Pramoedya Ananta Toer, tulisanmu tak lekang oleh waktu

JAKARTA, Indonesia — Umur manusia boleh saja terbatas, namun ide-idenya akan terus hidup. Seperti penulis legendaris Pramoedya Ananta Toer, yang bila masih hidup, akan merayakan hari lahir ke-92 pada Senin, 6 Februari 2017.

Karya-karya Pramoedya, yang juga akrab dikenal sebagai Pram, memberikan gambaran Indonesia semasa imperialisme Belanda dan Jepang. Namun, semangatnya lebih dari itu. Jiwa dari satu pribadi yang menolak ditundukkan, ataupun dibelenggu kebebasannya.

Pram tak pernah berhenti berkarya kendati dirinya berkali-kali keluar masuk penjara. Pertama oleh pemerintah Belanda pada tahun 1947 karena dicap seorang anti-kolonial. Setelahnya, ia kembali mendekam di balik bui pada tahun 1960, karena mengkritik kebijakan anti-Cina pemerintahan Presiden Soekarno.

Hanya sebentar menghirup udara bebas, ia kembali dibekuk semasa pemerintahan Soeharto, karena keterkaitannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pram pun diberangkatkan ke Pulau Buru, bersama dengan tahanan politik lainnya.

Di sinilah mahakaryanya ditelurkan, yakni tetralogi Pulau Buru, yang mengisahkan perjalanan politik Minke—atau Raden Mas Tirto Adhi Soerjo di dunia nyata. Pram tak mendapatkan pena dan kertas untuk menulis, karena itulah ia mengisahkan karya ini secara lisan pada rekan seselnya.

Setelah berhasil menulis secara sembunyi-sembunyi dengan kertas dan pena selundupun, karya ini dikenalkan ke publik lewat teman Pram, seorang pendeta Jerman. Buntelan naskah diselundupkan keluar dari penjara untuk kemudian naik cetak. Selama rezim Soeharto, sulit untuk mendapatkan buku yang peredarannya dilarang ini.

Setelah dibebaskan pada 1979, ia menjadi tahanan rumah dan berada di bawah pengawasan ketat polisi hingga akhirnya Soeharto jatuh pada tahun 1998. Hingga akhirnya menutup usia pada tahun 2006, Pram tidak pernah berhenti bersuara untuk Indonesia.

Berikut kutipan-kutipan Pram yang masih relevan hingga saat ini:

 

Pram seringkali mengkritisi agama dan para pemeluknya. Dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan, ia menggambarkan kondisi penduduk sana yang hidup dalam kemiskinan. Meski demikian, orang-orang yang sudah kaya dan tamak tetap dengan semena-mena merampok dan membunuh kaum miskin.

Praktek tidak manusiawi tentu saja masih ada hingga saat ini, meski bentuknya berubah-ubah. Tak sedikit yang pelakunya berasal dari partai tertentu yang berbasis agama. Lewat kutipan ini Pram seolah mengingatkan kalau agama tidak pernah mengajarkan pengkhianatan pada siapapun.

Pram adalah contoh nyata dari kutipan ini. Bila ia memilih untuk menyerah pada keadaan dan berhenti menulis karena alasan keterbatasan, maka kita tak akan pernah mengenal ide-ide briliannya. Demikian pula Minke di dalam Rumah Kaca, yang mendirikan surat kabar dengan tulisan yang mampu membangkitkan semangat pemberontakan.

Siapapun kalian, apapun pekerjaan kalian, menulislah. Supaya ada peninggalan bagi generasi setelahmu. Supaya idemu ada yang memperjuangkan, atau setidaknya menjadi bibit perjuangan.

Adil dalam pikiran. Ya, kata-kata Pram ini akan terus abadi, karena sulit untuk diterapkan. Meski kamu sudah mengenyam pendidikan tinggi, ataupun berpengetahuan luas, masih sulit untuk berlaku adil.

Kadang, kenyamananmu sebagai bagian dari suatu kelompok membuatmu lupa kalau masih ada orang lain yang bernasib sama. Kamu tidak melihat dari sudut pandang mereka, tetapi dari sudut pandangmu dan segala keterbatasannya. Kamu menghakimi mereka, tanpa pernah mencoba memahami.

Akhirnya kamu menolak untuk bersimpati dan malah turut menghakimi dan menghujat. Bagi Pram, orang terpelajar tidak seperti ini. Adil sejak dalam pikiran, yang tentu terealisasi dari perbuatan. Dari pikiran yang tidak tercemar penghakiman sepihak.

Masih ada begitu banyak hal selain mengejar jabatan, pangkat, ataupun gaji. Masalah kemanusiaan, kesenjangan, ketidakadilan yang bertebaran di sekeliling kita.

Kalau memalingkan pandangan dan membuka wawasan, dunia seseorang bisa lebih dari sekedar menimbun harta ataupun pencitraan yang tak ada habis-habisnya.

Manusia seringkali berpikir berlebihan, tak hanya pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, namun juga zaman moderen ini. Seperti saat gebetan melirik dan pikiranmu langsung terbang hingga pernikahan.

Atau ketika seseorang mengaku tahu percakapanmu dengan pihak lain, kau langsung membuat pernyataan publik seolah dirimu adalah korban konspirasi jahat. Mungkin kau cuma mengartikan secara berlebihan, padahal maksud yang bersangkutan jauh berbeda dari pikiranmu.

Demikian pula dengan ayat-ayat kitab, ataupun ucapan  tokoh agama. Sering kau tafsirkan sedemikian rupa, membuatmu menjadi polisi moral yang berhak mengatur kehidupan orang lain; sekaligus mereka yang tidak sepaham denganmu.

Hidup itu sebenarnya sederhana, tapi pikiranmu yang membuat rumit. Atau, pikiran orang lain yang dipaksakan padamu yang justru menimbulkan kekusutan baru.

Apa kutipan atau karya Pram favoritmu? Ayo berdiskusi di kolom komentar!—Rappler.com