Polres Rembang periksa 3 saksi pembakaran tenda perjuangan

SEMARANG, Indonesia — Kepolisian Resort Rembang, Jawa Tengah, mengatakan telah memeriksa tiga warga yang melihat langsung aksi pembakaran tenda perjuangan yang dilakukan gerombolan pria di lokasi tapal pabrik semen di lereng Pegunungan Kendeng.

Tindakan tersebut terus diusut oleh penyidik Satreskrim Polres Rembang untuk memburu para pelaku pembakaran tenda, serta musala tempat ibu-ibu petani Kendeng beribadah.

Wakil Kepala Polres Rembang Komisaris Polisi Pranandya Subyakto menyatakan, ketiga orang yang diperiksa itu kebetulan berada di area terdekat dengan lokasi pembakaran, sehingga mereka dinilai tahu detil berapa banyak pelaku yang bertindak anarkistis.

"Jika nantinya ditemukan unsur-unsur pidana, tentu polisi akan memproses secara hukum," kata Pranandya, saat dikonfirmasi Rappler, pada Minggu, 12 Februari.

Pihaknya juga menemukan setumpuk kayu sisa-sisa musala yang dibakar oleh pelaku. Musala milik ibu-ibu Kendeng itu terbuat dari bangunan kayu dan berukuran sedang. Bangunan tersebut baru dibangun awal bulan ini untuk tempat beribadah para penghuni tenda perjuangan.

"Itu bangunan dari kayu yang kadang-kadang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di tenda untuk salat saban hari," katanya.

Kendati demikian, ia menemukan kejanggalan saat menyelidiki lokasi pembakaran. Ia bilang petugasnya hanya menemukan kitab suci Al-Qur’an, sedangkan sajadah dan alat ibadah lainnya sudah hilang di lokasi kejadian.

"Sama sekali enggak ada, ini yang akan kita perdalam penyelidikannya, apakah dibawa kabur pelaku atau ikut terbakar nanti pelan-pelan kita ungkap," ujar Pranadya.

Sembari menunggu hasil penyelidikan, ia meminta kepada masyarakat di sekitar kaki Kendeng agar tetap tenang dan tidak perlu takut.

Untuk sementara ini, situasi di lokasi pembakaran tenda telah berangsur kondusif. Garis polisi masih dipasang di lokasi kejadian, serta sejumlah penghuni tenda terpaksa dievakuasi terlebih dahulu.

Puluhan anggota kepolisian, lanjutnya, juga masih bersiaga di sepanjang jalur masuk pabrik semen. Ia menampik anggapan bahwa saat kejadian reaksi kepolisian cenderung lambat. 

"Tidak benar, kita tetap ke lokasi saat ada laporan kebakaran di tenda perjuangan," terangnya. 

Sedangkan, sejumlah petani Kendeng akhirnya mendatangi Mapolda Jateng untuk melaporkan kasus pembakaran tenda, pada Jumat petang, 10 Februari, lalu. 

Sukinah bersama koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Joko Prianto datang bersama belasan petani, pada Sabtu sore, 11 Februari. 

"Kami sekarang sedang membuat berita acara adanya tindak anarkistis yang berujung pembakaran tenda perjuangan milik kami di tapal pabrik semen," kata Sukinah.

Ia mengaku sangat menyayangkan dengan adanya peristiwa ini. Pasalnya, menurutnya, PT Semen Indonesia untuk kesekian kalinya melakukan tindakan yang melawan hukum pasca izin pabriknya dicabut. 

"Kenapa mereka nekat melakukan seperti ini lagi, seharusnya mereka sadar bila pabrik semen sudah tidak bisa lagi beroperasi, izinnya sudah dicabut oleh Gubernur Jateng," katanya. —Rappler.com