Kolaborasi sineas Indonesia dan Jepang di film 'Laut (The Man from the Sea)'

JAKARTA, Indonesia — Film berjudul Laut (The Man From The Sea) merupakan hasil kerjasama dua negara Indonesia dan Jepang. Film ini akan rilis di Jepang pada awal tahun 2018, bertepatan dengan perayaan ulang tahun persahabatan Indonesia-Jepang ke-60.

Film ini digarap oleh dua produksi yaitu Nikkatsu (Jepang) dan Kaninga Pictures (Indonesia). Para pemain pun merupakan aktor dan aktris dari Indonesia dan Jepang. Aktor dan aktris Jepang yaitu Dean Fujioka, Taiga, Junko Abe dan Mayu Tsurata. Sedangkan dari Indonesia yaitu Adipati Dolken dan Sekar Sari.

Film ini menceritakan seseorang bernama Laut (Dean Fujioka) yang secara misterus terdampar di pesisir pantai dan melakukan berbagai keajaiban. Memiliki latar belakang tempat di Banda Aceh, dikarenakan sang director Fuji Fukuda merasa ada kemiripan Banda Aceh dan Jepang.

"Ide dari film ini datang ketika saya pertama kali mengunjungi Aceh pada bulan Maret 2011, tepat setelah gempa besar yang kala itu baru saja terjadi di Jepang," jelas Koji Fukuda saat konfrensi pers di Grand Indonesia, Jakarta 7 November 2017. "Saya sangat senang dengan para pemain dan suasana di Aceh. Para pemain seakan sudah kenal lama dan akrab, dan suasana di Aceh sangat nyaman," lanjutnya.

Film bergenre fantasi dan drama ini akan tayang pada awal tahun 2018 di Jepang. Dan di Indonesia sendiri, film ini akan tayang di pertengahan tahun 2018. Hal itu dikarenakan, setelah tayang di Jepang awal tahun 2018, film ini akan mengikuti beberapa film festival terlebih dahulu, barulah akan tayang di Indonesia.

"Kami sebenarnya ada niatan untuk menanyangkan secara premiere di Aceh. Dikarenakan agar warga yang terlibat dalam proses produksi dapat melihat seperti apa film Laut. Di sana belum ada bioskop dan kami berencana ingin membawakan segala alat untuk penayangan premiere nanti dari Jakarta," ucap salah seorang pembicara dari Kaninga Pictures dalam konferensi pers di Grand Indonesia.

Yang menarik dalam film ini, terdapat empat bahasa yang digunakan. Yakni Bahasa Indonesia, Jepang, Inggris, dan Aceh. Seperti yang dikatakan Tsukamoto Norihisa, selaku Director General The Japan Foundation dalam konferensi pers, ini merupakan salah satu contoh kolaborasi yang lahir dari dialog budaya antara sineas Jepang dan Indonesia. —Rappler.com