Menko Maritim Luhut Panjaitan: Pariwisata jadi “tambang baru” Indonesia

JAKARTA, Indonesia —Dalam acara Social Good Summit (SGS) 2017, Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan turut hadir, ia memaparkan bahwa sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. “Landscape berubah, kita ubah strategi. Bukan lagi tambang yang jadi nomor satu pemasukan negara, melainkan pariwisata menjadi penghasil terbesar,” ujarnya. 

Luhut juga memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin baik, diikuti dengan inflasi yang dibawah 4% dan indeks warga miskin yang mengalami penurunan. Hal ini menjadi berita baik, mengingat angka ini menjadi bukti dari kinerja berbagai pihak untuk melakukan pembenahan.

Sektor pariwisata di Indonesia juga tidak bisa terlepas dari wilayah laut. Sebagai negara maritim terbesar dengan 79% wilayah laut, Indonesia harus berkaca pada kondisi laut kita. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Luhut, Indonesia masih bermasalah dengan sampah-sampah plastik, hingga mencapai 0,48 - 1,29 juta ton. 80% dari total sampah plastik tersebut berasal dari darat.

SGS 2017 dengan tema People, Planet & Prosperity ini diadakan di Plaza Indonesia pada 4 Oktober dan sudah memasuki tahun ketiga. Acara ini merupakan kolaborasi dari UNDP dan Rappler, yang pada tahun ini berfokus pada biodiversitas kehidupan bawah laut.

“Ini never ending process, kita sedang membangun infrastruktur dan teknologinya. Pemerintah presiden Joko Widodo saya kira terus mengalami peningkatan untuk mendukung laut dan pariwisata Indonesia,” ujar Luhut.

Luhut juga menambahkan bahwa untuk melakukan itu semua, pemerintah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Teknologi juga berperan besar dalam efektivitas peningkatan kondisi laut Indonesia dan pariwisatanya.

“Di balik teknologi yang semakin berkembang, kita harus pikirkan risikonya. Dampak dari teknologi artificial intelligence memang bisa menghemat pekerjaan kita, tapi di sisi lain memangkas SDM,” papar Luhut. Luhut juga berpesan bahwa anak muda harus melihat ini sebagai suatu tantangan di masa depan. —Rappler.com