Tergusurnya museum anak kami

YOGYAKARTA, Indonesia – Sekretaris Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga Satiya Sawung tergopoh-gopoh menemui Rudi Corens. “Pak Rudi, kita harus pergi,” kata Rudi menirukan ucapan Satiya, Senin 10 Juli 2017.

Rudi Corens adalah pendiri Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga. Museum ini berlokasi di Lantai 2 Gedung Taman Budaya Yogyakarta, persis di bawah kolong tangga menuju Concert Hall.

Pada Senin, 3 Juli 2017 lalu, Satiya yang sedang berada di museum menerima sepucuk surat dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Taman Budaya Dinas Kebudayaan DIY. Surat teresebut diteken Kepala Unit Diah Tutuko Suryandaru.

Isi surat mengabarkan kegiatan perbaikan gedung yang akan dilakukan pada 3 Juli hingga 30 Oktober 2017. Pengelola gedung dalam surat tersebut menyampaikan permintaan maaf jika selama perbaikan berlangsung menganggu kenyamanan.

Satiya kemudian menemui Diah. Dalam pertemuan itu, Diah mengatakan seharusnya museum tak lagi menempati kolong tangga Taman Budaya sejak dua tahun lalu. “Semestinya kalian mulai packing,” kata Rudi menirukan ucapan Diah pada Satiya.

Meskipun Rudi sadar jika museum memang harus pindah. Bahkan, pengelola museum telah berupaya mencari lokasi baru sejak lima tahun lalu. Jumlah koleksi museum yang terus bertambah membuat kolong tangga itu sempit sebagai ruang pajang. 

Dengan jumlah koleksi mainan mencapai 18 ribu, pengelola menerapkan sistem tukar-pajang. Sementara sebagian koleksi dipajang di ruang pamer, koleksi lain disimpan di gudang RC Studio Jalan Tirtodipuran Yogyakarta.

Upaya mendapatkan gedung baru untuk museum dilakukan dengan beragam cara. Dari mencari pendanaan dari donatur hingga mengirimkan proposal bantuan ke Pemerintah DIY. 3 Januari 2017 lalu misalnya, pengelola museum menyampaikan persoalan mereka ke Dinas Kebudayaan. 

Namun tak banyak yang bisa pemerintah lakukan untuk membantu. Alasannya, hanya museum yang memenuhi syarat seperti diatur Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2015 tentang museum yang bisa mendapat bantuan pemerintah. “Harus punya tanah dan gedung sendiri,” kata Rudi menyebut kendala mendapat bantuan pemerintah.

“Museum tak mungkin memenuhi syarat itu,” kata Rudi. Duit kas tandas, bantuan donatur belum terkucur. Sejak 6 tahun lalu, Rudi bahkan menghabiskan sisa tabungannya untuk operasional museum. Ia mengaku tak menyesal dan justru bahagia melihat museum anak mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Lagi pula di usia 84 tahun, “I don’t need money that much,” kata lelaki asal Belgia itu.

Satu hal yang membuatnya kecewa. Permintaan Taman Budaya agar museum segera pindah terlalu mendadak. Tak ada kesempatan pengelola museum untuk mempersiapkannya.

Siang hari itu, Rappler Indonesia berusaha menemui Diah di kantornya. Tapi ia tak ada di ruangan. Seorang pegawai UPTD Taman Budaya menyebutkan Diah sedang berduka. “Bapaknya meninggal kemarin,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono juga belum bisa dimintai keterangan karena sakit. “Masih dirawat di rumah sakit,” kata Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo.

Singgih mengatakan pemerintah memiliki perhatian terhadap museum, baik negeri maupun swasta. Tapi pemerintah tak bisa memberikan bantuan bagi museum yang tak memenuhi persyaratan undang-undang. Andai saja museum memiliki aset tanah, pemerintah bersedia membangun gedung untuk mereka. “Kami hanya menjalankan peraturan,” katanya.

Persoalan ini, kata dia melanjutkan, muncul karena masalah komunikasi. “Barrier-nya di mana saya juga tak tahu, kami sedang mencari solusinya,” katanya.

Museum tak mati

Rudi segera menolak ketika lensa kamera mengarah untuk mengambil gambar dirinya. “The collections and the kids is the center point,” katanya sembari mengangkat telapak tangan menutup mukanya.

Di sebuah ruangan gedung berlantai dua di kompleks RC Studio, beragam mainan tersimpan. Ada yang tersusun di rak, tergeletak di lantai, hingga tersandar ke dinding. Sebuah sepeda kayu teronggok tak jauh di depan pintu masuk. Beberapa tahun lalu, Rudi membelinya dari seorang pedagang di Magelang, Jawa Tengah. Ternyata, kata dia, sepeda kayu serupa juga pernah ia temui di sebuah negara di Afrika.

Tak hanya sepeda kayu, permainan lain asal Indonesia juga banyak memiliki kemiripan dengan mainan asal benua lain. Egrang salah satunya. Berabad-abad lalu, alat serupa sudah digunakan oleh bangsa Romawi.  

Mainan tradisional asal Indonesia juga memiliki banyak keunikan. Rudi kini memperlihatkan mainan berbentuk mirip senggrong. Mainan itu berfungsi laiknya gitar dengan senar terpasang melintang. Sekilas mirip Sasando asal Nusa Tenggara Timur. “Mainan itu saya beli di Wonosobo,” katanya.

Salah satu mainan koleksi Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga. Mainan asal Wonosobo, Jawa Tengah itu berfungsi sebagai alat musik petik. Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

Salah satu mainan koleksi Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga. Mainan asal Wonosobo, Jawa Tengah itu berfungsi sebagai alat musik petik.

Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

Sebagian dari belasan ribu mainan itu sebelumnya terpajang di “Kolong Tangga” Taman Budaya Yogyakarta. Sejak 4 Juli 2017 lalu, pengelola museum memindahkannya menjadi satu di ruangan itu. Dengan Van penumpang, benda-benda itu dipindahkan sedikit demi sedikit. Bolak-balik mengangkut, secukup ruang mobil.

Rak dan lemari penyimpan sementara ditinggal karena tak muat masuk Van. Pengelola museum mengaku tak memiliki cukup dana untuk menyewa kendaraan lebih besar. Mereka pontang-panting memindahkan ribuan koleksinya.

Bagi Rudi, pindah dari Taman Budaya hanya soal waktu. Tapi berilah perhatian pada upaya penyelamatan koleksi museum. Mainan bukan sekadar mainan. Benda itu mengandung nilai budaya, pendidikan, serta menyulut geliat pariwisata. Sayangnya, pemerintah tak memiliki perhatian terhadap nilai itu.

Yang penting kini, kata dia, museum tak mati. Pengelolah sedang mencari lokasi baru.

Rudi mengawali museum Kolong Tangga sejak 9 tahun lalu. Setelah 30 tahun mengunjungi banyak negara di Asia, seniman teater, dosen, dan pecinta mainan itu jatuh hati pada Yogyakarta. Musababnya, kelucuan dan kepolosan anak-anak. Berbekal koleksi mainan miliknya dan sumbangan Rp 600 juta dari seorang teman asal Perancis, ia mendirikan museum mainan pada 2008.

Lambat laun, jumlah koleksi itu bertambah. Museum juga menggelar workshop untuk anak-anak, membuka perpustakaan, dan menerbitkan majalah Kelereng. Saban bulan, setidaknya tiga sekolah mengajak murid-muridnya mengunjungi museum.

Untuk menaungi museum, sebuah yayasan, yakni Yayasan Dunia Damai, dibentuk. Tak ada nama Rudi di sana meski ia pendirinya. Mainan koleksinya di sana juga bukan lagi miliknya. Seluruhnya telah hibahkan untuk anak-anak dan museum. “I’am not the center point,” katanya. Karena itu pula, ia menolak dipotret. —Rappler.com