Mengulik proses panjang menuju 'Gerbang Neraka'

JAKARTA, Indonesia —Dalam menghasilkan sebuah karya film butuh melewati proses berlapis-lapis. Tak beda dengan film Gerbang Neraka yang sebelum tayang harus melalui berbagi riset dan diskusi.

Meski telah selesai proses syuting sejak akhir 2015, film bergenre horror adventure ini baru bisa tayang hampir dua tahun kemudian, setelah melalui pergantian judul. Awalnya judul yang dipakai adalah Firegate: Piramid Gunung Pandang yang akhirnya diubah menjadi Gerbang Neraka.

Robert Ronny selaku produser Gerbang Neraka mengatakan terjadi perubahan judul akibat permintaan dari distributor luar negeri.

“Dulu rencananya kita tayang di luar negeri terlebih dahulu, tapi karena ada beberapa pertimbangan setelah berbicara dengan distributor asing, akhirnya tayang di Indonesia dulu dengan judul berbahasa Indonesia,” jelas Ronny pada konferensi pers yang digelar di XXI Lounge Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, pada Senin, 21 Agustus 2017.

CGI memakan waktu

Film ini bertumpu pada misteri yang disembunyikan pada Piramida Gunung Padang, Cianjur. Karena situs tersebut tidak dapat dimasuki siapapun, maka film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini banyak menggunakan Computer Generated Imagery (CGI) dalam menggambarkan suasana dalam piramida tersebut.

Faktor ini pula yang membuat proses pasca produksi film ini begitu lama. Menurut Ronny, dibutuhkan kurang lebih satu tahun untuk merampungkan CGI-nya dan baru selesai pada Februari 2017 lalu.

'GERBANG NERAKA'. Produser, sutradara dan pendukung film 'Gerbang Neraka' saat gelaran konferensi pers, Senin, 21 Agustus. Foto oleh Valerie Dante/Rappler

'GERBANG NERAKA'. Produser, sutradara dan pendukung film 'Gerbang Neraka' saat gelaran konferensi pers, Senin, 21 Agustus.

Foto oleh Valerie Dante/Rappler

Rizal mengatakan sekitar 35% dari produksi film Gerbang Neraka menggunakan bantuan CGI.

“Yang sulit karena situs Gunung Pandang sendiri belum dibuka sehingga kita harus menerka-nerka kira-kira bentuknya seperti apa. Inilah yang akan kita bikin dengan CGI, termasuk semua adegan yang berlokasi di dalam Gunung Pandang sudah pasti CGI,” tutur Rizal.

Menurut Rizal, proses CGI terbilang lama karena dalam industri film Indonesia, CGI telah menjadi sesuatu yang sifatnya mewah dalam artian memerlukan banyak tenaga, waktu, dan biaya besar.

Proses riset pra produksi

Karena berdasarkan artefak atau situs yang benar-benar ada, Ronny sebagai penulis skenario turut melakukan riset yang selama 6 bulan sebelum memulai produksi film. Meski begitu, ia juga sadar bahwa film Gerbang Neraka merupakan film fiksi sehingga tidak memerlukan fakta-fakta yang terlalu detil. Ronny mengaku omongan karakter Julie Estelle yang berperan sebagai arkeolog dalam film ini semua berdasarkan fakta.

Julie pun menyanggah dengan mengatakan bahwa ia tertarik untuk main dalam Gerbang Neraka karena semuanya berbasis fakta.

“Skenarionya berdasarkan fakta dan riset yang memang sudah ada, itu membuat aku merasa film ini adalah sesuatu yang berbeda,” ungkap Julie saat diwawancarai usai konferensi pers.

Gerbang Neraka bercerita mengenai Tomo Gunadi (Reza Rahadian), seorang wartawan tabloid mistis yang mendapatkan penugasan untuk meliput Piramida Gunung Padang dan harus bekerjasama dengan Guntur Samudra (Dwi Sasono), seorang paranormal. Kedua lelaki ini pergi ke lokasi yang dituju dan bertemu dengan Arni Kumalasari (Julie Estelle) yang merupakan kepala tim arkeologi yang ditunjuk oleh Presiden RI.

Ketiga orang dengan latar belakang berbeda ini kemudian mengalami banyak kejadian mistis yang terjadi di situs piramida tersebut. Yang tidak mereka sadari adalah piramida tersebut merupakan sebuah ‘penjara’ bagi sebuah kekuatan kuno yang dapat menghancurkan dunia.

Gerbang Neraka akan rilis di bioskop Indonesia pada 20 September mendatang.

—Rappler.com