Peringatan Asyura di Semarang kembali diancam dibubarkan ormas agama

SEMARANG, Indonesia - Pengajian Asyura untuk memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, kembali mendapat penolakan dari segelintir masyarakat Semarang. Sekelompok ormas berbasis agama menentang penyelenggaraan acara tersebut pada 1 Oktober di Gedung UTC, Jalan Kelud Raya, Kelurahan Sampangan.

Ormas yang tergabung dalam Forum Umat Islam Semarang (FUIS) menentang acara itu karena pengajian Asyura lekat dengan ajaran paham Syiah. Sementara, dalam pandangan mereka Syiah bukan bagian dari Islam dan dianggap aliran sesat.

“Kedatangan kami untuk menyampaikan terjadinya perayaan 10 Suro oleh Syiah. Jangan sampai (Syiah) memecah Islam karena Syiah bukan bagian dari Islam dan merupakan aliran sesat,” ujar Ketua Front Pembela Islam (FPI) Ungaran KH Rofii ketika beraudensi dengan pejabat Kementerian Agama pada Kamis sore, 28 September.

Rofii menuding perayaan Asyura jadi penanda perpecahan kaum Sunni dan Syiah, sehingga dikhawatirkan dapat memicu perpecahan Islam. Ia mengingatkan agar peristiwa yang terjadi di Iran dan berlangsung juga di Tanah Air.

Rofii justru menyamakan Syiah dengan kemunculan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Jangan sampai kena fitnah. Syiah sama PKI kudu ditindak tegas. Ya lebih baik Kemenag tidak usah memberi izin kegiatan buat Syiah dan PKI,” kata dia.

Tak kalah keras, upaya penolakan juga disampaikan oleh pihak Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS). Tengku Ashar, anggota DSKS mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar menerbitkan buku berisi beragam penyimpangan yang telah dilakukan oleh kelompok Syiah.

“Pahamnya menyimpang dan sengaja membangkitkan Al Suro pembunuh sahabat Husein. Itu dilakukan orang Syiah sendiri. Kita tidak ingin terjadi konflik, maka kepada pejabat terkait kami mohon supaya tidak memberikan ruang bagi mereka di Semarang," kata Tengku.

Pernyataan itu juga mendapatkan penegasan dari perwakilan ormas Aliansi Anti Syiah Mas'ud Izzul Mujahid. Ia mengatakan eksistensi kelompok Syiah di Tanah Air dapat membahayakan Indonesia.

“Syiah itu memang sengaja menghancurkan Islam dan membuat sentimen permusuhan terhadap Islam. Kalau kita biarkan maka mereka merajalela di negara kita," kata Mas’ud.

Sementara, perwakilan LUIS, Denok, mengancam akan menyerbu jemaah Syiah tidak membatalkan kegiatannya pada 1 Oktober mendatang. Ia menganggap Syiah telah menyalahi aturan pemerintah.

"Mau tidak mau (jika tidak dibatalkan) maka kami akan menggerakan ribuan laskar. Kami siap menggagalkan kegiatan tersebut kalau Kemenag tidak memberikan rekomendasi penolakan acara tersebut," kata dia.

Tetap digelar

Sementara, di tempat yang sama Kepala Tata Usaha Kemenag Jateng Muhammad Suhersi menolak usulan anggota ormas tersebut. Suhersi mengaku hanya merujuk kepada rekomendasi dari pihak kepolisian yang tetap mengizinkan perayaan Asyura digelar di Gedung UTC.

“Kami tidak berwenang ngasih rekomendasi, apalagi sesuai aturan pengajian dan haul tidak ada larangan," kata Suhersi.

Secara terpisah, Ketua DPP Ahlulbait Indonesia Jawa Tengah, Nur Cholis, menyayangkan atas ancaman yang dilakukan oleh segelintir anggota LUIS. Menurutnya, Syiah tidak pernah berbuat onar saat menggelar kegiatan di beberapa daerah.

“Haul di Semarang acaranya sama kayak tahun lalu. Diawali pembacaan Al Quran dan menyanyikan Indonesia Raya. Habis itu ada sambutan-sambutan dari pejabat Pemprov, Pemkot, MUI dan Kemenag. Lalu apa yang dipermasalahkan?” tanyanya kepada Rappler.

Nur meminta kepada LUIS untuk melihat sebuah acara keagamaan secara lebih obyektif. Indonesia sebagai negara hukum selalu menyelesaikan masalah dengan berpijak pada aturan yang berlaku.

Ia mengaku sudah bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemenag untuk membahas penolakan tersebut. Menurut Nur, alih-alih menolak, seharusnya LUIS menempuh jalur dialog dan bermusyawarah.

“Lebih baik bertabayun. Kami kan sudah menjelaskan acaranya kepada MUI dan Kemenag,” kata dia.

Menurut rencana, pengajian Asyura akan dihadiri antara 2.000 - 3.000 jemaah. Jika memungkinkan jumlah umat yang hadir dapat mencapai 6.000 orang. Ustadz Toha Musyawah dari Pekalongan akan hadir sebagai penceramah.

Nur mengatakan sebagian masyarakat Indonesia selama ini hanya melihat Syiah dari satu persepsi saja sehingga pihaknya selalu merasa disudutkan. Acara itu pun sudah mengantongi izin resmi dari Polrestabes Semarang, sehingga tidak ada alasan untuk batal diadakan.

Ancaman dari ormas membuat personel polisi nantinya turun tangan menjaga acara. Kepala Bagian Operasi Polrestabes Semarang, Ajun Komisaris Besar Iga DP Nugraha mengatakan personelnya telah bersiaga untuk memberikan pengamanan penuh saat Asyura berlangsung.

“Pada prinsipnya aparat kepolisian tetap hadir serta mengamankan segala kegiatan masyarakat dan tidak boleh muncul tindakan intoleransi," kata dia. - Rappler.com