Adu kuat di utara Sumatera

DEBAT. Pasangan Djarot-Sihar memaparkan visi-misi dalam salah satu debat resmi KPU Sumut. Foto @therealsiharsitorus

DEBAT. Pasangan Djarot-Sihar memaparkan visi-misi dalam salah satu debat resmi KPU Sumut.

Foto @therealsiharsitorus

JAKARTA, Indonesia—Setelah gagal dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2017, Djarot Saiful Hidayat kembali ke gelanggang politik lokal. Kali ini, Pilgub Sumatera Utara (Sumut) menjadi tempatnya mengadu nasib. Kembali diusung PDI Perjuangan dan PPP, Djarot menggandeng Sihar Sitorus dalam laga elektoral itu. 

Nama Djarot mulai masuk radar Pilgub Sumut setelah bekas Gubernur DKI Jakarta itu kerap terlihat bolak-balik ke sejumlah daerah di Sumut, Desember 2017 silam. Djarot, kala itu, kerap disebut sedang 'mengecek ombak' elektabilitasnya di provinsi paling utara Pulau Sumatra itu. 

Gayung pun bersambut. Pada 7 Januari 2018, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan restunya. Keputusan itu, kabarnya, keluar dari PDIP setelah partai berlambang banteng moncong putih itu gagal meminang Eddy Rahmayadi sebagai calon gubernur. “Tolonglah terima Pak Djarot. Di sana banyak juga Jawa-nya," ujar Megawati ketika itu. 

PDIP mengusung Djarot karena ia dinilai sebagai sosok yang dikenalnya dengan baik sebagai mantan Wali Kota Blitar, Wakil Gubernur DKI Jakarta, dan Gubernur DKI Jakarta. Megawati yakin, Djarot bisa diterima oleh masyarakat Sumatera Utara yang berkarakter terbuka. 

Sebagai pendamping, PDIP mendapuk Sihar Sitorus. Seperti Djarot, Sihar juga merupakan salah satu anak kesayangan Megawati. Bahkan, Mega sempat berkelakar, harus berebut dengan putrinya Puan Maharani agar bisa mendapatkan Sihar sebagai pendamping Djarot. 

“Sihar ini ikut Mbak Puan di Kemenko PMK. Lalu saya bilang, ‘Saya ambil Sihar ya?’. ‘Jangan dong, Ma.’ Mbak Puan lagi jalan-jalan sama anaknya, saya ambillah dia (Sihar), biarin aja paling juga ngomel," kata Mega. 

Sihar merupakan anak dari taipan perkebunan sawit di Sumut DL Sitorus. Perusahaan DL Sitorus diketahui memiliki konsensi ribuan hektare lahan di Sumut. Sempat bekerja di PT Freeport dan Bursa Efek Indonesia, Sihar saat itu tercatat sebagai salah satu tenaga ahli di Kementerian PMK. 

Bersama Sihar, Djarot kini dikenal sebagai pasangan DJOSS. Djarot sendiri mengaku siap untuk bertarung lagi di laga elektoral. Ia bahkan berjanji bakal mereplikasi apa yang telah dicapainya bersama mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Ibu Kota. 

“Saya datang ke Sumut untuk jihad melawan kemiskinan, kebodohan dan narkoba. Oleh sebab itu waktunya tidak panjang lagi, tanggal 27 Juni nanti kita bersama ke TPS pilih Djoss. Agar Sumut lebih baik. Karena kami diturunkan bersama Sihar Sitorus ke Sumut untuk memperbaiki Sumut," ujar Djarot. 

Sedangkan Edy Rahmayadi yang telah mengincar kursi Gubernur Sumut sejak dua tahun lalu resmi menggandeng Musa Rajeksah atau yang akrab disapa Ijeck. Eddy merupakan pensiunan TNI sedangkan Ijeck dikenal sebagai pengusaha kaya di Sumut dan penyuka otomotif. 

Pasangan Edy-Ijek (Eramas) diusung oleh enam partai dan mengantongi 60 kursi di DPRD Sumut. Dengan dukungan sebesar itu, Eddy mengaku yakin menang mudah di Pilgub Sumut. Apalagi, nama pasangan Eramas juga kerap digdaya di papan survei. “Target 70% suara,” kata Eddy kepada wartawan usai resmi mendaftarkan namanya sebagai calon Gubernur Sumut ke KPUD Sumut, Januari lalu. 

Selain pasangan Eramas dan DJOSS, perhelatan Pilgub Sumut juga sempat diwarnai kehadiran pasangan JR Saragih dan Ance Selian. Namun, pencalonan jagoan Partai Demokrat, PKB dan PKPI itu harus kandas di tengah perjalanan. KPUD Sumut menolak pencalonan pasangan tersebut karena menduga ijazah JR Saragih palsu. 

Walhasil, hanya tinggal pasangan DJOSS dan Eramas yang tersisa. Posisi head to head itu menyebabkan suhu politik Pilgub Sumut menjadi kian panas. Isu politisisasi SARA pun kencang berhembus dengan kehadiran Djarot. 

Bawaslu Sumut bahkan mencatat ada sebanyak 182 pelanggaran yang dilakukan kedua pasangan calon pada masa kampanye Pilgub Sumut 2018. Tak hanya itu, saling serang, saling tuduh, dan saling lapor ke polisi juga dilakukan simpatisan para calon. 

Tiga hari menjelang pencoblosan misalnya, Sihar Sitorus dilaporkan ke Polda Sumut. Sihar selaku Direktur Utama PT Damai Jaya Lestari dilaporkan karena diduga melakukan penipuan dan perbuatan tidak menyenangkan. 

Di sisi lain, kampanye hitam yang belum jelas kebenarannya juga menyerang Ijeck, pasangan Eddy. Sejumlah meme beredar di dunia maya menyebut Ijeck sebagai pemeras dan koruptor. Ijeck memang beberapa kali dipanggil KPK untuk memberikan keterangan terkait kasus korupsi yang menimpa mantan Gubernur Sumut Gatot Pujonugroho. 

Infografis Rappler Indonesia

Kekuatan Eramas 

Baik di papan survei maupun dari segi jumlah kursi di DPRD Sumut, pasangan Eramas unggul jika dibandingkan pasangan DJOSS. Dari sigi 7 lembaga survei sejak awal Januari, 6 di antaranya menempatkan pasangan Eramas unggul jauh. Hanya survei Indo Barometer yang menempatkan DJOSS unggul tipis dari Eramas. 

Dari segi jumlah kursi di parlemen, Eramas juga dominan. Gabungan dari enam parpol menghasilkan 60 kursi. Jauh jika dibandingkan dari pasangan DJOSS yang hanya mengantongi 20 kursi gabungan kursi PDI Perjuangan dan PPP.

Salah satu keuntungan lainnya ialah keberhasilan pasangan Eramas menggaet PKS sebagai parpol pengusung. PKS dikenal jagoan Pilgub Sumut dan sudah dua periode berturut-turut mengantarkan kadernya berkuasa di Sumut. Belakangan, kekuatan politik Eramas juga kian besar setelah PKB resmi mendeklarasikan turut mendukung Eramas.

Di Pilgub Sumut, pasangan Eramas memiliki misi membawa Sumut menjadi provinsi yang bermartabat, dengan tersedianya sandang-pangan yang cukup, pendidikan yang layak, akses kesehatan yang mudah dan tata kelola pemerintahan yang profesional. Edy dan Musa juga berjanji akan membersihkan Sumut dari perjudian, narkoba, prostitusi dan penyelundupan.

Infografis Rappler Indonesia

Kekuatan DJOSS

Popularitas Djarot menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki pasangan DJOSS. Pilkada Jakarta pada 2017 yang berlangsung panas dan penuh drama membuat nama Djarot melambung ke level nasional. Tidak aneh jika warga Sumut sudah mengenal Djarot bahkan sebelum politikus PDI Perjuangan itu rutin menyambangi sejumlah daerah di Sumut.  

Pengalaman Djarot malang melintang di birokrasi sejak menjadi Walikota Blitar juga menjadi nilai plus. Hal itu terbukti dari sejumlah debat resmi KPU Sumut yang dilakoni pasangan DJOSS. Dari segi penguasaan materi, Djarot dan Sihar dinilai lebih unggul. Lazimnya, pemilih rasional baru menentukan pilihan setelah menyaksikan debat antarkandidat. 

Di sisi lain, Djarot juga ditopang kekuatan logistik yang mumpuni. Menurut data LHKPN yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sihar Sitorus tercatat sebagai kandidat dengan kekayaan yang tertinggi. Nilai harta Sihar disebut mencapai lebih dari Rp 350 miliar. 

Di Pilgub Sumut, pasangan DJOSS memiliki sejumlah misi, di antaranya mewujudkan pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, transparan, efektip, demokratis dan terpercaya serta melayani masyarakat, mewujudkan kualitas hidup yang tinggi, mewujudkan serta percepatan pembangunan infrastruktur, mengembangkan pariwisata dan mewujudkan masyarakat Sumatera Utara yang berketuhanan, berbudaya dan saling menghargai kebhinekaan dalam bingkai NKRI. 

Infografis Rappler Indonesia

Skenario potensial pembalik keadaan

Unggul di papan survei belum jadi jaminan bagi pasangan Eramas untuk memenangi Pilgub Sumut. Pasalnya, jumlah suara menambang yang hingga minggu terakhir pencoblosan belum juga memantapkan pilihan masih tinggi. Menurut catatan Indo Barometer, setidaknya ada 25,4% pemilih yang masih gamang. 

“Persaingan keduanya masih sangat ketat. Jadi, siapa pun nanti yang lebih intens kampanye di saat-saat terakhir, mungkin saja yang bakal jadi keluar menjadi pemenang di Pemilihan Gubernur Sumatera Utara,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat memaparkan hasil surveinya di Jakarta, pekan lalu. 

Survei Indo Barometer digelar pada periode 26 Mei-2 Juni 2018 dan melibatkan sebanyak 800 responden dari seluruh wilayah di Sumut. Besarnya suara mengambang di Pilgub Sumut, lanjut Qodari, membuat kedua pasang calon masih sama-sama berpeluang memenangkan kontestasi. 

Mengacu pada hasil surveinya, jika suara 25,4% pemilih itu terdistribusi secara proporsional maka pasangan DJOSS bakal menang. Namun, jika suara 25,4% pemilih itu terdistribusi ke pasangan Eramas maka kandidat nomor urut 1 tersebut yang akan menang. Begitu pula sebaliknya. 

Sebelumnya, pengamat politik Universitas Al Azhar Ujang Komaruddin mengatakan, peluang kedua pasangan untuk memenangi kontestasi sama besar.  “Kemenangan akan ditentukan bagaimana mesin partai dan tim bekerja untuk meraih simpati rakyat Sumut dan menggarap suara dari akar rumput,” ujarnya. 

—Rappler.com