Pentingnya kesetaraan gender dalam menghindari kekerasan terhadap perempuan

JAKARTA, Indonesia — Tahukah Anda bahwa menurut data UN Women, ada 35 kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia setiap harinya?

Hal tersebut diungkapkan dalam sebuah acara bertemakan “Women Speak Out, End Violence Against Women” di The Warehouse, Plaza Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lulu. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari peringatan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan sejak November hingga Desember.

Data UN Women juga mengungkapkan bahwa satu dari 3 perempuan di dunia pernah atau sedang mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun seksual.

Musisi Kartika Jahja mengatakan kaum perempuan saat ini sangat membutuhkan suaranya didengar, terutama bagi mereka yang masih mengalami kekerasan.

"Sebagai musisi sebenarnya saya punya corong untuk menghibur serta menyuarakan isu yang bukan hanya pada perempuan saja, tetapi ini masalah kita bersama," kata Kartika.

Oleh karena itu Kartika, dengan beberapa orang lainnya, mendirikan Yayasan Bersama Projek, yaitu yayasan yang mempromosikan kesetaraan gender melalui musik serta seni dan bekerja sama dengan para musisi.

Selain Kartika, aktris Nova Eliza mengatakan bahwa pada tahun lalu ada suatu proyek untuk korban kekerasan perempuan dengan melibatkan 60 publik figur yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda untuk ikut melakukan kampanye sosial yang diwujudkan dalam media fotografi dan melalui foto mereka dapat bersuara.

Tahun ini, Nova yang mewakili Yayasan Suara Hati Perempuan, juga membuat kampanye Suara Hati Lelaki. Diharapkan melalui kampanye ini, laki-laki juga dapat berperan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.

"Dengan laki-laki ikut berkontribusi melalui mediasi fotografi ini, diharapkan bisa menyebarkan kebaikan dan kelembutan agar laki-laki yang ada di Indonesia berhenti melakukan kekerasan," kata Nova.

Ia mengatakan, Suara Hati Lelaki adalah suatu kampanye untuk laki-laki, dari laki-laki, oleh laki-laki dan penting untuk mengedukasi laki-laki.

Sedangkan Nisaa Yura dari Solidaritas Perempuan mengatakan bahwa cara berpikir kita semua harus dibongkar supaya dapat membuka pikiran kita terhadap kekerasan. 

Menurutnya, sangatlah penting untuk membicarakan kepada publik agar tidak menerima dan tidak mentoleransi sama sekali setiap kejadian kekerasan. Karena menurutnya, ketika terjadi kekerasan terhadap perempuan, hal tersebut dapat memengaruhi sekeliling kita.

"Kemajuan gerakan perempuan ini sebenarnya sudah cukup baik dan bagaimana kita bisa terkoneksi satu sama lain, melalui diskusi bersama untuk menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan," kata Nisaa.

“Kekerasan berbasis gender adalah musuh peradaban. Jadi perlu berjuang untuk membangun peradaban yg lebih baik,” ujarnya. —Rappler.com