KPK: Setya Novanto resmi ditahan selama 20 hari

JAKARTA, Indonesia - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya resmi menahan Ketua DPR Setya Novanto hingga 20 hari ke depan. Surat perintah penahanan mulai berlaku pada Jumat, 17 November hingga 6 Desember mendatang.

“KPK melakukan penahanan terhadap SN (Setya Novanto) berdasarkan bukti yang cukup. Tersangka SN diduga keras telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan beberapa pihak lain dalam kasus dugaan korupsi KTP Elektronik. Tersangka ditempatkan rutan negara Klas I Cipinang Jakarta Timur cabang KPK selama 20 hari ke depan,” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah ketika menggelar jumpa pers di kantor KPK pada malam ini.

Simak pemberian jumpa pers dalam video berikut: 

Konferensi Pers Penahanan dan Pembantaran Penahanan Tersangka e-KTP https://t.co/UyJHjqqS2B — KPK (@KPK_RI) November 17, 2017

Namun, karena kini Setya masih dirawat di RSCM Kencana, maka lembaga anti rasuah itu membantarkan pria berusia 62 tahun tersebut. Ketua Umum Partai Golkar itu dibutuhkan rawat inap untuk kebutuhan observasi lebih lanjut.

KPK pun telah menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk ikut memberikan pendapat kedua mengenai kondisi Setya sehingga dianggap layak untuk mengikuti proses penyidikan. Penyidik KPK mengumumkan akan menahan Setya sebelum ia dirujuk ke RSCM.

Di kamar perawatan, penyidik memperlihatkan dan membacakan surat perintah penahanan untuk Setya.

“Namun, kuasa hukum Setya menolak untuk menandatangani Berita Acara Penahanan sehingga BA Penahanan ditanda tangani oleh penyidik dan dua orang saksi dari RS Medika Permata Hijau. SN pun tidak menandatangani surat tersebut. Lalu, satu rangkap dari surat itu diserahkan kepada isteri SN, Deisti Astriani,” kata dia.

Sesuai dengan aturan, penyidik kemudian juga menyiapkan Berita Acara Penolakan Menandatangani Berita Acara Penahanan. Tetapi, BA itu pun juga ditolak mentah-mentah oleh kuasa hukum Setya Fredrich Yunadi.

Menurut Febri, proses penahanan terhadap Setya tetap bisa dilakukan walaupun kuasa hukum menolak hal tersebut. Sebab, perintah penahanan sudah dilakukan sejak Rabu kemarin.

“Kami pastikan proses penahanan ini sah, sejak perintah penahanan kita terbitkan (suratnya) kemudian kami bacakan. Bahkan, kami serahkan BA Penahanan satu rangkap kepada isteri tersangka. Begitu pula untuk proses pembantaran,” tutur dia.

Lalu, sampai kapan Setya akan dirawat di RSCM? Febri mengaku itu semua tergantung pada proses pemeriksaan dokter. Ia yakin dokter di RSCM dan tergabung dalam anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dapat menjalankan tugasnya secara profesional.

Setya dirujuk ke RSCM dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau untuk menjalani proses CT Scan. Rumah sakit sebelumnya tidak memiliki fasilitas tersebut.

Sementara, kuasa hukum Setya, Fredrich menyebut jika cedera di bagian kepala kliennya sudah tidak bisa lagi ditunda pengobatannya. Saat ini, Setya dirawat di lantai 7 kamar VVIP dengan mendapat penjagaan yang ketat dari tim KPK dan Polri.

Ditolak mentah-mentah

Sejak awal, Fredrich sudah menolak mentah-mentah surat perintah penahanan yang disodorkan penyidik KPK ketika kliennya masih dirawat di RS Medika Permata Hijau.

"Tadi ada peristiwa yang kurang mengenakkan terjadi antara KPK dengan keluarga dan dengan saya. Karena tadi setelah ada kesepakatan bahwa Pak SN dipindahkan ke RSCM karena masalah medis, tiba-tiba KPK mengeluarkan surat mengatakan bahwa Pak SN telah ditahan dan sekarang menjadi wewenang KPK," ujar Fredrich.

Ia menegaskan kliennya belum pernah diperiksa oleh KPK. Fredrich mempertanyakan undang-undang mana yang memberikan kewenangan bagi KPK menahan seseorang tanpa proses pemeriksaan terlebih dulu.

"Saya tanya itu ke KPK, mereka bilang punya wewenang. Saya tanya wewenang mana, KPK tetap bilang punya wewenang. Tapi tidak bisa sebutkan undang-undangnya," katanya.

Dia menegaskan baik dirinya maupun pihak keluarga tidak ada yang bersedia menandatangani surat penahanan yang dikeluarkan KPK itu.

"Surat tersebut tidak ada yang mau menandatangani," tutur dia. - dengan laporan ANTARA/Rappler.com