Pull Me Under, Another Day, Take the Time, Surrender, Metropolis part 1, Under a Glass Moon, Wait for Sleep, dan Learning to Live. Lagu A Change of Season yang panjangnya lebih dari 23 menit dengan aksi instrumental yang atraktif menjadi penutup konser.

Menyaksikan Dream Theater tak lengkap hanya dengan mendengarkan lagunya karena band ini dikenal dengan teknik bermusik yang memukau di atas panggung. Semua personelnya bukan hanya jago menulis lagu dan mengaransemen musik, tetapi juga pakar instrumen kelas wahid. 

Malam itu, John Petrucci menunjukkan kualitasnya sebagai gitaris dunia dengan skill yang paripurna. Gitaris berdarah Italia yang tampil brewok lebat mirip Kapten Haddock di komik Tintin itu beberapa kali unjuk kebolehan bersama pembetot bass John Myung.

BASS. Permainan bass John Myung memukau penonton. Foto dari Rajawali Indonesia

BASS. Permainan bass John Myung memukau penonton.

Foto dari Rajawali Indonesia

Keduanya tampak punya chemistry yang kuat karena merupakan teman bermain sejak kanak-kanak, lalu menjadi teman satu kampus di Berklee College of Music, Massachusetts. Duo John inilah yang mendirikan Dream Theater dan memberi karakter progresif yang kuat di setiap sentuhan komposisi musik mereka.

Jika ada pemain keybord yang penampilannya ‘gila’ di panggung, Rudess adalah satu di antaranya. Keybord-nya yang dilengkapi iPad bisa diputar ke arah mana musisi berjenggot putih itu ingin bergerak. Permainan Rudess sangat eksplosif, bahkan saat bermain solo mengiringi lagu Wait for Sleep yang ringan.

KEYBOARD. Jordan Rudess di balik keyboardnya. Foto dari Rajawali Indonesia

KEYBOARD. Jordan Rudess di balik keyboardnya.

Foto dari Rajawali Indonesia

Sang ‘metronom’ Mike Mangini seperti biasa selalu menjadi bintang pertunjukan. Susunan drumset yang super rumit dan megah di panggung tengah menjadi daya tarik bagi penonton untuk memotret. Mangini mengambil alih semua panggung di sela instrumen panjang lagu Metropolis, dan memainkan solo drum yang mengundang riuh tepuk tangan untuk sang profesor perkusi itu.

DRUMMER. Mike Mangini sang drummer. Foto dari Rajawali Indonesia

DRUMMER. Mike Mangini sang drummer.

Foto dari Rajawali Indonesia

Sementara vokal James LaBrie tetap prima meski ia tampil marathon dalam rangkaian turnya di Asia dan Australia. Rocker asal Kanada yang mengaku kangen ke Indonesia itu tak pernah diam menjahili kawan-kawannya dengan berbagai lelucon, dan juga memberi pujiaan terhadap skill bermusik mereka satu per satu.

LEAD VOCAL. James LaBrie sang vokalis utama Dream Theater. Foto dari Rajawali Indonesia

LEAD VOCAL. James LaBrie sang vokalis utama Dream Theater.

Foto dari Rajawali Indonesia

Dream Theater masih akan memanjakan penggemarnya dengan musik-musiknya yang rumit dan berat di JogjaROCKarta #2 yang digelar oleh promotor Rajawali Indonesia malam ini, 30 September, di Stadion Kridosono. Ikuti terus update beritanya di Rappler. —Rappler.com