Leicester City vs Liverpool: Penyakit yang perlahan membunuh tim

JAKARTA, Indonesia — Leicester City bukan satu-satunya tim yang mengalaminya.  Menjadi raja semusim kemudian ambruk mengalami kekalahan demi kekalahan di musim berikutnya.

Jauh sebelum kita menyebut mereka sebagai keajaiban agung dalam sejarah sepak bola, dunia olahraga juga mencatat keterpurukan terbesar di kasta tertinggi kompetisi profesional.

LA Lakers adalah tim yang secara luar biasa menjadi juara NBA 1980. Tapi, bahkan mencapai final saja di tahun berikutnya mereka tak bisa. Pat Riley, pelatih hall of fame yang mengantar enam tim berbeda menjadi juara NBA—termasuk Lakers di dua tahun roller coaster itu—menyebut situasi itu sebagai, “The disease of more.”

Penyakit yang muncul karena keinginan lebih. Keinginan-keinginan yang perlahan membunuh tim. 

Riley menyebut bahwa seringkali tim juara anjlok bukan karena kekuatan-kekuatan di luar tim. Atau karena lawan yang jauh lebih baik. Tapi kerap karena hal-hal dalam diri tim itu sendiri. Tim melemah karena ulah anggotanya. 

Lakers yang secara mengejutkan juara pada 1980, seperti sebagian besar orang, mulai menginginkan sesuatu yang lebih setelah mereka juara. Awalnya, sesuatu yang “lebih” itu “hanya” gelar juara. Karena itu merupakan satu-satunya yang mereka inginkan, mereka memberikan segalanya.

Tapi setelah mencapainya, keinginan-keinginan itu tak lagi soal juara. Tapi menjelma menjadi uang, iklan televisi, waktu bermain, perlakuan spesial, perhatian lebih media, dan lain sebagainya. 

Mereka lupa bahwa mereka telah meninggalkan hal-hal dasar yang telah menjadikan mereka meraih segalanya musim lalu. Tim yang hanya punya satu obsesi, yakni meraih gelar. 

Akibatnya, mereka yang dulu dikenal sebagai tim yang solid, saling mendukung, bekerja keras mati-matian di lapangan, dan bermain tanpa beban apapun, kini limbung. 

Kerja keras menjadi sesuatu yang membosankan. Perbincangan soal strategi menjadi team talk yang tidak menarik. Manajer tua cuma orang beruntung yang mewarisi skuat terbaik pelatih sebelumnya. 

Iming-iming bir dan pizza setiap cleansheet dan gol mulai terasa hambar. 

Para pemain mulai menginginkan hal-hal sensasional. Mereka merasa haus mendapatkan ganjaran yang lebih. Soliditas tim berganti menjadi sosok-sosok individualis yang elitis. Perbincangan di luar pertandingan mulai tidak menarik. Emosi mulai terlibat. 

Dan seorang pelatih tua yang didatangkan dari Italia 1,5 tahun yang lalu tiba-tiba terusir dari tempat yang sempat dia anggap akan jadi rumahnya untuk waktu lama. 

“Setelah kamu mendapatkan kesuksesan, kamu menginginkan sesuatu yang lebih. Kamu ingin terus mengejarnya hingga melupakan hal-hal yang justru membuatmu menjadi juara,” kata Riley seperti dikutip New York Times dalam sebuah artikel yang diterbitkan 24 tahun lalu. 

Mini Cooper yang hilang dari pelataran parkir

Situasi di Lakers memang belum tentu terjadi di Leicester City. Tapi, gejala penyakit super star mulai muncul.

Striker Jamie Vardy dipuja sebagai sosok yang secara heroik mampu menembus ketatnya Liga Primer. Dari sekadar pemain amatiran menjadi pemain profesional.

Popularitasnya semakin meroket karena dia adalah warga Inggris. Dia berhasil bersaing dengan para imigran sepak bola lainnya yang jauh lebih hebat. Bahkan kisahnya pun hendak difilmkan—atau mungkin sudah. 

Riyad Mahrez mulai banjir tawaran dari klub-klub besar. Danny Drinkwater akhirnya bisa menembus timnas Inggris—meski hanya 3 kali. Kasper Schmeichel mulai berpikir dia sudah menyamai level bapaknya.  

Belakangan, memang hanya N’Golo Kante yang meninggalkan tim. Tapi kepergiannya tak hanya menjadi penanda bahwa kerja keras telah hilang dari King Power Stadium. Tapi juga panutan dalam hal etos kerja dan kesederhanaan. Wes Morgan dan kawan-kawan kehilangan pemain panutan.

Dalam salah satu buku biografinya, Jamie Vardy pernah bertanya kepada Kante. Saat itu, pemain yang kini berseragam Chelsea itu baru didatangkan dari tim gurem nun di Perancis sana.

Vardy bertanya, bagaimana dia akan datang ke tempat latihan?

Kante cuma menjawab sederhana. “Sepertinya saya akan jalan kaki saja,” katanya polos.

Tentu saja tawa Vardy meledak. Dia melihat kesederhanaan gelandang hitam yang hanya bisa berlarian mengitari hampir semua sektor lapangan itu sebagai lelucon. 

Memang, pada akhirnya Kante tidak benar-benar jalan kaki ke Belvoir Drive, tempat pusat latihan Leicester City. Dia menumpang Mini Cooper yang dia beli dari gajinya di klub milik taipan Thailand itu.

Bagi pesepak bola dengan bayaran miliaran rupiah per pekan, Mini Cooper jelas kelewat sederhana. Mobil Kante itu harus tenggelam di antara super car dan mobil-mobil mewah rekan setimnya. Konon kabarnya, bahkan hingga di Chelsea pun dia enggan berganti tunggangan. 

Etos yang hilang itu bisa digambarkan dari statistik yang dicatat Telegraph. Media Inggris itu memberi contoh dalam hal intersep. Dalam 12 laga pertama musim lalu, Leicester mencatatkan 267 intersep. Musim ini, dalam jumlah laga yang sama, mereka hanya mencatatkan 174 kali. 

Begitu juga dalam hal tekel. Total rata-rata tekel musim lalu mencapai 22,9 per pertandingan. Bandingkan dengan musim ini yang hanya 16,7. 

Memang, bisa dipahami bahwa anjloknya jumlah tekel tersebut karena kepergian Kante. Tapi sebuah tim seharusnya tak bisa hanya mengandalkan satu pemain.

Jika Kante bisa melakukannya, para pemain lain seharusnya juga bisa. 

Kecuali jika tugas merebut bola dan mundur untuk menjaga pertahanan itu dianggap pekerjaan yang kotor bagi Danny Drinkwater, Marc Albrighton, atau Jamie Vardy, dan para pemain lain menjadi aktor intelektual dalam kudeta Claudio Ranieri. 

Jika itu yang terjadi, biarkan karma pak tua asal Italia itu dibalaskan Liverpool dalam pertandingan yang akan digelar pada Selasa, 28 Februari, pukul 03.00 WIB. Kemudian dilanjutkan Arsenal dua pekan lagi, Tottenham Hotspur delapan pekan lagi, dan Manchester City sebelas pekan lagi.

Tim yang secara ajaib menjuarai Liga Primer, kini telah ditinggalkan keajaiban itu. Justru di saat mereka benar-benar membutuhkannya. —Rappler.com