Sandiaga: Kartu Jakarta Jomblo terlalu dilebih-lebihkan di media sosial

JAKARTA, Indonesia - Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno, menilai reaksi publik terlalu berlebihan menanggapi wacana Kartu Jakarta Jomblo (KJJ). Saking berlebihannya, pembahasan wacana tersebut sudah di luar konteks.

Sandiaga menjelaskan ide Kartu Jomblo Jakarta (KJJ) merupakan respons Anies Baswedan terhadap aspirasi tim media opini.id. Akhirnya respons tersebut menjadi viral di dunia maya.

Ketika Sandiaga menyampaikan kepada media sebelumnya, program tersebut akan diwujudkan dalam bentuk kartu khusus, Anies justru menanggapi wacana tersebut sebagai candaan dan tidak ada keseriusan. Ketika ditemui saat penetapan sebagai Gubernur oleh Komisi Pemilihan Umum DKI, mantan Menteri Pendidikan itu mengatakan program untuk para jomblo merupakan turunan program lainnya seperti OKE OCE (One Kecamatan One Centre).

Lalu, bagaimana respons Sandi? Kali ini dia sepakat dengan Anies. Dua program andalan mereka yakni OKE OCE dan pembiayaan pembelian rumah dengan DP 0 rupiah diprediksi bisa membantu kaum jomblo menemukan pasangan. Atau bagi yang sudah siap melangkah ke jenjang yang lebih serius, bisa menjadi modal untuk meyakinkan calon mertua.

“Program ini dibahas secara intens di media sosial sehingga sangat hingar bingar. Ini terjadi setelah Pilkada berakhir, di mana sebagian orang ada yang masih galau, sehingga membawa isu ini taken out of proportion,” kata Sandi ketika menghadiri acara Rappler Talk di kantor Rappler pada Senin sore, 15 Mei.

Terkait dengan apakah program bagi warga DKI yang masih jomblo termasuk prioritas Pemprov ke depannya, mantan Ketua KADIN itu menyerahkan kepada tim sinkronisasi yang telah dibentuk Anies-Sandi. Tim tersebut diketuai oleh mantan Menteri ESDM, Sudirman Said.

“Biar Pak Sudirman yang nanti mengerucutkan program kerja tersebut. Tapi, kami memiliki tiga prioritas yakni mencarikan pekerjaan yang lebih baik, biaya hidup di Jakarta semakin terjangkau dan menyediakan pendidikan untuk generasi mendatang,” kata dia.

Selain Sudirman, anggota tim sinkronisasi lainnya yaitu Edriana Noerdin, Eko Prasojo, Fadjar Pandjaitan, Rikrik Rizkiyana, Marco Kusumawijaya, Mohammad Hanief Arie Setianto dan Untoro Hariadi. Edriana adalah spesialis gender di beberapa organisasi internasional, Eko merupakan mantan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Kemudian, Fadjar pernah menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Barat periode 2004-2008, Rikrik adalah wirausaha sosial dan pengacara, serta Marco yang dikenal sebagai peneliti dan perencana tata kota. Terakhir, Hanief adalah akuntan dan staf pengajar di Universitas Janabrada Yogyakarta.

Pada Senin kemarin, tim sinkronisasi diumumkan secara resmi di Rumah Partisipasi di area Menteng. Mereka bertugas untuk menerjemahkan semua masukan dan ide dari warga Jakarta yang dihimpun melalui Rumah Partisipasi. Selain tim sinkronisasi, Anies-Sandi juga membentuk tim pengarah dan pakar.

Tim pengarah akan bekerja memperjuangkan aspirasi dari berbagai kalangan, sedangkan tim pakar membantu penyusunan program-program mereka. - Rappler.com