Lika-liku pendeta jalanan menyelamatkan mereka yang terpinggirkan

SEMARANG, Indonesia — Tak jauh dari pusat kota Semarang, Jawa Tengah, terlihat anak-anak dengan gembira bermain di pinggir bantaran sungai Banjir Kanal Timur. Mendung menggelayut di atas langit tak menyurutkan keceriaan mereka.  

Saat Rappler menyambangi di lokasi tersebut, pada Senin siang, 6 Maret, beberapa bocah perempuan tampak berlarian masuk ke dalam gang kampung yang sempit. Pemandangan tersebut jamak ditemukan saat pengendara motor melintasi Kampung Pandean Lamper IV.

"Om, kapan main ke kolam renangnya?" kata seorang anak perempuan kepada seorang pria saat masuk ke sebuah rumah bercat kuning yang ada di pojok jalan tersebut.

Seorang pria yang dipanggil 'om' oleh anak itu pun langsung menjawab, "Minggu depan ya. Ke kolam renangnya minggu depan saja," katanya. 

Pria tersebut bernama Agus Sutikno. Sosoknya begitu nyentrik. Dengan penampilannya yang dipenuhi tato di sekujur tubuhnya, ia tak canggung berbaur dengan anak-anak Kampung Pandean Lamper. Tato yang melekat merupakan buah dari perjalanan hidupnya yang panjang.

"Sudah empat belas tahun lamanya saya tinggal di sini bersama anak-anak yang dianggap terpinggirkan,” kata Agus kepada Rappler.

“Mereka tinggal di kawasan kumuh yang bersinggungan dengan pekerja seks, komunitas waria, hingga pemulung," ungkapnya. 

Agus menyebut Pandean Lamper merupakan kampung yang punya permasalahan sangat kompleks. Karenanya, sejak 14 tahun terakhir ia tergerak masuk ke kampung tersebut. 

Sedikit demi sedikit ia bersosialisasi dengan warga setempat. Ia terenyuh melihat banyak anak putus sekolah dan harus bersinggungan dengan rumah-rumah bordil.

"Hati saya tersentuh melihat bagaimana ratusan anak di sini terbelenggu dalam lingkungan yang kumuh. Maka saya angkat derajatnya kembali dengan membiayai sekolahnya," ujarnya.

"Saya menyemangati mereka bahwa jangan takut sukses. Walaupun kalian di-bully sebagai anak pekerja seks, tapi kalian berhak mengenyam pendidikan sampai kuliah sekalipun," kata pria kelahiran Probolinggo tahun 1975 itu.

Kendati demikian, niatnya untuk mengentaskan para anak pekerja seks tak serta-merta disambut baik oleh warga setempat. Ia mengaku awalnya mendapat banyak cibiran. Dengan statusnya sebagai Pendeta Gereja Pantekosa, ia bahkan sempat dituduh melakukan kristenisasi. 

Padahal apa yang ia lakukan selama ini semata hanya menjalankan misi Tuhan. 

“Walaupun saya seorang pendeta Kristen, tapi saya pastikan di sini tidak ada yang pindah agama,” katanya dengan mata berkaca. “Saya hormati semuanya. Tidak ada kristenisasi. Ini murni misi Tuhan untuk mengasihi sesama manusia.”

Ia hanya berharap anak pekerja seks bisa bersekolah setinggi mungkin demi memutuskan mata rantai dunia pelacuran yang terlanjur melekat sejak lama. Dengan mengenyam pendidikan, para bocah malang itu bisa menggapai kesuksesan layaknya masyarakat umum lainnya.

Menyelamatkan ODHA

Di kampung Pandean Lamper dengan masalah nan kompleks tersebut, ia kini terus berusaha mengangkat derajat banyak orang, tak hanya anak-anak putus sekolah. 

Dengan mendirikan yayasan, Agus juga memasang badan bagi orang penderita HIV dan AIDS (ODHA). Di kampung tersebut memang sejak lama dihuni puluhan bahkan ratusan kaum marjinal. Kebanyakan warga berstatus minor lantaran banyak yang membuka jasa panti pijat, ditambah banyaknya waria dan pengemis. 

Agus Sutikno, seorang pendeta jalanan di Semarang, mencoba menyebarkan cinta kasih Yesus kepada anak-anak dan kaum termarjinalkan. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Agus Sutikno, seorang pendeta jalanan di Semarang, mencoba menyebarkan cinta kasih Yesus kepada anak-anak dan kaum termarjinalkan.

Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

"Saya tinggal dengan mereka. Karena itulah, saya wajib mengobatinya sampai sembuh," katanya. Bila tahun lalu ada tujuh ODHA yang meninggal, maka tahun ini ia berharap jumlahnya bisa berkurang. 

"ODHA tidak punya KTP sehingga sulit dapat pengobatan gratis. Akhirnya saya perjuangkan buat membiayai obatnya," katanya.

Melawan persepsi hamba Tuhan harus rapi

Meski memiliki niat baik, namun Agus juga sering mendapat cibiran bahkan dari sesama pendeta.

Sebaliknya, Agus justru menyoroti perilaku rekan-rekannya sesama pendeta Kristen yang keberatan dengan kegiatannya selama ini. Menjadi pemuka agama baginya tak melulu berkhutbah dan bersolek di dalam gereja. Melainkan harus mampu terjun untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas.

"Jadi enggak cuma khutbah pakai jas, dasi, lalu membacakan firman Tuhan di mimbar. Para pendeta wajib terjun ke masyarakat. Saya melawan persepsi bahwa menjadi hamba Tuhan tidak selalu harus berpakaian rapi," katanya.

Ia pun berpendapat bila kebanyakan pendeta Kristen terjebak dalam dogma yang telah mengakar sejak berabad-abad. 

"Semestinya kita bisa bersosialisasi seperti Yesus. Makanya saya tidak pernah mikirin untung rugi. Donatur selalu datang tanpa pamrih karena hati kecilnya terketuk," paparnya.

Dengan situasi yang kompleks, Agus berpendapat jika apapun yang dianut, tiap orang tak perlu saling menyalahkan dan mengkafirkan. Agama, menurutnya harus berdampak pada orang lain. 

"Meski saya beda agama tapi saya satu saudara dalam kemanusiaan. Mari kita semua jadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan dan alam semesta," ujarnya. —Rappler.com