Manchester United vs Arsenal: Arsene Wenger mengejar superioritas

MENANG. Danny Welbeck merayakan gol bersama rekannya dalam pertandingan melawan Norwich City di Emirates Stadium, Sabtu, 29 April. Foto dari Twitter/@arsenal

MENANG. Danny Welbeck merayakan gol bersama rekannya dalam pertandingan melawan Norwich City di Emirates Stadium, Sabtu, 29 April.

Foto dari Twitter/@arsenal

JAKARTA, Indonesia — Arsenal baru saja membangun dominasinya di Liga Primer saat menjadi juara pada 2003-2004. Tak tanggung-tanggung, mereka meraihnya dengan status mentereng: sama sekali tak tersentuh kekalahan. 

Gelar tersebut menyempurnakan capaian mereka sebelumnya yang meraih juara pada 1997-1998 dan 2001-2002. Trio gelar itu diraih bersama Arsene Wenger, “sang profesor” dari Perancis.

Dengan status tak terkalahkan dan 2 gelar sebelumnya sudah di tangan, tak salah jika Wenger mulai berharap Arsenal menjadi tim dominan di Liga Primer. Seperti yang diraih Liverpool dan Manchester United. 

Konsistensi Arsenal dalam perburuan gelar saat itu juga memang menjadi pusat semesta baru Liga Primer setelah United. Bahkan, Sir Alex Ferguson yang masih dalam masa-masa jayanya yang panjang bersama Manchester United mengakuinya.

Menurut Fergie, di antara semua tim yang sempat merangsek ke papan atas seperti Blackburn Rovers dan Leeds United, hanya Arsenal yang dia anggap sebagai ancaman serius. Hal itu karena mereka adalah tim yang membangun gelar dalam jangka panjang.

Bukan tim “pasar malam” seperti Blackburn yang meroket karena pembelian pemain bintang. 

“Saya tidak pernah mengkhawatirkan tim-tim besar yang baru muncul. Saya hanya khawatir pada tim yang punya tradisi seperti Arsenal,” kata Fergie dalam buku tulisannya, My Autobiograpy

Bahkan, meski saat itu Chelsea sudah ditangani manajer asal Italia Claudio Ranieri, Fergie tak menganggap tim biru dari London itu sebagai ancaman. Begitu juga Liverpool dan Newcastle United yang menurut dia kejayaannya sudah lewat. “Arsenal adalah penantang kami. Tak ada yang lain,” katanya. 

Tapi, semua tatanan mapan itu berantakan setelah kehadiran Jose Mourinho di Chelsea. Lelaki asal Portugal itu memicu kegaduhan dari sisi barat London setelah mengklaim dirinya sebagai the special one

Harapan dominasi Arsenal pun langsung runtuh hanya berselang semusim berikutnya. Mourinho membawa Chelsea menjuarai Liga Primer di tahun pertama kedatangannya. Mengirimkan pesan baru kepada tim-tim besar lainnya. Bahwa Liga Primer bukan hanya Arsenal dan United. 

Dengan latar sejarah seperti itu, tak salah jika Wenger benar-benar “geregetan” dengan Mourinho. Apalagi, di musim 2005-2006, Mourinho kembali meraih gear juara Liga Primer. Membuat Chelsea untuk kali pertama dalam sejarah melakukan back to back alias mempertahankan gelar juara. 

Namun, kegaduhan yang ditimbulkan Mourinho tak berhenti sampai di situ. Mantan pelatih FC Porto itu melabeli Wenger sebagai manajer spesialis kegagalan sekaligus “si pengintip”. Tuduhan yang membuat pertemuan keduanya selalu emosional. Bahkan personal. 

Faktanya, manajer 67 tahun itu memang kerap dipecundangi Mourinho. Dalam 15 kali bentrok, Mourinho mengalahkan dia 8 kali, 6 kali seri, dan hanya sekali kalah. 

Bahkan saat gagal total bersama Chelsea di musim lalu pun, Mourinho masih sempat-sempatnya mengalahkan Arsenal 2-0 di Liga Primer. 

Dan sejak kehadiran Mourinho pada 2004 itu, Wenger tak pernah lagi meraih gelar juara. Bahkan meski pria kelahiran Setubal itu sempat meninggalkan Inggris selama 6 tahun untuk menangani Inter Milan dan Real Madrid pun, “sihirnya” masih bertahan. 

Latar sejarah plus statistik singkat tersebut menjadi bumbu pedas bentrok antara Manchester United yang kini ditangani Mourinho melawan Arsenal, Sabtu, 19 November pukul 19.30 WIB, di Old Trafford. 

Peluang Mourinho lebih berat

Namun, situasi kini jelas jauh berbeda. Mourinho masih memimpin transisi yang sulit di United. Mengawali liga dengan 3 kali kekalahan juga bukan start yang baik.

Bandingkan dengan penguasa klasemen sementara, Liverpool, yang hanya kalah sekali atau justru Tottenham Hotspur, tim yang berada satu setrip di atas United, yang sama sekali belum tersentuh kekalahan.

Selain itu, hingga pekan ke-11, Mourinho masih mencari formasi andalan jawara 20 kali Liga Primer tersebut. Meski selalu memasang formasi 4-2-3-1, komposisi pemain terus berubah. 

Paul Pogba, misalnya. Di awal liga dia terus dipasang sebagai defensive midfielder. Namun, seiring kekalahan dan hasil seri, dia mulai dipasang agak maju tepat di belakang striker. Perubahan tersebut membawa hasil. Dia ikut mencetak gol dalam lawatan United ke Swansea yang berakhir 3-1. 

Saat menjamu Arsenal di kandang nanti, problem formasi yang belum selesai itu masih harus ditambah absennya sejumlah pemain. Zlatan Ibrahimovic harus absen karena akumulasi kartu. Posisinya kemungkinan akan diserahkan kepada pemain belia Marcus Rashford. 

Sementara itu, bek kanan Antonio Valencia juga harus absen karena cedera. Begitu juga bek tengah Eric Bailly. 

Situasi itu jelas melemahkan lini depan dan belakang United. Terutama di lini belakang karena praktis mereka hanya akan mengandalkan para pemain pelapis seperti Marcos Rojo, Daley Blind, dan Matteo Darmian.

Darmian sangat jarang menjadi pilihan starter Mourinho. Sedangkan Blind kerap keteteran melawan tim yang menyerang dengan kecepatan. 

Kondisi yang sama sejatinya juga dihadapi Arsenal. Di lini belakang mereka kehilangan bek tengah Per Mertesacker dan bek kanan Hector Bellerin. Namun, posisi mereka masih lebih baik. Skhodran Mustafi bisa ditempatkan sebagai bek kanan. Mereka juga masih memiliki Laurent Koscielny yang bisa memimpin dari belakang.

Lini depan Arsenal juga tidak terlalu banyak persoalan. Mesut Oezil dan Theo Walcott bisa bermain. Begitu juga Alexis Sanchez yang dikabarkan siap diturunkan meski kelelahan setelah membela negaranya. 

Karena itu, bentrok yang hampir mencapai level “klasik” antara dua pelatih tersebut bakal menjadi momen spesial bagi Wenger untuk memperbaiki rekornya. Ini adalah saat yang tepat. Sebab, stabilitas Arsenal jika dibandingkan United jelas jauh berbeda.

Arsenal memiliki rata-rata produktivitas di atas 2 gol per laga dan rata-rata hanya kebobolan 1 gol. Bandingkan dengan United yang agresivitas golnya tak sampai 1,5 gol per laga. 

Mentalitas mereka juga jauh lebih baik karena tak terkalahkan dalam 10 laga terakhir. 

“Yang menentukan di laga ini bukan persoalan antara saya dan Mourinho tapi kualitas pertandingan,” kata Wenger.—Rappler.com