Memaknai mobilitas seni kontemporer di ‘Korea-Indonesia Media Installation Art Exhibition’

JAKARTA, Indonesia —Program seni yang didukung oleh Pusat Kebudayaan Korea ini telah berlangsung sejak tahun 2013 dan mengusung tema berbeda tiap tahunnya. Pada tahun ini, Korea-Indonesia Media Installation Art Exhibition yang ke-5 bertema Nomadic Traveler dan ingin mengeksplorasi mengenai perjalanan, pengembaran, serta perpindahan tempat.

“Perpindahan dalam hal ini juga termasuk perpindahan ruang dan waktu, perpindahan metode berkarya para seniman, dan perpindahan genre seni juga dibahas dalam pameran ini,” jelas salah satu kurator pameran, Evelyn Huang dalam temu media yang digelar di Edwin’s Gallery Kemang, Jakarta Selatan pada Kamis 7 September 2017.

Dalam mengangkat tema ini, nomadism yang dimaksud tidak terbatas pada pergerakan fisik, pameran ini juga ingin menunjukkan bahwa para seniman yang berpartisipasi tidak hanya menggunakan satu medium atau prinsip dalam berkarya, mereka melakukan perpindahan yang dinamis.

Karya seniman Korea dan Indonesia

Di tahun kelimanya berjalan, pameran ini menggaet delapan seniman asal Korea dan Indonesia yang karya-karyanya mencakup perpindahan materi, wacana, dan informasi di dalam masyarakat. Seniman-seniman yang berpartisipasi antara lain adalah FX Harsono, Julia Sarisetiati, Lee Hansu, Lee Sang Hyun, Lee Wan, Moon Hyungmin, Venzha Christ, dan Zico Albaiquni.

FX HARSONO. 'Light in the Suitcase' karya FX Harsono merupakan instalasi yang merepresentasikan perubahan yang terjadi seiring perpindahan zaman. Foto oleh Valerie Dante/Rappler

FX HARSONO. 'Light in the Suitcase' karya FX Harsono merupakan instalasi yang merepresentasikan perubahan yang terjadi seiring perpindahan zaman.

Foto oleh Valerie Dante/Rappler

Instalasi karya FX Harsono dengan judul Light in the Suitcase ini menampilkan kata-kata berbahasa Indonesia yang ia terjemahkan dari lien, pahatan kayu berisi puisi atau sajak yang dipajang di sudut-sudut pintu rumah-rumah bergaya Tionghoa di masa lampau.

Kata-kata tersebut ia tampilkan dengan medium lampu neon yang berpendar dari enam buah koper yang terbuka. Harsono menerjemahkan puisi-puisi Mandarin dari lien itu kata per kata dan secara harafiah, sehingga secara menyeluruh membentuk puisi yang sama sekali baru.

Instalasi ini merupakan simbolisasi dari transformasi akan sebuah harapan para migran pendahulu kepada kehidupan baru mereka di tanah yang baru, adanya perpindahan makna dalam hal baru.

LEE HANSU. Seri fotografi bertajuk 'c++swingby no. 201102' karya Lee Hansu yang menggambarkan keinginan manusia dan mempertanyakan identitas kemanusiaan. Foto oleh Valerie Dante/Rappler

LEE HANSU. Seri fotografi bertajuk 'c++swingby no. 201102' karya Lee Hansu yang menggambarkan keinginan manusia dan mempertanyakan identitas kemanusiaan.

Foto oleh Valerie Dante/Rappler

Karya Lee Hansu, seniman asal Korea ini berjudul c++swingby no. 201102. Seri fotografi yang sudah ia lakukan sejak 2002 ini menunjukkan komposisi eksentrik melalui penjajaran luar angkasa dan dunia nyata.

Lee, yang menggemari science fiction, menggambarkan keinginan manusia dan budaya hybrid diproyeksikan dalam sosok alien. Melalui seri ini, ia juga mempertanyakan identitas kemanusiaan yang berubah seiring perpindahan zaman.

Tema pertukaran budaya

Pameran ini diawali pada tahun 2013 menurut Evelyn pada saat itu sudah banyak modal pertukaran budaya di antara Korea dan Indonesia, tetapi belum banyak yang terjadi di ranah seni rupa kontemporer.

Sejak saat itu setiap tahunnya tim kuratorial mengangkat isu-isu atau topik seputar pertukaran budaya. Pada pameran pertama, topik yang diangkat mengenai negosiasi.

“Negosiasi berbicara mengenai perhatian yang diberi dua pihak, dan juga mengenai niatan untuk membuat kesepemahaman antara dua pihak dengan latar belakang budaya yang berbeda,” tutur kurator pameran, Jeong-ok Jeon.

Sedangkan pameran selanjutnya mengangkat tema alfabet atau bahasa yang digunakan ketika dua orang dari latar belakang budaya berbeda saling berinteraksi.

Seluruh tema yang telah dipilih merupakan salah satu prinsip dasar yang mendorong masyarakat untuk melakukan pertukaran budaya melalui medium seni rupa kontemporer. —Rappler.com