Kemampuan yang harus dimiliki untuk menjadi relawan yang profesional

JAKARTA, Indonesia — Sebagai rangkaian kegiatan Bulan Relawan Nasional, Festival Relawan mengadakan berbagai kegiatan diskusi panel yang berkaitan dengan kerelawanan, salah satunya yaitu Kerelawanan Berbasis Keahlian Profesional.

Acara tersebut diselenggarakan di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, pada Minggu, 18 Desember.

Dalam diskusi ini dibahas bagaimana cara seorang relawan dalam menjalani kegiatan kerelawanan dengan berbagi kemampuan profesional dan membantu perkembangan organisasi maupun peningkatan layananan dengan menjadi motivator

"Salah satu sumber daya untuk menjadi relawan adalah di organisasi-organisasi yang stabil salah satunya itu perusahaan. Jadi saya rasa, suatu tujuan bagus untuk perusahaan benar-benar membentuk sumber daya untuk menjadi relawan," kata Mardi Wu, CEO Nutrifood. 

Menurut Prasetya B Yudaputra, Head of Human Capital & GA PT Ruma, tantangan dan hambatan dalam menjadi relawan adalah dana yang terbatas serta waktu yang terbatas. Sebab, kebanyakan orang hanya bisa menjadi relawan di luar jam kerja.

Tetapi, lanjut Prasetya, kalau kita benar-benar melakukan itu karena tidak ikut-ikutan, maka dalam melakukan kerelawan diri kita itu akan melakukan yang terbaik dengan profesional. 

Selain itu, di dalam proses mentoring butuh waktu yang lama yaitu 6 bulan. Kebanyakan relawan atau motivator dalam kerelawanan adalah orang yang sibuk, sehingga harus ada pembangian apa yang harus didiskusikan disetiap pertemuannya. 

Pada umumnya, para relawan ini memiliki keahlian lebih yang dapat dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan bimbingan dalam melakukan pekerjaannya.

"Terkadang orang yang dibantu itu datang tidak hanya untuk mendapat keahlian khusus, tetapi juga butuh untuk disemangati,sehhingga para volunteer juga harus memberikan semangat dengan cara mendengarkan cerita mereka," kata Rommy Cahyadi, Director Unlimited Indonesia. 

Ia menekankan, menjadi seorang volunteer itu harus mulai dari hati dengan tidak ikut-ikutan, menjadi diri sendiri, bisa mengatasi kesenjangan, dan memiliki komitmen dalam menjalani kerelawanan. —Rappler.com